Candi Pari, terletak di tengah pemukiman yang cukup padat.

Candi Pari dan Sahroni

Saat itu, malam terakhir di tahun 2014. Ketika sebagian warga desa Candi Pari, Porong, Kabupaten Sidoarjo, siap mengisi pergantian tahun dengan gegap gempita, tak demikian Sahroni. Pria tambun berkulit sawo matang itu memilih melakukan rutinitasnya. Yang lebih sunyi.

Selepas isya, dibukanya gerbang Candi Pari. Suara engsel pagar besi hijau sekilas terdengar menyayat. Mengiringi langkah kakinya. Dengan tenang, Sahroni memasuki bagian dalam candi.

Di dalam telah siap berbagai instrumen ritual. Sejumlah dupa siap dibakar sebagai pembuka “pintu” menuju alam lain. Sementara artefak-artefak lain, beberapa arca tanpa kepala dan peripih (kotak batu berisi sembilan ruang) dibiarkan terdiam. Suasana seketika hening. Matanya terpejam. Aura candi sedang baik.

Dalam sekejap, pikiran dan batinnya sejenak tercerabut dari raganya. Dua sosok tak kasat mata kembali menyambutnya. Yang satu berperawakan tinggi, besar dan beraura bersih. Satunya lagi kurus kerempeng, sosok pelaku tirakat pada masanya. Keduanya bersifat baik.

Malam itu, Sahroni mendapatkan petunjuk penting. “Saya diberi petunjuk supaya mengendalikan nafsu-nafsu pribadi,” katanya. “Juga diberi pesan tentang sabar dan syukur.”

* * *

Candi Pari Sidoarjo

Seorang warga melintas di jalan kampung yang membelah lahan padi di Desa Candi Pari, Porong, berlatar Gunung Penanggungan (kanan) dan Gunung Arjuno-Welirang (kiri) di kejauhan. Desa ini merupakan daerah lumbung padi pada masa Majapahit sampai sekarang.

Alkisah, musibah gagal panen padi pernah melanda wilayah Majapahit. Di tengah paceklik pangan, raja Majapahit kala itu, Hayam Wuruk, mendapat laporan tentang daerah lumbung padi di desa bernama Kedungkras.

Tanpa banyak cakap, sang raja mengincar desa itu. Ia pun bergegas mengutus prabunya untuk menarik upeti. Beruntung, niatnya disambut baik penduduk Kedungkras. Dua pasang suami istri pribumi membantunya menyiapkan lahan persawahan dan mengurus budidayanya.

Adapun hasil panen sebelum diangkut dan dikirim ke pusat kerajaan, disimpan dulu di suatu desa tak jauh dari Kedungkras. Yang kini menjadi tempat berdirinya Candi Pamotan (Pamotan dalam bahasa Jawa berarti tempat pemuatan) yang sudah runtuh, bersama dua reruntuhan candi di sekitarnya.

Sebagai balas jasa kedua pasangan tersebut, lewat sang prabu, sang raja menawarkan mereka pekerjaan dan tempat tinggal di lingkungan keraton Majapahit. Jaka Walang Tinunu dan istrinya, Nyai Loro Walang Sangit bersedia diboyong. Namun pasangan lainnya, Jaka Pandelegan dan Nyai Loro Walang Angin menolak tawaran tersebut.

Tak dinyana, sang raja sedikit murka. Diutusnya sang prabu untuk menangkap paksa pasangan suami istri yang dianggapnya membangkang tersebut.

Setibanya di Kedungkras, sang prabu bersama bala tentaranya bersiap menangkap paksa mereka berdua. Jaka Pandelegan yang mengetahui rencana sang penguasa, segera bertindak.

Sebelum ditangkap, ia meminta izin untuk pergi ke lumbung padinya sejenak. Namun seketika itu Jaka Pandelegan menghilang tanpa bekas. Mengikuti sang suami, Nyai Loro Walang Angin juga berpura-pura minta izin untuk pergi ke sumur, yang terletak di selatan lumbung padi suaminya. Sambil membawa kendi, beralasan untuk bekal perjalanan. Namun seketika itu pula, Nyai Loro Walang Angin menghilang tanpa jejak.

Kemurkaan penguasa Majapahit melunak seketika. Sebagai balas jasa dan pengakuan atas kesaktian Jaka Pandelegan dan istrinya, atas usulan sang prabu, dibangunlah dua buah candi secara berdekatan. Dalam jarak 50 meter, Candi Pari di utara dibangun di bekas lumbung padi tempat Jaka Pandelegan menghilang. Candi Pari dijadikan nama desa, menggantikan nama Kedungkras. Sedangkan Candi Sumur dibangun di selatan, bekas sumur tempat Nyai Loro Walang Angin menghilang.

Candi Pari Sidoarjo

Tempat peribadatan di dalam candi. Tampak tonjolan dinding bekas pelinggihan arca berukuran besar, arca-arca tanpa kepala, kotak peripih, dan dupa. Terlihat pula dua di antara enam lubang sirkulasi udara yang melekat di dinding candi.

Dua candi yang dibangun berdekatan itu pun memberi penafsiran tersendiri. Dari segi simbol, Candi Pari melambangkan kesuburan. Sedangkan Candi Sumur melambangkan pengairan, yang menyebabkan persawahan di sekitarnya tak pernah kering.

Sementara, Sahroni menafsirkan lain. “Candi Pari ini melambangkan laki-laki,” tuturnya merujuk sosok Jaka Pandelegan. “Sedangkan Candi Sumur melambangkan perempuan, Nyai Loro Walang Angin.”

Yang pasti, di antara lima candi di wilayah Porong, Candi Pari adalah satu-satunya candi yang kondisinya masih baik dan bentuk dasarnya utuh. Selain di Porong, juga terdapat Candi Dermo di Wonoayu, Candi Medalem di Tulangan, dan Candi Tawang Alun di Sedati.

Karenanya, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, memprioritaskannya untuk diselamatkan. Candi Pari dipugar 13 September 1994 dan selesai tahun 1999. Pada tanggal 1 Mei 2001, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, I Gede Ardika, meresmikan purna pugar candi yang dibangun tahun 1317 masehi itu.

* * *

‘Kamu ibarat intan yang tertutup lumpur. Bersabarlah, suatu saat akan ada orang yang menemukanmu, membersihkanmu dari lumpur, dan memolesmu.’  Nasihat ini disampaikan dalam bahasa Jawa oleh seorang supranaturalis asal Krian kepada Sahroni, sesaat sebelum ia menikah.

Nasihat itu begitu membekas. Sekaligus menghibur, memberinya kepercayaan diri. Sejak memilih merawat candi pada 1994, tak sedikit yang mencibir dan menentang profesinya. “Saya dulu dikenalnya sebagai tukang sapu candi.” Profesi yang diragukan memberikan penghidupan layak. Bahkan diragukan untuk memikat jodoh. Cukup dimaklumi keraguan itu, apalagi dengan hanya upah seribu rupiah per hari saat itu.

Tak cuma itu. Tentangan terbesar berasal dari keluarga besarnya. Terutama dari kakeknya, seorang tokoh agama yang cukup disegani di kampung. Sebabnya, Sahroni yang anak seorang tukang kayu itu merawat dan menjaga bangunan peninggalan non muslim.

Tapi ia sudah bertekad. Merawat dan menjaga candi adalah panggilan jiwanya. Ia akan tekun merawat candi itu hingga akhir hayat. “Yang penting iman saya tetap kepada Allah,” katanya sambil menelunjuk ke atas. “Kalau bukan saya yang merawat, siapa lagi?”

Candi Pari Sidoarjo

Sahroni di ruang kerjanya.

Perlahan tapi pasti. Semesta seakan membantunya membuktikan diri. Tahun 1998, di usianya yang ke-25, jodohnya tiba. Seorang perempuan asal Surabaya bersedia menjadi pendamping hidup pria lulusan SMP itu. Sang istri yang sempat memintanya beralih profesi di awal pernikahan, perlahan berbalik memberikan dukungan. Dukungan moral yang bertambah setelah kehadiran tiga anaknya.

Pada tahun 2008, tahun ke-14 pengabdiannya sebagai juru pelihara candi, Sahroni resmi diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Pengangkatan yang membuatnya semakin tenang. “Gajinya tidak besar, tapi pasti,” imbuhnya.

Tak hanya itu, hingga kini Sahroni juga dipercaya BPCB Jawa Timur menjadi koordinator lapangan juru pelihara candi dan cagar budaya di Sidoarjo. Termasuk membawahkan dua juru pelihara lainnya di Candi Pari, yang bertugas sesuai sif masing-masing.

* * *

Suatu hari, beberapa bulan lalu, pernah rombongan pelajar sebuah sekolah menengah di Surabaya datang berkunjung ke Candi Pari. Seturunnya dari bus, beragam komentar keluar dari mulut masing-masing.

Yah, cuma begini doang? Begitu yang banyak terdengar oleh telinga Sahroni. Ungkapan kekecewaan, karena objek yang dikunjungi dianggap tak se-fotogenik Borobudur atau Prambanan. Sahroni hanya bisa mengelus dada. “Padahal candi tidak hanya dilihat dari tampak luarnya saja,” katanya, “tapi nilai sejarah dan proses pembuatannya.”

Itulah mengapa Sahroni setuju dengan pernyataan turis Jepang empat tahun lalu. Dalam kunjungannya ke candi bergaya campuran Jawa-Champa itu, si turis memberikan kesimpulan. “Saya lebih mengagumi dan memuji orang zaman dahulu daripada orang zaman sekarang,” ujarnya seperti ditirukan Sahroni.

Meski sempat tersinggung (karena merasa sebagai orang zaman sekarang), tapi penjelasan si turis membuatnya mengangguk. Bahwa, orang dahulu dengan keterbatasan alat dan bahan, malah mampu menyusun batu bata bertumpuk itu tanpa perekat. Membangun candi yang besar, yang orang sekarang pun belum mampu membuatnya.

Semangat akan nilai dan esensi yang demikianlah, yang selalu ditularkan Sahroni kepada siapa pun. Khususnya kepada pengunjung candi.

Candi Pari Sidoarjo

Batu berserakan di barat candi. Menurut Sahroni, reruntuhan tersebut merupakan pondasi gapura, yang satu sisinya kini dibangun pos jaga tempatnya bertugas.

Saking sayangnya dengan Candi Pari, sosok yang bersahaja ini sempat membuat kebijakan cukup ekstrim. “Dulu awalnya saya melarang pengunjung masuk dan menyentuh candi,” tukasnya. Papan rambu larangan pun pernah ia pasang. Ia khawatir alas kaki pengunjung merusak lantai candi. Belum lagi ancaman vandalisme dari oknum pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Tapi kebijakan itu malah mendapat protes keras dari tetangganya. Dalam bahasa Jawa, mereka mencibir, “Memang ini candimu sendiri apa!” Rambu larangan yang baru dipasangnya pagi hari pun terimbas. “Siangnya sudah hilang. Diambil orang.”

Sejak saat itu, ia memilih berbicara baik-baik kepada setiap pengunjung. Mengedukasi meski singkat, saat pengunjung membubuhkan data diri di buku tamu. Sekarang, pengunjung diperbolehkan masuk. “Yang penting hati-hati dan sopan,” pesannya.

* * *

“Saya tidak boleh mengeluh,” ucapnya sesaat, setelah bercerita tentang petunjuk yang didapatkannya dari ritualnya. Kendati dirundung masalah atau tekanan apapun, tak ada kamus mengeluh baginya. Khususnya menyangkut pekerjaan yang dianggapnya amanah itu.

Masih ada harapan baginya terhadap Candi Pari dan sekitarnya. Sahroni melihat ada potensi pengembangan daerah kelahirannya sebagai desa wisata. Program yang sebenarnya pernah diwacanakan Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sidoarjo di awal 2014.

Dalam program tersebut, rencananya pemukiman di sekitar candi akan disterilkan. Warga dipindah ke pemukiman baru yang layak. Mereka mendapatkan ganti berupa lapak untuk usaha. Baik berupa kuliner, kerajinan tangan, tempat parkir, atau pemandu wisata. Menurut Sahroni, meskipun warga sempat panik dan cemas akan isu tersebut, sejatinya ada rasa optimis dan senang. Karena diharapkan dapat meningkatkan perekonomian mereka.

Tapi wacana tinggal wacana. “Tak ada kabar kelanjutannya lagi,” ujarnya pasrah.

Namun, meskipun belum mampu mencuri hati pemerintah daerah, setidaknya Candi Pari dan kedua sosok penunggunya, sudah lama mencuri hati Sahroni. Juru peliharanya yang paling setia. (*)


*) “Artikel ini pernah diterbitkan di Phinemo.com

Foto sampul:
Candi Pari, terletak di tengah pemukiman yang cukup padat.

59 comments

  1. Nasirullah Sitam · April 29, 2016

    Ada banyak cerita dibalik pembuatan candi, di Jogja ada banyak candi kecil semayam tempat untuk semedi dll. Dan sebagian besar tinggal reruntuhan, tak terawat dengan baik 😦

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · April 29, 2016

      Wah kebanyakan kasusnya begitu ya? Meskipun tinggal reruntuhan, tapi tak segera diselamatkan. Eman ya 😦

      Suka

  2. Yudi · April 30, 2016

    sebuah cerita yang menarik dengan sudut pandang yang menarik.
    saya setuju dengan sahroni, bahwa, sekecil apapun peninggalan masa lalu itu wajib di jaga. sebenarnya, bukan hanya nilai historisnya, akan tetapi, cerita dibalik itu.

    satu hal yang sangat menjual dalam sebuah objek wisata.. Cerita 😀

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Iya Mas Yudi, saya juga sepakat dengan beliau. Hehe iya, percaya tidak percaya itu adalah bumbu lokal yang membuat sedap dan menarik perhatian 🙂

      Suka

  3. Hastira · April 30, 2016

    inilah yang aku suka, sejarah tentang candi. kadang penasaran dibalik cerita adanya candi

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Iya Mbak, saya pun jadi makin penasaran cerita-cerita rakyat atau sisi lain di candi-candi lainnya di Indonesia 🙂

      Suka

  4. @eviindrawanto · April 30, 2016

    Saya membayangkan mengikuti Pak Sahroni masuk ke dalam Candi Pari. Mungkin saya tidak akan mengikuti ritual nya tapi Duduk diam diam menghayati suasananya. Kapan ya bisa menemukan suasana seperti ini?

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Ibu mungkin bisa mulai coba ke candi-candi atau tempat religi di Jawa misalnya, cari juru kuncinya dan bisa tahu jadwal atau kebiasaan ritual yang dilakukannya 🙂

      Suka

  5. mawi wijna · April 30, 2016

    Cerita yang menarik Qy dari sudut pandang seorqng juru pelihara. Apa cerita Jaka Walang Tinunu dan Nyai Lara Walang Sangit itu juga dari penuturan Pak Sahroni? Dulu aku pernah mau mereplika usaha orang zaman dulu dengan berjalan kaki dari Stasiun Porong ke Candi Pari, tapi gagal karena ternyata jauh banget jaraknya.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Maturnuwun Mas. Iya Mas, beliau menuturkan singkat terus saya rapikan rekonstruksinya. Walah, dari stasiun Porong lumayan jauh Mas ke desa Candi Pari, lebih dari 2,5 km wkwkwkwk 😀

      Suka

  6. Prasetyo · April 30, 2016

    Jadi berasa menginjakkan kaki di situ… om pindah alamat baru yah hehe, kemaren sempat gak nemu rumahnya 😀

    Suka

  7. Imam · April 30, 2016

    keren, memang, sebuah peninggalan bersejarah harus dinilai dari esensinya

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Inggih Mas Imam, ini bentuk edukasi yang harus ditularkan kepada kita, supaya ada kepedulian untuk turut menjaga 🙂

      Suka

  8. Donna Imelda · Mei 2, 2016

    Baca ini, aku resapi banget. Setuju dengan kalimat ini.
    “Sahroni hanya bisa mengelus dada. “Padahal candi tidak hanya dilihat dari tampak luarnya saja,” katanya, “tapi nilai sejarah dan proses pembuatannya.”
    Karena makna sebuah perjalanan bukn hanya singgah dan membawa pulang foto, tapi jauh dari itu. Ada makna, pengertian, filosofi, sejarah dan lain-lain di balik semua yang kasat mata

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Iya Mbak, baru kali ini saya ketemu juru pelihara candi yang begitu pro aktif menyampaikan wawasan dan semangat menularkan rasa peduli pada benda cagar budaya. Saya hanya berharap, semoga ketekunan beliau segera disambut dengan program pemerintah yang pernah diwacanakan 🙂

      Suka

  9. cumilebay.com · Mei 2, 2016

    Alasan apa kok Jaka Pandelegan ngak mau di boyong ke istana ??

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Secara sederhana, warga pribumi tidak mau singgah di istana karena lebih memilih tinggal di kampung halamannya sendiri, lebih mudah mengawasi lahan sawahnya. Namun dianggap pihak raja sebagai pembangkangan karena tidak patuh, jadilah mereka menghilang (moksa).

      Suka

      • cumilebay.com · Mei 14, 2016

        Banyak yaa cerita2 menarik ttg negeri kita ini, namun sayang kalo ngak ada yg ikut melestarikan bakal hilang begitu saja #Sayang

        Suka

  10. inggit_e · Mei 2, 2016

    Meskipum saya bukan Syahroni, saya juga kecewa jika mendengar kalimat “yah, cuma begini doang?”

    Gemes rasanya melihat pemikiran seperti itu, melihat suatu objek dari wajahnya saja. Kapan pemuda Indonesia bisa mencintai sejarahnya ya…hmmm

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 2, 2016

      Iya Mas, saya ikut kasihan sama beliau, beliau butuh orang-orang yang juga sevisi tentang kepedulian terhadap benda cagar budaya 🙂

      Suka

  11. bersapedahan · Mei 4, 2016

    wah hebat ya pak syahroni ini .. begitu totalitas ..
    anak2 sekolah jaman sekarang .. eh dari jaman dulu juga deng … tidak suka sejarah … 😦

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 4, 2016

      Iya Om, keihklasannya mengemban amanah sebagai juru pelihara patut diteladani. Hehehe, tidak seluruhnya, tapi memang cukup membuat prihatin 🙂

      Suka

  12. Elisabeth Murni · Mei 6, 2016

    Kisah yang menarik. Saya selalu suka dengan kisah candi-candi. Dan sampe sekarang belum kesampean buat mengunjungi candi-candi di Jawa Timur. Penasaran dengan rancang bangunnya yang beda dengan candi-candi jawa tengah

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 6, 2016

      Iya Mbak, saya penasaran juga hehehe. Semoga segera kesampaian ya Mbak, siapa tahu bisa jalan bareng 😀

      Suka

  13. omnduut · Mei 6, 2016

    Setiap mampir ke sini, pasti takjub sama foto2nya yang bening dan cerah. Di Jawa banyak bener ya candi. Di Palembang kagak ada hehehe atau udah hancur kayaknya.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 6, 2016

      Cuaca saat ke candi ini sedang cerah Om, jadi sangat membantu sekali pengambilan foto tanpa editing yang berlebihan hehehe. Iya Om, kan banyak kerajaan juga, salah satunya Majapahit yang membuat candi ini sebagai pengenang pada masanya.

      Hehehe, padahal di Sidoarjo juga banyak yang hancur karena BPCB Trowulan punya prioritas memperbaiki yang masih punya bentuk dasar dan jelas wujudnya.

      Suka

  14. febridwicahya · Mei 8, 2016

    Setiap candi menyimpan banyaak sejarah ya :’)

    Hhihi Pak Syahroni keren banget itu pengetahuan sejarahnya ._. ampun-ampunan deh, kalah aku mah ._. bahkan beliau mau untuk merawat sejarah tersebut :’

    Suka

  15. Johanes Anggoro · Mei 9, 2016

    saya kebetulan juga baru saja singgah di candi pari sabtu lalu mas, cerita tentang asl usul candi pari dan sumur saya dengarlangsung dengan simbah yg jaga di candi sumur (lupa namanya) hehehe menarik ternyata peninggalan majapahit juga tersebar di sidoarjo ternyata

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 11, 2016

      Kalau yang di Candi Sumur memang sudah agak sepuh hehehe. Iya Mas, karena daerah di sekitar situ dijadikan lumbung padi Majapahit pada masanya 🙂

      Suka

  16. Adis Takdos · Mei 9, 2016

    Bukan cuma candi sih sebenernya, banyak juga prasasti yang gak keurus dan gak ada yang urus kayak di kebanyakan daerah Sumatera 😦

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 11, 2016

      Iya Mas, pekerjaan rumah yang besar, supaya tidakk hanya yang berkecimpung di arkeologi yang peduli, tapi juga masyarakat umum 🙂

      Suka

  17. winnymarlina · Mei 10, 2016

    candi oari mirip kayak muara takus ya rifqi

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 11, 2016

      Saya belum pernah ke Candi Muara Takus, Mbak, tapi kalau dilihat dari fotonya mungkin ada sedikit kesamaan soal tampilan warna. Cuma kan Muara Takus itu peninggalan Sriwijaya yang Buddha, Candi Pari itu peninggalan Majapahit yang Hindu 🙂

      Suka

  18. Happy Fibi · Mei 15, 2016

    Woh, baru tahu di Sda ada candi ini mas -,- (saya ke mana aja sih – -“)
    Sek, tak googlinge tempatnya.
    Makasih infonya mas ^_^

    Suka

  19. Gara · Mei 15, 2016

    Uuuuh ini Pak Jupel yang legendaris, yang malah saya sendiri lupa bertanya nama beliau (mesti belajar lagi untuk jadi seorang penulis yang baik dan lengkap *yosh!). Terima kasih sudah banyak mengulas tentang beliau Mas, memang dedikasi beliau kelihatan sekali dari semangat ceritanya, dari pesan-pesannya yang disampaikan pada pengunjung untuk selalu menghormati candi. Bagi saya ini sisi humanis dari penduduk di sekitar candi, yang hidup berdampingan dan mengisi kehidupan dari monumen megah yang ada di dekat mereka.

    Mana siswa yang bilang kalau Candi Pari “cuma segini”? Biar tak tampol *kesel.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 17, 2016

      Inggih Mas, hehehe, saya pun terinspirasi buat ke Candi Pari juga karena baca tulisan Mas Gara kok, lalu ada ide buat nulis dari sisi juru peliharanya 🙂

      Hahaha, ngendon di candi Pari aja Mas, siapa tahu bisa ketemu sama siswa macam gitu 😀

      Suka

  20. Hendi Setiyanto · Mei 18, 2016

    Aku baca sebelumnya di blog mas Gara, malah bisa tau kalau ada relief kelinci bulannya.

    Suka

  21. evrinasp · Mei 19, 2016

    di Sidoarjo ya, cerita Majapahit selalu menarik hati, waktu ke Mojokerto saya sempat ke pemandiannya ara putri kerajaan Majapahit berbentuk kolam besar, bahannya sama dari bata merah, kerajaan Majapahit terkenal kebesarannya

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 19, 2016

      Iya Mbak, cuma memang jangkauan kebesarannya masih diragukan karena yang dimaksud nusantara belum berarti seluruh negeri ini 🙂

      Suka

  22. Mesra Berkelana · Mei 19, 2016

    Di Sidoarjo juga ada candi. Harusnya bangunan-bangunan gt perlu dapat perhatian juga dr pemerintah biar terawat dan jadi bukti buat anak cucu. Kalau sekedar belajar dr buku sejarah-sejarah kdg terkesan bosan.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Mei 22, 2016

      Iya Kak, alasan klasik sebenarnya adalah anggaran biaya seperti yang sering disampaikan pemerintah. Di luar itu, ya tentu heritage masih kalah prioritas dibandingkan anggaran untuk pembangunan yang lebih cepat menjanjikan.

      Suka

  23. cumilebay.com · Juni 7, 2016

    Selamat menjalan kan ibadah puasa kak …
    Aku menanti tulisan terbaru nya hahaha #EhGimana

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Juni 9, 2016

      Selamat menjalankan puasa juga Om Cumi hehe. Sabar ya Om, saya juga sudah gatal untuk nulis, tapi semoga memaklumi prioritas saya untuk dua bulan terakhir ini, demi tugas akhir Om 😀

      Suka

  24. Pena Biru · September 20, 2016

    Akhirnya dituliskan sehingga perjalanan tidak menguap begitu saja 🙂 good job Pak

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · September 20, 2016

      Iya Fit, saya memilih menuliskan buat kontribusi ke Phinemo dulu, baru direpost di sini hehe. Suwun yaa.

      Suka

  25. Avant Garde · September 21, 2016

    ini seberapa jauh dari lokasi lumpur lapindo mas ? aku baca porong malah kebayang musibah lumpur itu

    Suka

  26. imamalavi · Desember 11, 2016

    wacana tinggal wacana :((
    btw tempatku tinggal ada candine tapi cuma reruntuhan hahaha makasih dah dilist mas!

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Desember 16, 2016

      Hahaha, jangan-jangan itu gara-gara Ima panggil si ayam buat kukuruyuk sebelum fajar tiba, sehingga Bandung Bondowoso gagal menyelesaikan candinya yang utuh? Bahahaha

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.