papanpelangi.me

Resolusi!

Malam itu di warung lalapan depan kos. Saya baru saja kelar yudisium sarjana saat itu.

Saya dan kedua orang tua tengah sibuk melahap makanan lalapannya masing-masing. Sesekali diselingi obrolan tentang masa depan saya, memilih karir atau melanjutkan studi magister terlebih dahulu. Prinsip Bapak adalah mana yang lebih dulu berpeluang, ambil saja.

Sempat jeda sejenak, tiba-tiba Bapak nyeletuk, “Sudah ada yang nungguin, kah?” Saya kaget. Mulut menganga. Melongo. “Nungguin gimana maksudnya?” saya balik bertanya.

Bapak tertawa kencang penuh goda. “Ya… Barangkali sudah ada yang nungguin.” Lalu dia melanjutkan makannya dengan lahap. Menuntaskan sisa-sisa lauk terakhir.

Seketika saya paham yang dimaksud. “Oalah, belum, Pak. Belumlah.” Di tengah mengunyah makanan, masih sempatnya beliau bertanya pendek, memastikan, “Belum?”

Agak tergagap, saya menjawab sedikit lantang, “Belum! Belum! Masih kepengen keliling dulu, cari pengalaman dulu.” Saya tercekat.

Di luar dugaan, Ibu ikut nimbrung. “Pokoknya, kalau bisa sebelum 30 tahun harus sudah menikah. Kamu sekarang kan sudah 25 tahun,” ujar Ibu saya datar. Tapi tegas.

Bapak hanya senyum-senyum saja melihat ekspresi wajah saya yang kaget. Saya menunda sejenak melahap lalapan ayam yang tinggal separuh di atas piring.

Lalu saya melempar pandang, menatap gemerlap lampu Kota Batu di kejauhan –kosan saya memang menghadap ke barat, terlihat sawah dan gemerlap kota Batu. Perlahan pandangan mengabur dan samar. Membatin, kerja dulu atau lanjut S2 dulu?

Atau, nikah dulu? Eh, tapi sama siapa?

Ah, sudah bertambah lagi resolusi di tahun-tahun selanjutnya. Resolusi jangka menengah, bisa dibilang begitu. Bukan resolusi jangka panjang.

Iya sih, usia saya sudah seperempat abad. Ah, apakah sudah sedemikian cepat waktunya?

* * *

Lembah Kijang, Gunung Arjuno jalur Tretes, Pasuruan

Lembah Kijang, Gunung Arjuno jalur Tretes, Pasuruan

Sebenarnya, tahun 2016 lalu adalah tahun di mana saya meraih cukup banyak pencapaian. Semuanya berkat kedua orang tua saya.

Tahun 2016, nyaris tujuh tahun persis, akhirnya saya resmi menggondol titel sarjana pertanian. Pencapaian yang membuat kedua orang tua saya terharu. Kelegaan saya adalah melihat mereka tersenyum bahagia penuh syukur. Anak sulungnya yang bandel ini akhirnya lulus juga.

Di sela sibuknya menyelesaikan tugas akhir, saya masih sempat-sempatnya uklam-uklam (bahasa walikan khas Malang, artinya jalan-jalan).

Saya masih sempat sekali mendaki gunung sebelum pertengahan tahun 2016. Akhir bulan Maret, tepatnya. Saya mendaki Gunung Welirang bersama teman-teman komunitas. Sebagian lagi masih kuat mendaki Gunung Arjuno, sebelum ke Welirang.

Dari atas puncak Welirang, kami diberikan pemandangan mengagumkan. Matahari terbit seakan menyembul dari balik gulungan awan tipis bagaikan kapas.

Tak hanya itu. Hijaunya padang rumput di areal perkemahan Lembah Kijang juga menyegarkan. Kami bagaikan gembala yang diawasi tebing cadas puncak Ogal-Agil Arjuno nan runcing.

* * *

Menikmati pagi yang agak sendu saat gerhana matahari di Bukit Sidengkeng, Telaga Warna, Dieng

Menikmati pagi yang agak sendu saat gerhana matahari di Bukit Sidengkeng, Telaga Warna, Dieng

Di awal bulan sebelum pendakian tersebut, saya menemani teman saya penelitian tentang kentang di tiga kabupaten: Brebes, Banjarnegara, dan Wonosobo. Sepuluh hari perjalanan. Semacam road trip, tapi tujuannya untuk penelitian. Dua boks sterefoam berukuran besar, satu boks sterefoam berukuran sedang berisi puluhan sampel tanah dan akar adalah oleh-oleh kami.

Tapi kami masih sempat melihat hijaunya kebun teh Kaligua di kaki Gunung Slamet, Paguyangan, Brebes. Juga masih sempat mendaki Sikunir di Dieng, dan melihat gerhana matahari dari atas Bukit Sidengkeng, Telaga Warna, saat pagi hari. Setidaknya oleh-oleh khas Dieng seperti carica juga dibawa pulang selain oleh-oleh sampel tanah.

Di awal bulan September, saya bersama tiga orang teman –yang sama-sama baru lulus- mendaki Gunung Butak. Lagi-lagi gunung menjadi pelampiasan –lebih tepatnya perayaan- atas diraihnya sebuah pencapaian: lulus sarjana. Saya sudah menceritakan pendakiannya di blog ini.

Lalu di bulan Oktober, setelah daftar wisuda di awal bulan, saya berangkat ke Nusa Tenggara Timur di akhir bulan. Rutenya adalah Kupang-Alor-Maumere-Ruteng-Wae Rebo-Labuan Bajo. Waktu yang terbatas membuat saya harus merelakan Sumba, Kelimutu, Larantuka, dan lainnya.

Jelang akhir tahun, saya diajak seorang teman -pengusaha agen perjalanan wisata- jelajah sebagian Bali dan Banyuwangi dalam seminggu. Saya bersyukur dapat melihat banyak hal baru di Bali, juga di Banyuwangi yang selama ini saya belum tahu.

Lalu bagaimana target pencapaian-pencapaian di tahun berikutnya?

* * *

Ada orang bilang, hidup adalah perjuangan...

Ada orang bilang, hidup adalah perjuangan…

Saya ingin kembali mengingatkan petuah Mahatma Gandhi, “Jadilah bagian dari perubahan yang ingin kamu saksikan di dunia ini.”

Setidaknya, saya harus mengubah apa yang belum baik dari diri saya terlebih dahulu.

Sudah jelas terlihat, saya belum terlalu rajin dalam menulis. Saya harus ubah itu. Saatnya harus lebih berani menuntut diri sendiri agar lebih rajin, lebih disiplin, dan lebih konsisten di musim yang baru.

Tahun memang hanyalah angka-angka, yang diisi dengan dua belas bulan Masehi. Tapi, waktu sepanjang 365 hari tidaklah boleh membatasi semangat dan tekad untuk perubahan yang akan dibuat.

Api perubahan akan terus bergulir, walau ‘sang pemilik’ telah bergilir dari monyet ke ayam. Dengan siapa atau apa saya akan berkarya, api semangat tak boleh padam.

Saatnya lebih disiplin dan fokus. Layaknya ayam sebagai makhluk yang pertama bangun dan berkokok di pagi hari, saya harus lebih taat terhadap waktu.

Yang jelas, saya masih ingin terus melakukan perjalanan. Berburu cerita-cerita baru. Mencari petualangan-petualangan baru. Saya mungkin akan mengulangi perjalanan seperti sebelumnya, mereguk hikmah-hikmah yang tak habis di dalamnya.

Tapi saya banyak belajar, bahwa petualangan dan perjalanan bukanlah semata mendaki gunung tertinggi atau menjelajah hutan terlebat.

Bagaimana saya harus bertahan hidup, meningkatkan kualitas hidup, menjadi berguna bagi sesama dan makhluk hidup lainnya sejatinya adalah perjalanan yang penuh petualangan.

* * *

Sesibuk apa pun kita, jangan tenggelam terlalu serius tapi melupakan aspek lainnya yang tak kalah penting. Sesekali bercanda itu sangat perlu (Foto diperankan oleh teman saya)

Sesibuk apa pun kita, jangan tenggelam terlalu serius tapi melupakan aspek lainnya yang tak kalah penting. Sesekali bercanda itu sangat perlu (Foto diperankan oleh teman saya)

Tahun 2017. Tahun ini sebenarnya siap saya hadapi dengan penuh optimis. Saya merasa ini saatnya saya mengejar ketertinggalan-ketertinggalan yang diakibatkan oleh ulah saya sendiri.

Saatnya berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, apa pun pencapaiannya. Saatnya mengejar waktu.

Saatnya harus lebih banyak menulis dan membaca. Termasuk, membaca situasi tak terduga yang penuh kode dan tanda tanya. Seperti, ketika pertanyaan dari Bapak saya di pertengahan bulan Desember lalu sedikit mengusik dan cenderung mengingatkan, “Mas, sudah punya teman perempuan yang dekat sekarang?”

Saya terdiam sejenak. Beliau kembali menambahkan, “Tidak apa-apa, cerita saja. Harus punya rencana dan target ke depannya.”

Mendadak saya teringat akan seseorang. Lalu saya mengucap lirih, “Ada sih… Dulu sering komunikasi.”

Bapak hanya berdeham. “Sekarang masih intens komunikasi?” Saya hanya menggeleng ragu. Maksudnya, tak seintens dulu. Jarang-jarang.

Ah baiklah, perihal jodoh sepertinya sudah harus mulai saya perhatikan.

Kata peramal, tahun ayam api adalah waktu yang tepat bagi kita yang masih single. Tahun ini akan menjadi waktu terbaik untuk menemukan cinta dan membentuk keluarga sendiri. Tahun yang romantis, katanya.

Menemukan cinta mungkin masih bisa di tahun ini. Membentuk keluarga sendiri? Belum dulu sih…

Ah, rasanya saya harus segera meningkatkan resolusi dari 800×600 piksel menjadi resolusi berkualitas setara 4k.

Ehm, nganu, lalu bagaimana dengan resolusimu, kawan? (*)

42 comments

  1. Dewi Nielsen · Januari 2, 2017

    Mbacanya kayak baca novel..enak banget..ngaliiir gitu 🙂 Nulis novel gih mas 😉

    Mas, ada yang nungguin tuh dipojokkan *eh

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Ah, perjalanan masih panjang buat nulis novel Mbak hahaha.
      Eh siapa di pojokan? wkwkwkwk

      Suka

  2. dwisusantii · Januari 2, 2017

    Huaa tulisannya jleb sekalii mas…

    Mungkin seperti yang ingin disuarakan kebanyakan orang, tentang mengejar ketertinggalan yang mungkin diciptakan sendiri, *hiks

    Dan memang, kode yang dikasih sama ibuk, bapak sering terngiang-ngiang terus rasanya. Nggak nguatin. *toss

    Semoga sebelum membagi kebahagiaan dengan (seseorang) nanti, kita sudah penuhh dalam membahagiakan dan membanggakan beliau dulu. Dan mungkin saat-saat ini memang kesempatan yang Tuhan beri untuk itu, ketika waktu kita masih longgar belum fokus ke keluarga.

    *curhat panjang efek terhanyut oleh samaan ceritanya* :’D

    Disukai oleh 2 orang

    • Nasirullah Sitam · Januari 3, 2017

      Mbak Dwi curhat hahahahha
      Entah dimanapun kamu curhat kok ndilalah aku tahu hahahhahahah

      Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Mbak, aku trenyuh baca komentar panjenengan 😦

      Ya begitulah, pokoknya bagaimana caranya membahagiakan orang tua dululah, tabungan akhirat itu 🙂

      Jangan terlalu hanyut mbak, bangkit dan semangat! 😀

      Suka

  3. Fauzi Amiruddin · Januari 2, 2017

    Sarjana udah, nikah aja qy…. hahah

    Disukai oleh 1 orang

  4. insanwisata.com (@InsanWisata) · Januari 2, 2017

    membaca situasi tak terduga yang penuh kode dan tanda tanya.

    Kamu dikode banyak cewe mas? emang traveler teladan di kampus mesti iki. haha.
    iya, mas. mari susun resolusi yang rapi. selain mau traveling ke tempat2 cakep lainnya, masalah karir juga perlu diperhitungkan. mau mapan umur berapa? mau nikah umur berapa? kayanya kita bener2 dikejar masalah umur. andai patokannya bukan masalah umur ya.

    ayo, ambil studi s2 lagi

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Tidaaaak, itu fitnah kalau dikode banyak cewek hahaha. Saya lemah dalam urusan tersebut 😀

      Betul-betul, harus menata target satu per satu agar lebih terarah. Amiiin, yuk! 🙂

      Suka

  5. Silviana Noerita · Januari 2, 2017

    Iyaaa, kalau bisa sih jangan nikah dulu. Laki-laki kan harusnya trengginas, kalau udah benar-benar siap baru budal. 😀
    Tapi tapi tapi katanya teman2 yg udah pengalaman sih, semakin ga berpikir soal nikah, jodoh makin dekat datangnya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Hahaha, trengginas karena kebanyakan makan trengginang 😛

      Itulah, artinya Allah tahu yang terbaik, baik soal waktu dan siapa 🙂

      Suka

  6. yusmei · Januari 2, 2017

    Bisa itu komunikasi diaktifkan lagi sama yang itu Qy hahaha. Selamat menikmati perjalanan di tahun ini…semoga lebih banyak kejutan dan pembelajaraan

    Disukai oleh 1 orang

  7. Gallant Tsany Abdillah · Januari 2, 2017

    selamat Rifqy Faiza Rahman, S.P.
    ditunggu karyanya untuk negeri ya :p
    btw, syarat nikah ki mung kalih kok Rif. Kalih sinten :p

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Amin, matursuwun, awakmu pisan 😀

      Iyo Lan, wes ngerti, sintene niku sen dereng ngertos 😀

      Suka

  8. Hendi Setiyanto · Januari 2, 2017

    maaf, komennya kurang nyambung tapi saya ikutan setuju kalau papan pelangi dibikin buku, soalnya ceritanya itu menarik kata demi kata serasa memiliki makna hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  9. Pink Traveler · Januari 2, 2017

    Saya belum buat resolusi mas, soalnya harus serius dan dipikirin paa nulisnya krn bagi saya itu bukan sekedar resolusi tp ultimate goal, foto2 dan ceritanya bagus2, saya suka

    Disukai oleh 1 orang

  10. Fajrin Herris · Januari 2, 2017

    Wanita ny sudah menunggu mas. Hehe

    Ah klo baca post mas rifqi selalu enak cerita nya.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Hahaha, belum tentu mas, Allah tahu yang terbaik #ea 😀
      Makasih yaa Mas Fajrin 🙂

      Suka

  11. Dian Radiata · Januari 3, 2017

    Suka baca ceritamu. Apapun resolusimu, semoga Allah memudahkan jalanmu untuk meraihnya 🙂

    Suka

  12. Nasirullah Sitam · Januari 3, 2017

    Kalau aku simpel mas, pokoknya tahun 2016 ini minimal udah ngelamar anak orang hahahahhahahah. Kalau perlu dinikahi langsung 😀

    Disukai oleh 1 orang

  13. dinimuktiani · Januari 3, 2017

    Bhahaha, mungkin sesudah lihat toga masqy, ibu sama bapak mau lihat cucu 😀

    Disukai oleh 1 orang

  14. Johanes Anggoro · Januari 3, 2017

    iki ko yang komen banyak yang seangkatan kayaknya 😀
    termasuk aku :3

    Disukai oleh 1 orang

  15. Sandra Nova · Januari 4, 2017

    hahahah dedek masih unyu2 banget umurnyaaa… pas umur 25 pas putus pacar #eh jadi ngga mikirin nikah, seneng2 & kerja aja.. tapi tiap orang kan ada keinginan masing2… setelah nikah pun sebenernya masih tetep bisa seneng2 dan jalan2 bareng istri.. selamat menikmati masa muda #aiiih #tssah

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 10, 2017

      Hiyaaa unyu jare haha. Iya sih ya, mengalir sajalah dulu, nanti juga ketemu, insya Allah 😀

      Suka

  16. radit · Januari 5, 2017

    nikah dulu mas biar punya tanggungan 😀

    Disukai oleh 1 orang

  17. cumilebay.com · Januari 5, 2017

    Bapak mu ngak sabar momong cucu yoooo hahahaha, Kayak nya impian setiap orang tua kalo anak nya sudah selesai kuliah pengen cepet2 bisa main ama cucu

    Btw semoga tahun 2017 membawa banyak berkah dan banyak jodoh #EhGimana

    Disukai oleh 1 orang

  18. NataChaniago · Januari 7, 2017

    deheman seorang bapak itu = intimidasi secara tidak langsung. hahahah

    Disukai oleh 1 orang

  19. Mesra Berkelana · Januari 10, 2017

    wakakak aku kembali tertawa malam ini, btw kalo inget cerita orangtuamu yang bertanya-tanya kok aku mesti guyu ya mass. maapkan wkwk

    eh biasanya jodoh itu yang dekat-dekat loh mas, wkwk

    inget ya mas ini udah 2017, sisa 4 tahun lagi wkwk

    semoga kita di tahun yang baru ini lebih banyak menabur kebaikan #jadiceramah wkwk

    -Lidia

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 11, 2017

      Hahaha, ngguyuo gapopo, aku seneng kok 😀

      Hahaha, sisa 4 tahun lagi ya, om man 😦

      Amin, amin, siap bu ustad 😀

      Suka

  20. Agus Susanto · Januari 28, 2017

    eeeh kok samaan kita lulus kuliahnya ya bang rifqy, gw dulu lulus SH umur 24 dan lulus ST umur 25, trus kerja dilepas pantai dan sampe sekarang udah umur 29 eeh belom nikah2, hahahaha malah curhat..

    udah bener kata bapak, kalo ada calonnya mending nikah dulu aja deh bang rifqy, gw dulu ada calon tpi milih kerja dulu, eeh malah calonnya diambil orang, NASIB.. 😦

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Januari 29, 2017

      Walah, hahaha, yaah berarti umur sekarang gak samaan, saya sungkem dulu 😀 😀

      Belum ada calonnya Mas, suwer belum 😦

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Mesra Berkelana Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.