Frans Maumere

Di suatu malam, saya hendak balik ke Malang. Naik bus patas dari terminal Purabaya, Sidoarjo. Tempat duduk sudah hampir penuh. Saya dapat kursi paling belakang.

Sesaat setelah duduk, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh seseorang di samping kanan. Raut wajahnya khas Indonesia timur. Perempuan berpakaian serba hitam tertidur di sebelahnya. Agak lirih dia bertanya, “Mas, ke Malang biasanya berapa lama?”

Saya menjawab, “Dua jam, Pak, kalau lancar.” Dia mengangguk. Kemudian kami tak saling ngobrol saat bus berangkat. Mereka berdua lebih banyak memejamkan mata.

* * *

Dua jam lebih sedikit, bus sudah mendekati terminal Arjosari, kota Malang. Si Bapak kembali menepuk pundak saya, “Mas, kalau mau ke MAN 3 naik angkot apa, ya?”

Saya berpikir sejenak. Mengingat-ingat, karena sudah jarang naik angkot. “MAN 3 Kota Malang?” saya memastikan, dia mengangguk, “Bisa naik angkot kode AL atau ADL, Pak.”

“Masnya naik angkot apa nanti?” tanyanya lagi. “Saya naik motor, Pak. Saya parkir di luar terminal.”

Lalu si Bapak meminta tolong, “Mas, nanti boleh, ya, tolong diantar ke angkotnya?” Saya tersenyum, mengangguk, “Iya, Pak, tenang saja. Nanti saya antar.”

Bus berhenti di jalur kedatangan 2 di terminal Arjosari. Terminal yang sedang berbenah itu sudah agak lengang.

Saat turun, si Bapak membawa tas ransel, sedangkan sang istri membawa tas kecil yang dicangklong di pundak. Barang bawaan mereka bukan hanya itu. Dari bagasi, si Bapak mengambil tiga buah tas: Dua koper ukuran sedang, dan satu tas jinjing ukuran besar.

Saya membawakan tas jinjing putih-krem yang cukup berat itu. Saya mengajak mereka berjalan menuju tempat mangkal angkot. “Pelan-pelan jalannya ya, Mas, istri saya sedang hamil 3 bulan,” seru si Bapak.

Saya mengangguk. Sambil berjalan, kami mengobrol ringan. “Kalian asalnya dari mana? Ada perlu apa ke sini?” tanya saya. Si Bapak menjawab, “Kami dari Flores, NTT. Saya rencana mau lanjut studi di pascasarjana UMM.” Sementara mereka akan menginap di hotel milik MAN 3.

“Floresnya di mana?” saya mencoba memastikan. Si Bapak menjawab singkat, “Maumere.”

Kami saling pandang, tapi tetap sambil berjalan. “Ah! Baru saja akhir bulan kemarin saya ke Maumere,” kata saya sembari tersenyum lebar.

Wajahnya berubah semringah. Saya buru-buru menambahkan, “Saya menginap dua malam di rumah temen di dekat stadion Samador. Ketemu teman-teman Mapala Unipa juga.”

Lalu si Bapak berhenti sejenak. Saya juga. Dia mengatakan kepada istrinya, “Mama! Masnya ini bulan lalu baru main ke Maumere.”

Istrinya menatap saya, ikut tersenyum. Tapi tidak sampai mengucap sepatah kata pun. Raut lelah tampak di wajahnya. Perjalanan pesawat dari Maumere lalu lanjut ke Malang memang cukup menguras energi. “Jalan-jalan, Bu, hehe,” kata saya.

Setibanya di pangkalan angkot, saya berseru ke sekelompok pria yang sedang duduk-duduk, “Pak, mereka mau ke MAN 3.”

“Itu mas, ADL!” Salah satu di antaranya menelunjuk angkot biru berkode ADL tepat di depannya. Saya bergegas menuju angkot yang masih sepi itu. Baru ada tiga penumpang selain mereka berdua. Tapi tas ketiga penumpang tersebut juga besar-besar.

Saya segera memasukkan tas dan koper ke dalam angkot. Mempersilakan si Mama masuk duluan. Ia langsung rebahan di kursi panjang itu.

Saya dan si Bapak masih di luar, saling bertukar nomor telepon. Dengan ponsel batang model lawas, layar tergores separuh, dia menyimpan nomor saya. “Dengan mas siapa namanya?”

“Rifqy, Pak.” Dia melakukan panggilan ke nomor saya. Saat saya simpan nomornya, ia berseru, “Tulis saja Frans. Frans Maumere.”

Kami berjabat tangan erat saat hendak berpisah. Wajahnya menampakkan binar sekaligus lelah. Saya berpesan, “Kalau Bapak perlu apa-apa, kabari saya.”

Frans melambaikan tangan ketika jarak di antara kami semakin menjauh. Mudah-mudahan kami berjumpa lagi. (*)

 

Terminal Arjosari,
awal November 2016


Singkatan:
NTT: Nusa Tenggara Timur, UMM: Universitas Muhammadiyah Malang, MAN: Madrasah Aliyah Negeri, ADL: Arjosari-Dinoyo-Landungsari, AL: Arjosari-Landungsari, Unipa: Universitas Nusa Nipa (Maumere)

43 Comments Add yours

  1. Hendi Setiyanto says:

    salah satu bumbu manis dari sebuah perjalanan adalah bertemu dengan orang-orang baru yang tak terduga kadang kala, terkadang kita harus membuka diri agar bisa cepat akrab dengan orang-orang baru : )

    Liked by 1 person

    1. Iya, betul. Senantiasa berbaik sangka, selama kita niatnya baik, akan berbalas baik 🙂

      Liked by 1 person

  2. Dapat saudara lagi mas.
    Di manapun tempat, kita pasti bisa mendapatkan banyak sahabat dan keluarga baru.

    Liked by 1 person

    1. Syukurlah, selama kitanya baik 🙂

      Like

  3. Akarui Cha says:

    Bumbu dari perjalanan, ketemu teman baru. Semoga silaturrahmi nya awet yaaaa.

    Liked by 1 person

    1. Amiiin, makaih ya sudah mampir 🙂

      Like

  4. mysukmana says:

    wah koncomu akeh tenan mas..opo meneh ning terminal arjosari aku jadi inget lagu woyo woyo sing judule iku.. hehe

    Liked by 1 person

    1. Hehehehe, jalannya begitu, ada yang meminta pertolongan. Hahaha, Denpasar-Arjosari wkwkwk.

      Like

  5. Pas transit di surabaya kemaren, aku juga ketemu orang maumere. Meski tampangnya agak serem 🙈 tapi ramahnya ga kalah sama orang jawa wkwkwk.

    Ah masih menjadi mimpi mas, untuk menginjakkan kaki di flores.

    Liked by 1 person

    1. Hehehehe, fisiknya kan terbentuk karena alam Flores yang indah sekaligus keras. Tapi hatinya baik 🙂

      Semoga terwujud di suatu waktu ya 🙂

      Like

  6. Iwan Tantomi says:

    Suka kalau cerita gak banyak fotonya gini, jadi bisa menyesapi kata demi katanya sembari berimajinasi. Membayangkan rupa Frans Maumere, barangkali bisa kita ajak ngopi bersama di waktu sore. Di angkringan saat itu juga boleh. Menyeruput wedang uwuh, sembari saksama menyimak budaya Maumere dari empunya.

    Cukuplah, sungkan berseloroh lama². 😁

    Liked by 1 person

    1. Sedang belajar dan belajar, supaya bisa semakin baik 🙂

      Sudah lama saya tidak kontak, mungkin nanti-nanti bisa kita ajak bareng 🙂

      Like

  7. Beruntungnya pasangan dari Maumere itu ketemu dengan orang baik seperti mas papan pelangi 😀

    Liked by 1 person

    1. Saya pun beruntung bisa mengenal mereka meski singkat, mereka yang begitu ramah bahkan di daerah orang 🙂

      Like

  8. annienugraha says:

    Singkat dan berkesan. Saya gak pernah berhasil bikin tulisan dg 500 kata. Terlalu cerewet merepet dan mengarang

    Liked by 1 person

    1. Hahaha, saya pun masih belajar. Ini supaya konsisten ngeblog lagi, supaya tidak melulu nulis panjang 🙂

      Like

  9. Kok kayak pernah baca ceritanya ya, Qy.

    Liked by 1 person

    1. Yaaa, ini dulu di status Facebook, tak sadur ke sini hehe.

      Liked by 1 person

  10. Lena says:

    Jadi inget Bukit dan Pantai Kajuwulu. Masih terbayang indahnya Maumere!

    Liked by 1 person

    1. Saya juga suka nyunset di sana! Indah 🙂

      Like

  11. ade anita says:

    wahh.. perjuangan banget ya mereka utk meneruskan study.. hebat.

    Liked by 1 person

    1. Iya, banyak kok teman-teman dari timur yang melanjutkan studi ke Jawa. Luar biasa memang.

      Like

  12. Singkat, tapindah ceritamu, Qy. Ini yang pernah dipost jadi caption salah satu postingan IG-mu, bukan?

    Liked by 1 person

    1. Maturnuwun, Mas. Iya, dulu di status facebook 😀

      Like

  13. membaca cerita ini mengingatkan kenangan lama saat masih naik angkot di Malang. paling tidak kurang lebih 10 tahun wara wiri pake angkot di Malang dan selalu nyaman hehehe. tapi Angkot di malang masih rame ngga ya?

    Like

    1. Waaaa ada nostalgia! Hehe. Kini masih rame, kok, masih memiliki penikmatnya 🙂

      Like

  14. wisnutri says:

    singkat, tapi berkesan mas.
    semoga pas main ke maumere, bisa berjumpa lagi dengan pak frans dan istri, syukur-syukur sang frans junior hehe

    akhirnya, di post di google+ jugak XD

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih, amiiiin, hehehe. Iya, menyempatkan 😀

      Like

  15. sangat menyenangkan sekali bisa bertemu, bertegur sapa dan berkenalan dengan saudara baru, mas… banyak cerita tertuang dan menjadikan kita kaya

    semoga nek aku nyasar di Malang, bisa ketemu dengan mas Rifqy 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya, ketemu teman baru, saudara baru, membuat kita bisa memperluas sudut pandang. Ahahaha, ke Malang kok sengaja nyasar 😀

      Like

  16. Endah Kurnia Wirawati says:

    Wahh kange cerita-cerita singkat di perjalanan seperti ini.. bertemu dengan orang2 yang menginspirasi..

    Liked by 1 person

    1. Kadang di luar ekspektasi, tak disangka-sangka 🙂

      Like

  17. lialathifa says:

    Dulu alm. Ayah pernah ke Maumere, begitulah katanya, orangnya tulus dan bersahabat. Salam kenal ya mas

    Liked by 1 person

    1. Memang benar demikian adanya. Salam kenal, Kak, terima kasih sudah mampir 🙂

      Like

  18. Beruntung sekali bapak Frans ketemu mas Rifqy. Dan yakin si bapak pasti keingat mas Rifqy terus nich, berasa nemu saudara baru.

    Liked by 1 person

    1. Saya pun juga beruntung, dipertemukan dengan orang-orang baik 🙂

      Like

  19. sabiladam13 says:

    aha! saya ingat, ini yang dulu sempat sampean tulis di Ig itu ya? Menarik memang berkenalan dengan orang baru. Apalagi berbeda daerah.

    Liked by 1 person

    1. Iya di Instagram-Facebook, saya tulis ulang di sini supaya terarsip rapi. 🙂

      Like

  20. folkandtravel says:

    Bertemu orang Baru seperti Bapak Frans Maumere seperti ini memang bumbu termanis dari sebuah perjalanan.
    Salam kenal ya mas Rifqy, tulisan yang sederhana dan penuh makna.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih atas apresiasinya, semoga kita tak lelah berbuat baik dan dipertemukan dengan orang-orang baik 🙂

      Like

  21. Slalu aja seneng ama keramahan orang2 timur 🙂 .. Pd dasarnya, mereka memang orang2 baik dan ramah

    Liked by 1 person

    1. Iya, mbak. Sekali tersenyum lebar, hilang sudah kesan sangarnya 😃

      Like

  22. jonathanbayu says:

    Wah senang sekali ya bisa bertemu dengan orang yang asalnya kita tahu. Waktu itu juga pernah di sini di Jakarta ketemu orang Papua yang ternyata dia orang Sorong..dari ga kenal malah jadi akrab

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.