Dari Tidore untuk Indonesia: Rora Ake Dango (5)

Setelah hari sebelumnya dimeriahkan bazar, petang ini (9/4/2017) kami kembali naik ke Sonine Gurua (Gurabunga).

Kondisinya sedikit berbeda dibandingkan acara semalam. Ada beberapa perubahan dekorasi, menyesuaikan tema acara malam ini.

Kursi-kursi tamu undangan di bawah tenda menghadap ke arah masjid. Ke arah Gunung Marijang. Filosofinya adalah memohon berkah Yang Maha Kuasa, sebagai rasa syukur akan gunung yang menghidupi Gurabunga.

Seruas bambu yang menampung air dari puncak Gunung Marijang
Seruas bambu yang menampung air dari puncak Gunung Marijang

 

Beberapa meter di depannya, seruas bambu hijau berbalut kain putih pada bagian, ditancapkan di atas tanah. Berpagar rumbia, dengan obor kecil di empat sudut. Obor-obor kecil dan besar lainnya juga ditaruh di hampir seluruh sisi lapangan.

Gurabunga yang kemarin riuh dengan kuliner, tarian tradisional, dan bambu gila, kini berubah kesan. Malam inilah yang akan mengantarkan rangkaian acara inti Festival Hari Jadi Tidore ke-909 ke depan.Sebuah prosesi yang dianggap Sultan Tidore ke-37, Hi. Husain Sjah, sama tuanya dengan usia Tidore itu sendiri.

Sebuah prosesi yang dianggap Sultan Tidore ke-37, Hi. Husain Sjah, sama tuanya dengan usia Tidore itu sendiri.

* * *

Usai makan malam di rumah Om Gogo, kami kembali ke lapangan. Para tamu undangan, warga setempat, sudah siap di kursi masing-masing. Sebagian dari kami, berkeliling untuk mendokumentasikan acara.

Listrik di seluruh dusun dipadamkan serentak. Mendadak suasana berubah hening dan khidmat. Prosesi Rora Ake Dango akan segera dimulai.

Rora Ake Dango adalah penyatuan air yang sudah disemayamkan di rumah adat para sowohi. Pada fajar di hari yang sama, air tersebut sudah diambil para pemuka adat Soa Romtoha Tomayou dari puncak Gunung Marijang. Bambu dipilih sebagai tempat penampung, karena paling bersih untuk menyimpan air. Prosesi ini dinamakan Tagi Kie.

Selanjutnya, air disemayamkan dan didoakan di rumah adat para sowohi. Air yang didoakan itulah disebut Ake Dango. Prosesi pengambilan air tersebut juga bertujuan untuk merawat dan menjaga kelestarian situs Kie Matubu, nama lain gunung di ketinggian sekitar 1.730 mdpl tersebut.

5g
Ridwan Ibrahim, anak keturunan sowohi marga Tosofu Malamo, membacakan narasi Ake Dango dalam bahasa Tidore

Alunan musik tradisional yang ditabuh pra-acara tiba-tiba berhenti. Berganti lantunan nada yang menyayat hati. Musikalisasi yang mengiringi pembacaan Borero Gosimo, pesan atau wasiat leluhur, yang penuh makna.

Tiupan panjang Tahuri–alat musik tradisional Maluku dari cangkang hewan–melengking di keheningan malam. Memanggil sesuatu, yang diikuti suara lantang dari arah masjid: Hai, Ngofa Se Dano… Diikuti kata-kata dalam bahasa Tidore setelahnya.

Bersamaan dengan itu, saya melihat ke arah gunung. Siluet Kie Matubu begitu jelas menjulang. Hitam. Wujud kontras dengan kami semua, yang berpakaian serba putih. Saya merinding melihatnya. Benar adanya julukan yang tersemat untuk Tidore, negeri seribu jin.

Panggilan pertama itu untuk salah satu sowohi beserta rombongan keluarga dari satu marga: satu orang sebagai pembawa air dan sembilan lainnya memegang obor. Para pengiring sowohi, kesemuanya perempuan, memakai atasan putih dan bawahan batik.

Mereka berjalan memasuki lapangan. Disaksikan bobato (pemangku) adat yang berpakaian serba hitam, suasana semakin khidmat begitu air dituangkan secara hati-hati ke dalam seruas bambu. Setelah itu, sowohi menuju tempat duduk di baris terdepan yang telah disediakan. Sementara rombongan yang mengikutinya berbaris di tepi lapangan. Obor tetap menyala.

5cProsesi penyatuan air oleh salah satu keturunan marga sowohi
Prosesi penyatuan air oleh salah satu keturunan marga sowohi

Begitu pun proses berlanjut ke lima marga lainnya. Ada perasaan yang luar biasa dalam benak saya. Menyaksikan prosesi adat yang sangat sakral. Sudah jelas ada pesan untuk menjaga tradisi leluhur, dari daratan nun jauh di atas bumi Moluku Kie Raha.

Air yang sudah disatukan tersebut kemudian disemayamkan kembali di rumah adat selama semalam. Dijaga oleh perwakilan marga masing-masing, agar tidak mendapatkan gangguan hingga prosesi selanjutnya esok hari.

Kemudian suara gendang dan tifa ditabuh. Mengentak. Menggantikan sunyi.

Dua pria berpakaian serba putih dan ikat kepala merah memasuki lapangan. Memegang pedang dan perisai, mereka mengawali Tari Kapita seusai prosesi sakral.Selang beberapa saat, disusul sejumlah penari. Beberapa di antaranya ada anak-anak yang masih seusia sekolah dasar. Gerakannya lincah. Bukti bahwa regenerasi pelestari budaya di Sanggar Rau Gabi sudah berjalan. Saya baru mengenal dua penari saja di antara mereka, Om Gogo dan Ade.

5d
Tarian Kapita Sanggar Rau Gabi Gurabunga

Selang beberapa saat, disusul sejumlah penari. Beberapa di antaranya ada anak-anak yang masih seusia sekolah dasar. Gerakannya lincah. Bukti bahwa regenerasi pelestari budaya di Sanggar Rau Gabi sudah berjalan. Saya baru mengenal dua penari saja di antara mereka, Om Gogo dan Ade.

Saya kembali menyaksikan tarian yang indah, seperti saat disambut di dekat Monumen Juan Sebastian De Elcano. Tapi kali ini penari lebih banyak dan sangat meriah.

Pertunjukan Tari Kapita sekaligus menjadi momen penabuhan gong dibukanya rangkaian acara inti Festival Hari Jadi Tidore ke-909. Festival rutin tahunan, yang pada 2017 ini bertema “Merawat Tradisi, Mempertegas Jati Diri Bangsa Maritim”.

* * *

Lampu-lampu di masjid, musala, rumah warga, dan tenda tamu kembali terang. Sementara obor tetap menyala. Para sowohi sudah duduk di baris kursi terdepan.

Yakub Husain, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tidore Kepulauan, selanjutnya memberikan sambutan pertama di atas mimbar. Dia memberikan laporan perkembangan pariwisata Tidore dan festival yang sedang berlangsung

Sambutan Sultan Tidore, Hi. Husain Sjah
Sambutan Sultan Tidore, Hi. Husain Sjah

Lalu sambutan kedua dibawakan oleh Sultan Tidore, Hi. Husain Sjah.

Poin-poin utama dari sambutan sultan adalah ajakan untuk kembali menemukan dan mengangkat jati diri Tidore yang sesungguhnya. Sebagai bangsa maritim.Pun mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan sejarah. Sultan menegaskan peran penting Tidore pada masa lampau, terutama untuk Republik Indonesia. Dan ke depan, diharapkan Tidore bisa menjadi pusat peradaban maritim dunia, seperti yang dicita-citakan.

Pun mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan sejarah. Sultan menegaskan peran penting Tidore pada masa lampau, terutama untuk Republik Indonesia. Dan ke depan, diharapkan Tidore bisa menjadi pusat peradaban maritim dunia, seperti yang dicita-citakan.

Pesan penutup dari sultan adalah agar selalu menjaga Moluku Kie Raha dengan tarekat, marifat, dan hakikat.

Begitu Sultan Tidore turun dari mimbar seusai memberikan sambutan, tanda bahwa perhelatan Rore Ake Dango memasuki sesi pamungkas.

Memainkan kabata, seni berbalas pantun dengan alat penumbuk gabah
Memainkan kabata, seni berbalas pantun dengan alat penumbuk gabah

Sejumlah orang tampak bersiap. Para pria dan perempuan berpakaian serba putih duduk berhadapan. Di antara mereka tersedia alat tradisional yang biasa digunakan menumbuk gabah.

Kabata, seni berbalas pantun berlagu dengan menumbuk kayu, menutup acara pada malam yang dingin ini di Gurabunga. Pesan-pesan adatnya jelas, ajakan kebersamaan dalam kehidupan.

 

(Bersambung)


Foto sampul:
Siluet Gunung Marijang saat malam prosesi Rora Ake Dango

Lomba menulis blog dan kegiatan selama di Tidore,
terselenggara atas peran Ngofa Tidore
beserta pihak-pihak sponsor terkait: Lomba Menulis Blog 

5 thoughts on “Dari Tidore untuk Indonesia: Rora Ake Dango (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.