Bersanding Angin Sumbing

Embusan bayu jadi teman setia pendakian musim kemarau, merambahi raut wajah salah satu gunung elok di Magelang.

Permukiman Dusun Butuh dengan latar Gunung Sumbing
Permukiman Dusun Butuh dengan latar Gunung Sumbing

Singkatnya tidur kami dibangunkan oleh subuh yang menusuk tulang. Dan merekahnya cahaya fajar terlihat dari jendela basecamp pendakian Gunung Sumbing, jalur Dusun Butuh, Kaliangkrik, Magelang. Rumah singgah pendaki ini berada di tengah permukiman, pada ketinggian 1.722 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tak hanya kami. Beberapa pendaki juga bergegas keluar rumah. Berebut tempat di halaman yang jadi tempat parkir motor. Semuanya serempak mengabadikan momen emas tersebut. Langit memerah dengan latar gulungan awan dan siluet Merbabu-Merapi di timur.

Beberapa waktu lalu saya, Eko, dan Aliko melihat Gunung Sumbing dari puncak Merbabu. Kali ini, ditambah Rendra, kami berempat akan melakukan hal sebaliknya.

Gerbang pendakian Gunung Sumbing jalur Butuh, Kaliangkrik, Magelang
Gerbang pendakian Gunung Sumbing jalur Butuh, Kaliangkrik, Magelang

PERJALANAN PANJANG
Usai sarapan, berkemas dan registrasi, kami memulai pendakian pada pukul 08.15. Kami sudah harus meniti tanjakan sejak awal mendaki. Mulanya berupa jalan cor kampung sampai gapura pendakian. Kemudian berganti makadam dengan dua lajur. Salah satunya berupa tangga, biasa digunakan bagi pejalan kaki. Baik pendaki maupun penduduk setempat yang mayoritas petani. Lajur lainnya digunakan untuk motor yang hilir-mudik mengangkut pupuk dan hasil pertanian.

Jalur pendakian sejauh 1,6 kilometer menuju Pos 1 didominasi vegetasi terbuka berupa lahan sayur dan tembakau. Terdapat sejumlah bak penampungan, yang saat musim kering seperti ini hanya satu-dua di antaranya berisi air.

Jalur pendakian menuju Pos 1 dengan latar Gunung Sumbing
Jalur pendakian menuju Pos 1 dengan latar Gunung Sumbing

Sesekali kami harus berhenti sejenak saat angin bertiup kencang dari arah timur. Kami harus menutup wajah dari debu-debu tebal yang beterbangan. Embusan angin agak berkurang begitu kami tiba di Pos 1, setelah berjalan 1 jam 45 menit dari basecamp.

Pos 1 di ketinggian 2.127 mdpl berupa gubuk sederhana. Beratap seng dan disangga batang-batang kayu. Dapat dibilang pos ini merupakan batas pergantian vegetasi menjadi hutan pinus yang teduh. Medan pendakian masih didominasi bebatuan yang menanjak sampai Pos 2.

“Kita istirahat makan siang di sini, yuk,” ajak saya setibanya di Pos 2 (2.458 mdpl). Jaraknya sekitar 1,3 km atau dua jam pendakian dari Pos 1. Sudah waktunya makan siang. Mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan. Kami rehat di pos ini selama kurang lebih satu jam. Kami banyak menjumpai pendaki di sini. Pos ini rupanya menjadi favorit pendaki untuk beristirahat, baik saat naik atau turun.

Pendakian dari Pos 2 ke Pos 3 (2.638 mdpl) adalah yang terpanjang di jalur Butuh. Jaraknya 1,9 kilometer. Meskipun begitu, treknya relatif datar. Pendaki biasa menyebutnya: banyak bonus. Medannya berupa jalan setapak melipir punggungan bukit, dengan sisi kanan jurang. Kami melewati beberapa aliran sungai kecil yang sedang kering karena kemarau.

Salah satu aliran sungai yang sedang kering, berada di tengah jalur antara Pos 2 ke Pos 3
Salah satu aliran sungai yang sedang kering, berada di tengah jalur antara Pos 2 ke Pos 3

Saat musim penghujan, pendaki harus berhati-hati karena licin dan debit air yang bisa tiba-tiba menderas.

Kami sampai di Pos 3 setelah sejam berjalan. Sempat terjadi diskusi cukup lama di antara kami. Apakah akan berkemah di sini atau di Pos 4. Setelah mempertimbangkan waktu, fisik, dan sempitnya Pos 3, kami sepakat melanjutkan pendakian ke Pos 4.

Jarak ke Pos 4, menurut alat GPS (Global Positioning System) yang kami bawa, sejauh 1,5 km. Pendaki-pendaki yang kami sapa di jalur hampir berkata sama. “Berat, Mas. Naik-turun punggungan,” begitu kata mereka.

Kami akhirnya merasakan sendiri. Tertatih-tatih. Perlu waktu hampir tiga jam perjalanan bagi kami untuk tiba di tempat berkemah Pos 4 (3.003 mdpl). Jika dihitung total sejak mulai mendaki, perlu waktu sembilan jam untuk mencapai pos yang ditandai dengan pohon tunggal yang sudah tak berdaun ini.

Perjuangan pun masih harus berlanjut. Kami mendirikan tenda di tengah angin kencang dan kabut tebal yang suhunya mulai menusuk. Tidak banyak tanah yang benar-benar datar di tempat ini. Kami mensyukuri keputusan membawa dua tenda yang masing-masing berkapasitas dua orang. Bisa didirikan di lahan datar yang sempit.

Sepanjang malam hingga pagi; selama masak, makan, dan tidur, kami tak henti berdoa agar tendanya mampu bertahan sampai esok hari.

Matahari terbit dengan latar Gunung Merbabu dan Merapi
Matahari terbit dengan latar Gunung Merbabu dan Merapi

MENUJU PUNCAK SUMBING
“Mas, bangun. Sunrise-nya apik,” kata saya sambil membangunkan Aliko, teman setenda. Sementara Eko dan Rendra sepertinya masih terlelap di tenda sebelah. Saya hanya keluar sejenak untuk memotret.

Seperti halnya trek menuju puncak Gunung Merbabu. Berdebu saat musim kemarau, dan licin saat musim penghujan.

Pemandangan yang menemani sepanjang perjalanan ke puncak_Fotor
Pemandangan yang menemani sepanjang perjalanan ke puncak

Sekitar 15 menit sebelum puncak, kami tiba di sebuah persimpangan. Jika belok kanan, akan bertemu jalur menuju basecamp Banaran, Temanggung. Atau biasa disebut rute timur Gunung Sumbing. Bila lurus mengikuti turunan, akan menuju kawah belerang Sumbing yang masih aktif. Karena keterbatasan waktu, kami memilih belok kiri. Hanya mencapai puncak saja.

Dua orang pendaki sedang istirahat di tengah jalur ke puncak, di antara rerumputan, edelweis dan cantigi
Dua orang pendaki sedang istirahat di tengah jalur ke puncak, di antara rerumputan, edelweis dan cantigi

“Tinggal 300 meter lagi,” ucap saya usai mengecek GPS. Puncak sebentar lagi.

Puncak Sejati Sumbing di jalur Butuh kami tempuh sekitar 1,5 jam dari Pos 4. Meskipun di plakat tertulis 3.371 mdpl, angka di GPS menunjukkan angka 3.327 mdpl. Perbedaan akurasi angka tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh suhu dan angin. Kami tidak perlu memperdebatkan hal seperti ini. Bisa berdiri di puncak, lalu turun dengan selamat adalah sesuatu yang harus jauh lebih disyukuri.

Ketiga teman setim di puncak Gunung Sumbing
Ketiga teman setim di puncak Gunung Sumbing

Di antara bebatuan cadas, tiang besi berdiri kokoh menyangga merah putih yang berkibar keras. Di kejauhan, kami melihat sejumlah pendaki yang menggapai puncak di sisi jalur lainnya. Entah itu dari Banaran, Garung, Sipetung, Cepit, atau Bowongso. Masing-masing bertemu di salah satu puncak tertinggi yang mengepung kaldera Sumbing.

Mungkin di lain kesempatan, kami akan mendaki Gunung Sumbing dari jalur yang berbeda. Merasakan lagi keindahannya, yang bisa menghapuskan lelah karena beratnya jalur. Sabana luas di dalam kalderanya, lautan pasirnya (Segoro Wedi), kawah aktifnya, dan juga Puncak Rajawali.

Dan mungkin juga akan berteman angin kencang lagi. (*)

 

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Adventure, Xpress Air inflight magazine, edisi November-Desember 2018


Foto sampul:
Pemandangan pagi dari tempat perkemahan Pos 4 Jalur Butuh, Kaliangkrik, Magelang

 

 

44 thoughts on “Bersanding Angin Sumbing

  1. Wah mas, pemandangan desa dan lajur pendakiannya apik. Sunrise di puncaknya apalagi, apik bangeeettt. Aku jadi teringat dengan momen saat nanjak Gunung Cikuray, saat itu juga lagi musim kemarau, debu beterbangan ke mana-mana hanya dengan satu pijakan lembut. Ketika memasuki area hutan, celana hitam yang kupakai udah berubah warna jadi putih haha.

    Liked by 2 people

  2. Setahuku puncak Buntu dan puncak Sejati itu beda Mas tingginya, tinggian puncak Buntu.

    Aku trip ke sini tahun 2015 malah belum aku tulis, ahaha masih kebayang capeknya naik lewat jalur ini pas buka laptop, wkwkwkw lha tas isi tenda 2 sama peralatan masak kan ampuh di pundak,…. 🙂

    Bagus lho Segoro Wedi nya.. kudu nambah STMJ segelas lagi biar sampe situ tuh 😀

    Liked by 1 person

    1. Iya, mas. Kemarin diberitahu orang basecamp, hehe. Sing penting wis nang Sumbing wkwkwk.

      Ancen Sumbing kuwi jos gandos jalure. Apalagi lewat Butuh, baru tahu ternyata kita mengitari gunung ke Pos 4 wkwkwkwk.

      Kapan-kapan balik neh lah ke Segoro Wedi hehe. Wingi ra nyandak waktune.

      Like

  3. Dari Dusun Butuh kelihatannya tidak seberapa tinggi ya (kelihataaaan) Gunung Sumbing di latarnya itu, tapi ternyata jalur yang ditempuh dari Pos 1 sampai Pos 4 hingga puncaknya itu beraaaattttt beuuddd. Tak akan dirikyu sanggup hahaha.

    Untuk mencapai ‘surga’ konon katanya memang butuh perjuangan berat. Sembilan jam euy untuk mencapai Pos 4, belum lagi mendirikan tenda di tengah angin kencang dan kabut tebal dudududu … tapi senangnya keesokan hari bisa menyaksikan sunrise (kali ini bener saya nulisnya, pasti, hahaha) dengan latar Gunung Merbabu dan Merapi. Itu di foto awannya (yang atas) kayak elang difoto dari belakang pas lagi terbang hehehe.

    Terakhir, selamat ya, tulisan di pos ini dimuat di Xpress Air inflight magazine! Awesome!

    Liked by 1 person

    1. Nah, ‘kelihatannya tidak seberapa’ itu yang memberi banyak pelajaran hahahaha.

      Hahaha, iya syukurlah pemandangan pas sunrise terbuka, setelah kabut tebal semalaman. Tapi anginnya itu loh, tetep kenceng banget.

      Makasih ya kak Tuteh 🙂

      Like

    1. Ada, cuma memang relatif sepi hitungannya.

      Sebenarnya dikejar waktu juga, sih, pertimbangan transportasi pulang dari basecamp ke Jogja. Pihak basecamp hanya bisa ngantar maksimal pukul 19.00. Makanya turunnya agak ngebut dan gak sempat turun ke kawah.

      Di sisi lain, nek nambah hari, airnya yang berat hahaha. Kecuali pas musim hujan, masih bisa ngandalin sumber air di sungai antara Pos 2-3

      Liked by 1 person

    1. Mbak Tati pernah naik Gunung Prau lewat Patak Banteng kan ya? Nah trek ke gunung-gunung di ketinggian di atas 3.000 mdpl dan trek yang tipikal mirip macam Sumbing, Slamet, Arjuno, Welirang, itu ya bisa 3-4 kali lipatnya trek Prau hahaha. Apalagi kalau basecamp pendakiannya rendah, gak setinggi Dieng, Ranu Pani, atau Butuh.

      Like

    1. Ayolah, tahun depan pas musim bersahabat. Diagendakan. Gunung yang treknya relatif moderat saja, macam Merbabu via Selo atau Lawu via Cetho. Aku pengin banget naik gunung sama kalian. Sementara baru sama Hannif dan Mas Aan thok hahaha

      Like

  4. Total sembilan jam ternyata…
    Oh ya kalau pas musim penghujan, sungai keringnya itu memang kemungkinan deres ya mas? karena posisinya curam ke bawah gitu. Aku ngebayangin kalau lewat sana pas musim penghujan.
    Apa di beberapa gunung (selain Sumbing) juga banyak sungai-sungai begini yang mau ga mau harus dilalui pendaki?

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mbak. Makanya harus lihat situasi. Kalau kita trekking pas turun hujan, baiknya tahan atau istirahat sejenak, karena debitnya bakal deras dan licin. Tapi di sisi lain, air berlimpah hahaha.

      Di Rinjani ada trek yang lewat sungai, tapi ya sudah ada jembatan sih. Kalau di Gunung Gede jalur Cibodas, kita harus lewat satu kawasan air panas, air terjun/sungai kecil gitu, dan panas hahaha. Karena satu gunung kan biasanya banyak jalur. Kemungkinan bila di satu jalur tidak ada jalur sungai, tapi jalur di sisi lain akan menemui sungai.

      Kalau di luar Jawa itu ya macam Leuser, Cartensz di Papua, itu bener-bener lewat sungai beraliran deras yang mengalir sepanjang tahun. Belum pernah sih ahahaha.

      Like

  5. Tulisannya mas papan pelangi selalu apik. Dan bener banget pas kemarau berdebu, kalau via Garung, lewat engkol-engkolan itu aku nangis takut ngga sampai rumah. But finally, Sumbing tidak hanya menyajikan pemandangan sunrise sunset bagus ya mas. Tapi lebih. Bersyukur banget dan emoh mbaleni 😀

    Liked by 1 person

    1. Wah iya, Garung emang terkenal engkol-engkolannya itu kalau kemarau parah banget hahaha. Sumbing ini hitungannya gunung yang relatif kering dan terbuka banget. Dari awal kami sudah coret Garung dari daftar jalur yang akan dilewati, karena pertimbangan engkol-engkolannya itu hahahaha. Setelah memilah antara jalur Banaran dan Butuh, akhirnya lewat Butuh. Lebih dekat dari Jogja juga.

      Sumbing mungkin emoh mbaleni, tapi mbaleni mendaki ke gunung lain saja 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.