Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi

Perempatan Wornorekso (patung kebo) ke timur sedikit. Depan sekolahan TK.

Saya membaca pesan yang dikirim Akbar Andi (31 tahun) melalui Whatsapp. Saya menyorongkannya ke Alan, teman narablog asal Jakarta yang bekerja dan sudah mukim cukup lama di Banyuwangi. Saya menginap dua malam di rumahnya.

“Oh, aku tahu perempatan itu,” Ia menanggapi.

Kami mengecek aplikasi peta di gawai. Pagi itu juga kami bermotor ke rumah lelaki perajin limbah kayu tersebut.

Sehari sebelumnya saya memang sudah bikin janji dengan Akbar, sapaan akrabnya. Saya mengajak Alan untuk melihat produk hasil kerajinannya. Perjalanan saya ke Banyuwangi kali ini khusus untuk mengunjungi dan melihat sejumlah produk unggulan daerah. Salah satunya adalah jam tangan atau arloji analog dari kayu karya Akbar.

Saya bersama Akbar di dapur produksi jam tangan kayu di rumahnya
Saya bersama Akbar di dapur produksi jam tangan kayu di rumahnya

Bermula Dari Coba-Coba
Setelah setengah jam perjalanan, kami tiba di depan TK Dharma Wanita, Alasmalang, Singojuruh. Sangat dekat dari perempatan patung kebo seperti diterangkan Akbar. Saat itu sudah jam pulang anak-anak sekolah. Para orangtua, mayoritas ibu-ibu, menunggu di pinggir jalan.

Saya mengirimkan pesan teks lagi. Sembari mengamati rumah-rumah di seberang sekolah.

Saya sudah di depan TK, Mas.

Tak lama kemudian, sosok pria berkaus lengan pendek dan celana jin selutut tampak keluar dari rumah yang sangat sederhana. Ia melambai sembari meminta kami memasukkan motor ke halaman depan rumahnya. Kami diajak masuk ke ruang tamu yang berada di belakang dapur produksinya.

“Saya dulu bikin produk-produk rumahan,” tuturnya menceritakan awal mula menjadi perajin. Kampungnya memang sejak lama terkenal sebagai sentra kerajinan, khususnya aneka perabot rumah berbahan limbah kayu.

“Paling sering bikin asbak, sendok, sama mangkok,” tambahnya.

Cukup lama Akbar bergelut di kerajinan produk rumahan. Kemudian di awal 2016, ia melihat peluang baru di awal 2016. Dalam benaknya, ada prospek besar yang bisa digarap lebih serius.

“Awalnya pengin punya produk yang ada nilai style, Mas,” kata Akbar.

Berlatar keinginan tersebut, ia mencoba untuk meracik limbah kayu menjadi arloji. Nilai tambah dan harga jual yang tinggi menjadi pertimbangan lain.

Percobaan pertama tidak selalu mulus. Akbar membutuhkan waktu sebulan untuk membuat satu buah arloji.

Setelah dirasa berhasil, baru ia mulai memberanikan diri untuk menjual hasil kerajinannya. Instagram adalah media pertama yang dipakai untuk memasarkan karya-karyanya. Mereknya: Maccasi Craft.

Maccasi Craft
Maccasi Craft

Mengikuti Selera Konsumen
Tidak ada desain pakem pada arloji-arloji yang dibuatnya. Konsumen yang memesan diberi kebebasan untuk menentukan desain dan bentuk yang diinginkan.

Akbar hanya memberikan “rambu-rambu” tentang angka lingkar pergelangan tangan, berat badan, dan bahan baku yang digunakan. Terlebih jika konsumen berasal dari luar kota, sehingga tidak memungkinkan untuk datang langsung ke rumahnya.

“Saya selalu minta pembeli mengukur sendiri. Saya minta dilebihkan 1 cm,” jelasnya.

Misal lingkar pergelangan tangan saya 16 cm, maka arloji akan dibuat berdiameter 17 cm. Begitulah rumus Akbar.

Ukuran dan model arloji berbeda-beda, tergantung permintaan konsumen
Ukuran dan model arloji berbeda-beda, tergantung permintaan konsumen

Pun demikian dengan bahan baku yang digunakan. Akbar menyebut ada tiga jenis kayu yang bisa dipilih. Ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda.

Ia menegaskan, “Sonokeling adalah yang terbaik sekaligus paling sulit.”

Kesulitan dalam mengolah kayu sonokeling (biasa disebut sono) disebabkan padatnya jaringan serat di dalamnya. Sehingga, sono cukup sulit digergaji. Tapi hal ini mengindikasikan bahwa sono, yang umumnya berwarna gelap, memiliki kualitas bagus dan lebih awet.

“Dua kali motong aja sudah bikin gergaji tumpul,” kelakarnya.

Contoh arloji berbahan kayu sonokeling (Sumber: Instagram maccasi_craft)
Contoh arloji berbahan kayu sonokeling (Sumber: Instagram @maccasi_craft)

Bahan kayu lainnya yang dipakai adalah jati dan pinus. Jati lebih berwarna cokelat, sedangkan pinus lebih terang. Harga jualnya sekitar 25-50 ribu di bawah kayu sono. Kayu-kayu tersebut digunakan sebagai bahan baku dominan pada bingkai utama jam (lingkaran atau persegi) dan strap (rantai).

Kayu-kayu tersebut masih sangat melimpah di desanya. Biasanya merupakan sisa-sisa hasil produksi perajin produk rumahan lainnya. Jadi, Akbar tidak khawatir terjadi kelangkaan bahan baku. Dan ia memperolehnya dengan harga yang sangat terjangkau bahkan kerap gratis.

Untuk bahan-bahan lainnya yang masih harus dibeli terpisah di toko antara lain kaca, jarum, mesin jam, hingga baterai. Lalu boks tempat arloji ia pesan kepada teman sesama perajin. Sementara stainless spring bar penyambung strap dan bahu jam ia bikin sendiri dengan alat khusus.

Kini, dalam sebulan Akbar mampu memproduksi hingga 20 buah arloji. Namun, kuantitas produksi tersebut tergantung pada pesanan yang masuk dan tingkat kesulitan produksi.

“Biasanya, satu buah arloji perlu waktu empat hari kerja,” jelasnya.

This slideshow requires JavaScript.

Akbar tidak punya karyawan tetap. Proses produksi hampir seluruhnya dilakoni sendirian. Ia hanya dibantu seorang rekan untuk memasarkan di toko-toko daring.

Saya dan Alan sempat diajak masuk ke ruang kerjanya. Sebuah ruangan seukuran kamar kos 3×3 meter berisi peralatan produksi, antara lain mesin penghalus, bor, pemotong rantai (strap), gergaji, amplas, pelapis khusus kayu anti gores.

Karena keterbatasan waktu dan belum adanya pesanan yang masuk lagi, kami tidak sempat melihat proses produksinya. Akbar hanya memberikan gambaran singkat, bahwa alur tahap produksi arloji yaitu: memilih kayu yang memiliki corak dan tekstur yang pas, lalu menggergaji dan mendesain bentuk arloji sesuai permintaan.

Contoh arloji setengah jadi (paling bawah)
Contoh arloji setengah jadi (paling bawah)

“Paling sulit membuat rantai atau strap-nya. Kan, ukurannya harus sama dan sejajar,” tutur Akbar.

Beda sedikit saja, maka tidak akan nyambung antara bagian ujung dan tengah. Jika seperti itu, maka ia harus mengulang prosesnya dari awal.

Mengenai harga jual produknya, Akbar tidak memberi angka secara rinci. Dia hanya memberi gambaran umum. Selain tingkat kesulitan dan jenis kayu yang digunakan, rentang harga juga ditentukan berdasarkan daerah tujuan pengiriman:
1. Banyuwangi: Rp300.000-350.000
2. Luar Banyuwangi (Pulau Jawa): Rp350.000-400.000
3. Luar Pulau Jawa: Rp450.000-500.000

 

Dua akun Instagramnya, @akbarandi1988 dan @maccasi_craft, digunakan sepenuhnya untuk pemasaran dan memajang hasil karyanya. Baik yang sudah dipesan maupun sekadar display. Dari Instagram, bila ada konsumen yang tertarik berlanjut lewat Whatsapp. Biasanya, saat produk sudah setengah jadi, Akbar akan mengirimkan fotonya ke klien pemesan.

Beberapa pembeli produk kerajinannya berasal dari berbagai daerah. Antara lain Banyuwangi, Surabaya, Jakarta, Bandung, bahkan hingga luar pulau, seperti Bali.

“Paling jauh dari Sumatra sama Tarakan,” katanya.

Akbar tidak pula merinci berapa omzet yang didapatkan per bulan. Ia hanya mengatakan bahwa rata-rata penjualan sekitar tujuh buah arloji per bulan.

Beraneka corak jam tangan kayu yang sudah dipesan pembeli
Beraneka corak jam tangan kayu yang sudah dipesan

Masih Banyak Kayu yang Dirakit
Akbar menyadari ceruk pasarnya tergolong cukup khusus. Selain itu, sejumlah keterbatasan menjadi kendala yang cukup menghambat kiprahnya.

“Yang paling utama memang modal, sih,” katanya. Selain itu peralatan dan tenaga kerja, sekian faktor yang memengaruhi terbatasnya kapasitas produksi.

Pemerintah daerah, sejauh ini baru sebatas memfasilitasi keikutsertaan dalam pameran-pameran produk UMKM. Baik di Banyuwangi maupun di luar kota.

Walaupun sudah mengandalkan pemasaran secara daring, Akbar merasa masih belum maksimal. Ia mengakui, akun Instagram yang digunakan masih harus dikelola lebih baik lagi.

“Saya juga pernah coba pasang di Banyuwangi Mall. Tapi memang kurang maksimal,” keluhnya.

Banyuwangi Mall (www.banyuwangi-mall.com) adalah situs belanja daring yang dibuat dan diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi pada 2016. Di sanalah segala macam produk-produk unggulan UMKM asli daerah berjuluk “sunrise of Java” ini dipasarkan. Sebuah terobosan bagus, sejatinya, karena produsen tidak harus memiliki toko fisik untuk menjual produk-produknya.

Namun, produk hasil kerajinan Akbar memang mengharuskan ada interaksi yang intens antara dirinya dan calon pembeli. Sekalipun hanya melalui percakapan via Whatsapp. Seperti yang dia katakan, tergantung permintaan konsumen.

Prestasi yang pernah diraih Akbar atas karya uniknya
Prestasi yang pernah diraih Akbar atas karya uniknya

Meskipun demikian, peraih Juara II Kategori Umum dalam Banyuwangi Industrial Young Enterpreneur Competition 2017, yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, sudah membuktikan bahwa ia mampu membuat sesuatu yang baru dan unik.

Masih banyak kayu yang bisa dirakit. Masih terbentang lebar kesempatan baginya untuk membuat produk kerajinan karyanya lebih berkembang. Kita pun bisa menunjukkan cara untuk mendukung karya-karya lokal. Mempromosikannya, bahkan membeli produknya.

Yang jelas, ia sudah punya modal penting. Sampai sekarang, walau bukan yang pertama di Indonesia, Akbar masih menjadi yang pertama sekaligus satu-satunya perajin arloji kayu di Banyuwangi. (*)


Akbar Andi (Maccasi Craft)
Instagram: @akbarandi1988 dan @maccasi_craft
Jl. Ahmad Yani No. 3, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi

 Foto sampul:
Contoh produk jam tangan kayu karya Akbar Andi dari Banyuwangi

9 thoughts on “Jam Tangan Kayu dari Banyuwangi

    1. Iya, aku pernah baca berita tentang itu. Apalagi Jepara terkenal dengan mebel-mebel terbaiknya. Tentu semestinya banyak limbah sisa-sisa kayu tak terpakai yang bisa dimanfaatkan. Apalagi kalau kayunya bagus, nilai jualnya tinggi.

      Like

  1. nfirmansyah_

    Pernah pengen beli–di tempat lain tapi–, tapi tidak jadi. Lupa dulu gara-garanya apa ya. Wkwk.

    Memang bukan yang pertama, tapi masih sangat sedikit pengrajin jam tangan kayu. Kayaknya di Indonesia masih bisa dihitung jari. Hehe.

    Liked by 1 person

      1. nfirmansyah_

        Kalau yang saya lihat, produk-produk handmade dalam negeri justru lebih banyak diminati sama orang luar. Ada kenalan saya yang punya bisnis handmade, pembelinya 75% dari luar. Hehe

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.