Senyawa Alas Lali Jiwo: Taklimat-Taklimat yang Perlu Dicatat (2)

Senyawa Alas Lali Jiwo Bagian Kedua

Baru saja sepelemparan batu dari Pos 3 Pondokan, tiba-tiba, Bruk!

“Aduh! Lututku!” teriak Aiman. Kejadiannya begitu cepat. Aiman terperosok ke sebuah parit kecil di samping jalur pendakian. Ia jatuh dengan posisinya rebah bersandar ransel. Kaki kiri terangkat lurus, sementara kaki kanan terlipat.

Kami semua kaget. Kami jelas mendengar Aiman mengerang sambil memegang lututnya. Aku dan Indra berusaha lekas mengangkatnya.

“Sebentar, sebentar!” sergahnya dengan napas terengah-engah. “Lututku gapapa, tapi sebentar. Pelan-pelan.”

Syukurlah. Aku sempat ketar-ketir kalau lukanya serius. Ia perlu waktu sebentar mengatur tenaga untuk bisa berdiri lagi. Beberapa menit kemudian setelah siap bangun, Indra menopang ransel sedangkan aku menarik kedua tangannya.

Jalur yang kami pilih, meskipun pendek, memang lebih terjal dan sempit. Ada jalur yang lebih bersahabat di belakang surau kecil yang dibangun penambang. Namun kami pilih yang paling dekat digapai.

Setelah Aiman mampu berdiri dan siap melangkah kembali, kuminta Jun melanjutkan perjalanan. Di satu sisi aku tak tega melihat kondisi Aiman. Tapi di sisi lain aku dengan kurang ajarnya tertawa—dalam hati tentu saja—dengan nasib tak enak yang menimpanya.

Setidaknya kalau aku hitung-hitung, jatuhnya Aiman di Pondokan adalah kesialan ketiga yang dialami di hari pertama pendakian kami.

BACA TULISAN SEBELUMNYA:
Senyawa Alas Lali Jiwo: Sebuah Pengantar (1)

*

Area warung Pet Bocor. Warung milik Bu Tris biasanya buka sejak pagi hingga petang. Namun saat sepi pendakian juga belum tentu buka. Kawasan ini berada di ketinggian sekitar 964 meter dari permukaan laut. Berjarak sekitar 20-30 menit dari tempat parkir. Ada sumber air bersih yang dialirkan melalui selang. Posisinya terletak di luar warung dan persis di pinggir kanan jalur pendakian ke arah puncak.
Foto oleh Bartian Rachmat (BlogInstagram).

Seperti kubilang di awal, Tretes adalah jalur primadona. Para pendaki yang melewati jalur ini adalah orang-orang yang selain bersahabat dengan waktu, juga siap bersahabat dengan batu.

Di Instagram, aku sempat membuat kiriman sebanyak lima seri beruntun. Tentang pengalamanku mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Salah satu yang spesial tentu saja jalur Tretes. Aku pertama kali pergi ke Arjuno lewat rute ini.

Sejak terakhir melintasi jalur yang bikin cenat-cenut pada Maret 2016, kondisi jalur pendakian relatif tidak terlalu banyak berubah. Pos-pos masih ada dan sesuai namanya. Sumber air tetap melimpah. Hanya perbedaan lokasi loket perizinan, yang kini dijadikan sebagai Pos 1 dan terletak persis di portal masuk kawasan Tahura R. Soerjo. Sekitar beberapa ratus meter di atas Pet Bocor. Pun beberapa vegetasi lebih rimbun karena pendakian sempat lama ditutup akibat pandemi Covid-19.

Selebihnya tetap sama. Gerbang wisata air terjun Kakek Bodo yang di belakang Hotel Surya Tretes, menjadi penyambut pendakian kami pada pukul 07.20 WIB (29/05/2021). Jalan aspal kemudian berganti jalur berupa beton yang sebagian sudah rompal, konsisten berkelok dan menanjak. Pemanasan pembuka sebelum akhirnya tiba di sebuah warung sederhana hampir setengah jam kemudian. Pemberhentian pertama. Ada sumber air di bagian luar warung yang dialirkan melalui selang.

Kami istirahat cukup lama di sini untuk menyantap sarapan. Bekal penting pengisi perut yang nyaris saja lupa dibawa. Kalau saja tidak diingatkan Eko dan Lidia, sudah pasti belasan nasi bungkus itu akan membusuk di bagasi mobil. Tapi toh jika baru kelingan ketika sampai di warung, rasanya malas untuk turun lagi dan mengambil bekal itu. Lebih baik menanak beras atau beli makanan di warung tersebut.

Bu Tris, pemilik warung itu, semringah ketika didatangi para pendaki yang membeli makanan atau minuman dagangannya. “Alhamdulillah, mugi-mugi tambah laris,” ucapnya sembari mengepak-ngepakkan berlembar uang ke atas tumpukan tahu petis panas.

Sementara suaminya, Pak Tris, berjualan di satu-satunya warung di Pos 2 Kokopan. Jaraknya sekitar 2,5-3 jam perjalanan dari Pet Bocor. Jika Bu Tris akan pulang begitu petang menjelang, Pak Tris baru akan turun gunung saat dagangannya sudah habis. Barangkali ini yang disebut mencari keberkahan dan hidup dari gunung. Seperti halnya Mbok Yem di Lawu atau warung-warung yang dimiliki warga lokal di ketinggian gunung lainnya.

Segelas teh panas bikinan sang putri, yang menemani Bu Tris menjaga warung, menutup sarapan kami. Sejam beristirahat lebih dari cukup untuk melanjutkan pendakian.

*

Pak Junaedi (kiri) memberikan pengarahan kepada kami di Pos 1 Perizinan Pendakian Tahura Raden Soerjo, Jalur Tretes, Pasuruan. Banyak catatan penting untuk diperhatikan demi keselamatan dan kesehatan pendaki.

Pemberhentian kedua adalah Pos 1, yang kami tempuh sepuluh menit saja dari Pet Bocor. Pos perizinan sekaligus pintu masuk kawasan konservasi Tahura Raden Soerjo. Titik awal pendakian Gunung Arjuno dan Welirang di jalur Tretes.

Beberapa tahun sebelumnya, pos ini kerap dibiarkan kosong dan tidak terawat. Perizinan pendakian diurus di pos jaga bawah yang kini sedang dalam pengelolaan BKSDA Jawa Timur. Kini sudah terdapat beberapa bangunan, di antaranya mes petugas dan musala panggung.

Petugas jaga pagi itu bukan Doni, melainkan Pak Junaedi. Orang yang sering kukirimi pesan WhatsApp dan bertanya seputar jalur pendakian Tretes. Termasuk meminta izin untuk registrasi sehari sebelum pendakian karena akan jalan pagi sebelum loket dibuka. Tentu saja dia tak ingat siapa diriku akibat banyaknya pesan yang masuk.

Satya berinisiatif meminta Pak Junaedi untuk memberikan taklimat dan arahan kepada tim kami. Ia bersedia. Kami diarahkan ke samping pos yang dinding sebelah kanannya tertempel peta jalur pendakian berukuran besar (klik gambar untuk melihat lebih jelas).

Aku mencatat sejumlah pesan penting dari Pak Junaedi. Pertama, memerhatikan cuaca dan kondisi fisik. Kedua, mengamati petunjuk-petunjuk di jalur pendakian, terutama ke arah puncak baik Arjuno maupun Welirang. Ketiga, berhati-hati dan menjaga barang-barang pribadi yang berharga.

Di saat bersamaan, terdapat sekelompok pendaki dari luar kota yang belum pernah sekalipun mendaki di jalur tersebut. Mereka juga diminta ikut menyimak dan disarankan jalan bareng kami. Jalur dari Pos 1 sampai Pos 3 Pondokan sangat jelas. Trek yang cukup samar dan rawan menyesatkan mungkin dari Lembah Kidang menuju puncak Arjuno.

“Semak-semaknya sudah tinggi dan rimbun. Maklum lama ditutup karena pandemi. Tapi jalan setapaknya masih kelihatan, kok. Kemudian jalur ke puncak, terutama sebelum pertigaan jalur Cangar di atas Watu Gede, itu lumayan rusak karena sempat longsor. Jadi, hati-hati,” jelas Pak Junaedi.

Kupikir pengarahan seperti ini sangat perlu bagi pendaki. Tanpa pandang bulu yang sudah berpengalaman atau belum di jalur tersebut. Terkadang petugas tidak selalu memberikan arahan, sehingga kuharap tim pendaki lainnya lebih berinisiatif karena akan sangat bermanfaat. Misalnya situasi cuaca terkini. Kami harus bersiap-siap dengan hujan atau badai yang bisa saja datang secara tiba-tiba.

Taklimat Pak Junaedi memperjelas dan memperbarui data yang kupegang. Satu informasi penting yang melegakan hati adalah sumber air di Lembah Kidang mengalir. Maka kami tidak perlu repot-repot membawa air dari Pondokan. Kami juga disarankan berkemah di Lembah Kidang 2. Tanah lebih bersih karena tertutup rerumputan, sangat dekat sumber air, dan lebih terlindung dari angin.

*

Pos 1 sekaligus batas kawasan konservasi Tahura Raden Soerjo, jalur pendakian Tretes. Trek berupa makadam siap mengurut lutut pendaki.

Bagaimanapun, doa keselamatan dan kesehatan yang disampaikan Pak Junaedi—beserta rekan yang sedang bertugas menjaga pos pendakian pagi itu—adalah sebenar-benarnya taklimat. Bagiku jimat tertinggi yang dimohonkan kepada Tuhan untuk membersamai dan menguatkan langkah kaki kami. Melengkapi doa-doa yang kami panjatkan sesaat sebelum berangkat.

Portal besi yang melintang di samping pos seolah menegaskan bahwa perjalanan kami baru saja dimulai. Batu-batu berbagai macam ukuran menyemut sepanjang jalur menuju Pos 2 Kokopan. Target pemberhentian kami selanjutnya untuk istirahat lama sekaligus makan siang.

Angka 09.15 tertera di layar arlojiku. Aku dan teman-teman harus pandai-pandai mengatur napas dan tenaga. Pendakian hari pertama akan sangat panjang. Bukannya pasrah, namun kami sudah siap jika harus terjala gulita di tengah perjalanan. Maka otakku pun turut memberikan taklimat. Senter kuletakkan di kantung tas yang mudah dijangkau dengan cepat, tanpa harus membongkar seisi tas.

(Bersambung)

16 Comments

  1. Andai aja disini ada juga gunung yang bisa didaki seperti itu, seru banget pastinya.
    Walau lelah, tapi setidaknya bisa menghibur diri dengan berkumpul bersama teman atau orang baru.
    Kalo mau mendaki seperti itu emang banyak yang harus dipersiapkan ya agar diperjalanan aman.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halo, Kak Hans. Mohon maaf baru sempat membalas, ya.

      Wah tinggal di mana, Kak? Ayo kapan-kapan mendaki bareng hehe. Tentu saja mendaki harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya 🙂

      Makasih sudah mampir, ya 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.