Senyawa Alas Lali Jiwo: Melawan Diri Sendiri (9)

Imajinasi tentang Lembah Kijang tidak terbawa ke mimpiku. Tak ada bunga-bunga penghias tidur yang singkat dan relatif kurang nyenyak. Sepertinya akibat suhu udara terlampau rendah, sehingga mampu menembus kantong tidur yang kupakai.

Eko menyadarinya. “Kademen ta, Pak?”

“Iyo, lumayan. Makane gak patio iso turu.”

Padahal aku sudah memakai kaus kaki. Memang tidak pakai jaket. Supaya saat bangun tubuh terbiasa dengan udara dingin. Tapi ini hanya alibiku. Nyatanya aku beberapa kali bangkit dari lelap dengan agak menggigil.

Kami berdua saat itu sama-sama terbangun. Indra belakangan. Aliko sempat bangun kemudian melanjutkan tidur. Sesuai diskusi semalam, dia tidak ikut naik. Sedangkan Bartian menyahut dari sebelah tenda. Ia siap mendaki ke Ogal-Agil—nama lain puncak Arjuno.

Aku merogoh bagian dalam tas selempang yang kutaruh di dekat kepala. Kuambil arloji yang terasa anyep. Waktu menunjukkan pukul 01.30. Walau masih ngantuk, kami harus memulai hari dengan sangat dini.

Agendanya akan sangat panjang dan melelahkan. Kalau sesuai rencana—walau sebenarnya sudah molor—kami akan ke puncak Arjuno, balik lagi ke tenda, berkemas, lalu turun ke Tretes. Inginnya tiba di pos perizinan sekitar magrib-isya. Inginnya begitu.

BACA TULISAN SEBELUMNYA:
Senyawa Alas Lali Jiwo: Kembali ke Peraduan (8)

Namun sejujurnya aku masih terbayang pendakian September 2014 silam. Bersama lima kawan lain, kami sudah turun dari puncak Arjuno di hari ketiga. Setibanya di Kopkopan sudah hampir pengujung petang. Kami bisa saja tetap lanjut pulang.

Tapi fisik dua temanku sudah kepayahan. Salah satu kakinya agak terkilir. Daripada berjalan pelan di tengah gelap, kami putuskan menambah semalam lagi di Kopkopan.

Beruntung kami masih ada sisa stok makanan. Beruntung pula di tempat yang juga disebut Pos 2 itu sudah ada sinyal seluler. Aku mengirim SMS ke petugas pos Tretes. Meminta izin tambahan hari dan akan membayar kekurangan biaya pendakian esoknya.

Maka di hari ketiga pendakian ini (31/05/2021), kami bisa saja mengalami hal serupa. Belum lagi soal cuaca. Lagi-lagi kukatakan alam tak bisa diprediksi. Tentu saja kami mengharapkan semuanya berjalan baik-baik saja. Walau juga tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan kami.

Pelan-pelan suhu dingin yang mengungkung area camp bisa kukendalikan. Aku dibantu Eko menyiapkan bekal di dalam tenda. Indra merebus air untuk minuman hangat sebelum berangkat.

Rendang bikinan Cecep akhirnya debut. Kukeluarkan dari panci alumunium yang disimpan di tas Aliko. Kami hangatkan sejenak dan dimasukkan ke kotak makan. Bercampur nasi sisa semalam yang masih cukup baik. Kami akan bawa ke puncak buat menu sarapan.

Tak lupa buah dan camilan-camilan ringan juga kami siapkan. Kemudian persediaan air yang dibawa setidaknya minimal 1,5 liter untuk masing-masing orang. Tas ransel besar kami tinggal di tenda. Berganti daypack kecil yang memuat logistik-logistik tersebut.

*

Rute pendakian dari Lembah Kidang, khususnya tempat berkemah, dimulai dengan langkah besar. Baru awal saja sudah tanjakan yang lumayan bikin ngos-ngosan.

Aku mengambil posisi paling belakang. Menjadi sweeper. Di depanku ada Indra, Bartian, dan Satya, kemudian Eko di urutan pertama. Meskipun adakalanya kuingin berhenti mengatur napas, tapi tetap kuusahakan berjalan perlahan. Mengikuti irama langkah teman-teman paling depan.

Tanjakan permulaan itu justru harus disyukuri. Otot kaki kami jadi lebih cepat tegang agar kuat menapak di bidang-bidang tanah untuk dipijak. Dan kuingat jalur awal ini belum seberapa menyedihkan. Masih ada yang lebih keterlaluan. Yang kami elus-elus bukan cuma dada, tapi juga lutut.

Jeda alias break pertama kami nikmati di ujung tanjakan. Sepetak hutan cemara gunung yang meriung kembali terbuka. Trek selanjutnya adalah bonus yang memanjakan kaki. Terbentang di tengah sabana. Dari sisi lain Lembah Kidang. Tebing hitam muram itu tetap mengawasi kami.

Rumput-rumput yang menjepit segaris jalan setapak tanah masih basah. Jika mendaki hanya menggunakan sandal gunung, seperti pernah kulakukan dahulu, rasanya seperti menginjak ubin rumah di Bromo atau Dieng. Termasuk tanaman-tanaman perdu sejak area camp, saat puncak musim hujan, bisa membasahi setinggi lutut. Belum lagi tanah akan becek dan meninggalkan noda yang membekas.

Jalur inilah yang seharusnya dilalui Fiersa Besari dan kawan-kawan beberapa waktu lalu. Bukan lurus sembilan puluh derajat dari arah camp. Kecuali rela memulai ekspedisi panjat tebing hingga puncak. Ibarat menapaktilasi pemanjatan sisi utara Gunung Eiger, Swiss, yang benar-benar merontokkan nyali.

Ketika pertama kali menyusuri trek ini pada Maret 2013, kebingungan sempat melanda. Sebabnya jalur pendakian malah tertutup rerumputan. Terdapat pula batu-batu hitam berserakan di setiap sisi. Mungkin batu-batu vulkanis bekas letusan masa lampau. Bahkan kami harus melompat dari satu batu ke batu lain.

Sampai-sampai nyaris saja kami berbelok arah secara drastis ke kiri. Memotong punggungan. Namun nihil. Satu-satunya pilihan adalah lurus. Bahwa memang jalur menuju puncak harus memutari punggungan terlebih dahulu. Pada akhirnya seutas tali plastik kecil menjadi petunjuk terang. Terikat di salah satu tanaman semak berduri.

Dari kawasan sabana berbatu tadi, kami mulai memasuki salah satu bagian dari Alas Lali Jiwo. Kami berlima sepakat istirahat sejenak di dekat Watu Gede. Tempat datar dengan batu besar yang permukaannya rata. Beberapa meter sebelum tanjakan sempit berdinding tanah. Seperti parit. Beralaskan kerakal-kerakal tak beraturan. Berdasarkan informasi Junaedi saat briefing, sebagian pijakannya longsor karena tergerus hujan.

Kami keluarkan camilan dari tas. Melahapnya bergantian. Aku tambahi dengan cairan herbal setelahnya. Obat masuk angin.

Aku sambil menengok arloji di tangan kiri. Sudah hampir sejam kami berjalan dari tenda. Ini belum mencapai setengah perjalanan.

Biskuit bekal pendakian ke puncak Arjuno
Salah satu camilan sejenis biskuit yang kami makan saat istirahat. — Foto-foto oleh Bartian Rachmat (Blog – Instagram)

*

Alas Lali Jiwo bagiku adalah garis batas. Sebuah persimpangan jalan. Seperti halnya Kalimati dan Kelik di Semeru. Atau Pasar Bubrah di Merapi. Atau Plawangan Sembalun di Rinjani.

Alas Lali Jiwo lebih dari sekadar romantika cerita sejarah atau misteri. Tentu saja, kami tetap wajib menghormati hutan megah ini. Serta ketentuan-ketentuan yang melekat padanya. Tapi kami tidak boleh melupakan sempadan yang ada di dalam tubuh rentan ini.

Lawan terbesar kami tak lain adalah diri kami sendiri. Ini selalu tentang ego, ego, dan ego; yang harus dilawan. Pantang terpancing hasrat sesaat yang menjerumuskan. Menjadi sebuah tantangan untuk menahan gegap gempita akan puncak gunung tertinggi.

Kami wajib melepas gengsi dan memahami kondisi masing-masing. Jika memang saatnya berhenti, maka berhentilah. Bila memang masih sanggup, maka teruskanlah. Namun dengan perlahan dan nikmati perjalanan.

Nuansa kelekatan Alas Lali Jiwo itu kurasakan sendiri. Aku menerjemahkannya lewat sensasi kantuk berat yang kurasakan. Tengkukku terasa kaku. Mataku lelah. Lutut merengek untuk bertelut. Berarti inilah saatnya aku mematuhi batasku dahulu.

Setelah dua jam berjalan, jarak di antara kami makin melebar. Eko diikuti Satya dan Bartian semakin jauh di depan. Samar-samar kulihat sorot headlamp di antara pepohonan. Kubiarkan mereka berjalan lebih cepat. Ada Eko yang memandu.

Sementara Indra menemaniku di belakang. Fisiknya lebih kuat dariku. Ia menyesuaikan irama langkahku.

Pagi di Alas Lali Jiwo

Sekitar beberapa pijak tanjakan di atas pertigaan jalur ke Cangar, aku meminta Indra berhenti. Di ketinggian hampir 2.850 mdpl. Fajar beralih ruang dan hari perlahan terang.

Kami menepi di sepetak tanah sempit. Hanya beberapa meter di tepi jurang dan dibatasi semak-semak setinggi dada. Tidak sampai mengganggu lalu-lintas pendaki.

“Aku mau salat Subuh dan rehat sebentar,” kataku.

Kebetulan di saat bersamaan Indra pun hendak hajat besar. Ia meminjam sekop kecil yang kubawa untuk membuat peturasan darurat.

Usai beribadah, aku lekas merebahkan diri. Berusaha menjadikan tubuh nyaman di tempat yang tidak terlalu ideal. Kepalaku bersandar di atas gundukan tanah lainnya yang lebih tinggi.

Kututupi mataku dengan bandana yang juga membalut kedua telinga. Di tengah embusan angin, kubiarkan cahaya matahari menerpa pipi. Sembari bersedekap, aku mulai melakukan ibadah selanjutnya: tidur.

(Bersambung)

5 comments

  1. Ping-balik: Senyawa Alas Lali Jiwo: Kembali ke Peraduan (8) | Papan Pelangi
  2. Ping-balik: Senyawa Alas Lali Jiwo: Arjuno, yang Kesekian Kalinya (10) | Papan Pelangi
  3. BaRTZap · 24 Days Ago

    Sebaliknya, tidurku selalu nyaman dan hangat lho Qy selama di Lembah Kidang. Aku sendiri bingung sama sleeping bag ku, karena kubeli ‘ngasal’, tak jelas merk dan spesifikasinya tapi selalu berhasil menghalau dingin. Tapi ada bahayanya juga sih, sering memancing ‘mager’😅

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · 21 Days Ago

      Wah, syukurlah kalau nikmat. Berarti memang cocok sama Lembah Kidang ini hahaha.

      Disukai oleh 1 orang

      • BaRTZap · 15 Days Ago

        Cocok sekali. Meskipun perlu niat amat sangat untuk kembali ke sana.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.