SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam

Buku Semesta Renjana karya Elisabeth Murni

Judul Buku: Semesta Renjana
Penulis: Elisabeth Murni
Penerbit: Laksana (Yogyakarta)
Tahun Terbit: 2020, Cetakan Pertama
Tebal Buku: 192 halaman (14×21 cm)
ISBN: 978-602-407-782-2
Kategori: Parenting

*

Elisabeth Murni harus tahu ini: saya adalah orang yang sangat antusias ketika ia akan menerbitkan buku terbarunya. Tepat di hari yang sama ia menulis peluncuran buku di blog Ransel Hitam (ranselhitam.com), saya langsung menghubunginya dan memesan buku lewat WhatsApp.

Mengapa saya harus antusias? Barangkali ada satu jawaban. Sasha—panggilan akrabnya—adalah orang yang digambarkan persis seperti slogan di blognya: dream, journey, dan discover. Bersama keluarga kecilnya, ia adalah orang yang percaya pada kekuatan mimpi. Kemudian mewujudkannya dengan berjalan dan bertualang, serta menemukan banyak hal baru, yang seringkali tiada disangka-sangka. Bahkan di suatu tempat yang tak jauh dari rumah.

Semesta Renjana adalah salah satu bukti dan puncak kekuatan mimpi itu.

Continue reading “SEMESTA RENJANA: Belajar dari Keluarga Kecil Pencinta Alam”

“SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan”, Sebuah Upaya Menjemput Angan

SELESA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan

Kamis pagi, 11 Maret 2021, bertepatan hari libur nasional Isra Mikraj, saya meluncurkan buku solo pertama saya: SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan. Saya membuka prapesan (Periode I) buku terbitan Sulur Pustaka tersebut selama dua pekan hingga 25 Maret 2021.

Secara keseluruhan, SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan merupakan buku kedua saya setelah To Ado Re: A Memorable Adventure to the Land of Exotic Beauty, sebuah proyek antologi yang dikerjakan bersama sejumlah travel blogger lainnya pada 2018 lalu.

Continue reading ““SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan”, Sebuah Upaya Menjemput Angan”

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Ditahbiskan sebagai yang terbaik di bidang teknologi dalam ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 seperti menjadi puncak pencapaian I Gede Merta Yoga Pratama. Namun ketika dijumpai di kantornya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Badung (24/12/2020), mimik wajah dan nada bicara pria kelahiran Gobleg, Buleleng, 23 September 1996 itu memberi kesan tentang rasa tak ingin berpuas diri.

“Kami harus terus berimprovisasi. Itu tantangan kami,” tegasnya.

Dari balik masker, mata Yoga–sapaan akrabnya–nyalang memandang saya. Ia kembali membuka labirin memori. Mundur lima tahun ke belakang. Menguak lika-liku perjuangan demi niat mulia: membuat nelayan tradisional lebih sejahtera.

Continue reading “Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali”

Candu Ayam Panggang Gandu

Dwi (kiri), anak kedua Suryani, dibantu pegawai di sebelahnya menyiapkan dan memilah ayam-ayam yang akan dipanggang ketiga kalinya sebelum disajikan kepada pelanggan. Sejak kecil ia membantu usaha ayam panggang ibunya di rumah yang juga menjadi warung makan bernama Depot Ayam Panggang Miroso Bu Hj. Suryani, Desa Gandu, Kecamatan Karangrejo, Magetan.

“Ibu mulai merintis usaha sejak 1988,” kata Dwi.

Awalnya Hj. Suryani (58 tahun) berjualan aneka masakan berbahan baku ayam seperti garang asem, ayam bumbu rujak, dan ayam panggang. Keliling dari desa ke desa dengan sepeda onthel. Delapan tahun kemudian, ia memberanikan diri membuka usaha kuliner ayam panggang secara menetap di rumah peninggalan neneknya.

Continue reading “Candu Ayam Panggang Gandu”

[Foto] Gapura Gaib Lawu via Singolangu

Pos 1 Kerun-Kerun Gunung Lawu Jalur Singolangu
Sejumlah pendaki sedang beristirahat di Pos 1 Kerun-Kerun, jalur pendakian Gunung Lawu via Singolangu, Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Singolangu dikenal sebagai jalur klasik untuk menapaktilasi perjalanan Prabu Brawijaya V ke Gunung Lawu.

Pos di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini hanya berupa gubuk sederhana beratap seng. Normalnya, pendaki mencapai tempat ini setelah berjalan 1,8 kilometer selama kurang lebih 60 menit dari pos pendakian (basecamp). Treknya kombinasi antara ladang pertanian milik warga, rumput gajah, dan hutan pinus.

Continue reading “[Foto] Gapura Gaib Lawu via Singolangu”