Gunung Arjuno dilihat dari daerah Mojolangu, kota Malang

Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan

Lantunan doa dan azan kedua sudah dikumandangkan sang bilal. Suaranya menggema di dalam masjid yang sederhana bernuansa hijau ini, juga di keluaran corong yang dipasang di luar masjid. Dalam hitungan detik, sang khotib bangkit dari duduk dan memulai khotbah dari atas mimbar coklat. Sepintas itu pula, sang bilal gantian duduk.

Seperti biasa, awal khotbah Jumat selalu dimulai dengan ajakan bertakwa. Mematuhi perintah Allah, menjauhi segala larangan-Nya. Bukan biasa sih, memang sudah anjuran dalam kitab fikih.

Continue reading “Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan”

Danau Segara Anak, Gunung Rinjani

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi

Saya berdiri di bawah atap Pos III, menghadap dan menatap nanar Bukit Penyesalan. Begitu pun keempat rekan setim.

Kami sudah melahap separuh perjalanan dari Desa Bawak Nao, titik awal pendakian.

Continue reading “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi”

Pasukan Paji Nyili-Nyili di Sonine Salaka, Kadato Kie, dalam upacara puncak Festival Hari Jadi Tidore ke-909 tahun 2017

Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)

Malam itu (11/4/2017) pukul 21.30 WIT, kami berkesempatan menyaksikan persiapan pelepasan Paji Nyili-Nyili tak jauh dari Pelabuhan Rum. Kami baru saja bersilaturahmi ke kediaman nenek Aminah Sabtu. Seorang nenek pejuang. Penjahit bendera merah putih yang pertama kali berkibar di Tidore pada 1946 silam.

Di lokasi pelepasan, telah bersiap para pasukan Paji Nyili-Nyili. Pakaiannya serba hitam. Orang-orang itu dari wilayah Mareku. Saya menumpang perahunya saat Parade Juanga. Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. H. Ali Ibrahim.

Lampu-lampu permukiman yang akan dilintasi Paji Nyili-Nyili hampir seluruhnya dipadamkan. Digantikan sementara oleh obor kecil sederhana yang dipasang di muka rumah-rumah warga. Membuat suasana temaram. Kontras dengan kota tetangga, Ternate, yang gemerlap di kaki Gunung Gamalama.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Parade Juanga (6)

Sepagi ini kami sudah bersiap. Sesuai instruksi, kami mengenakan atasan putih dan bawahan bebas rapi. Baju koko putih yang semalam saya gunakan saat Rora Ake Dango, saya pakai lagi. Begitu pun celana kain hitam. Untuk perempuan, rata-rata menggunakan bawahan batik.

Sebelum berangkat ke Kadato Kie (istana Kesultanan Tidore), kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Sarapan khas nasi kuning telah tersaji di meja ruang makan Penginapan Seroja. Acara inti hari ini (10/4/2017), Parade Juanga, merupakan perjalanan laut menapaktilasi perjuangan Sultan Nuku. Dari dermaga kesultanan di Soasio, Tidore, menuju Ternate.

Saya mulai membayangkan adegan seperti di film-film. Berada di kapal-kapal berpasukan siap tempur, mendampingi raja berperang melawan penjajah. Menerjang gelombang, menembus badai.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Parade Juanga (6)”