Bukit Tanjung Kajuwulu Maumere Flores

Sore yang Dijanjikan di Kajuwulu

Mulanya yang terlihat adalah hamparan laut di pantai utara Flores. Di atasnya menjulang bukit-bukit yang sebagian masih kuning dan kering. Kemarau belum berlalu. Termasuk tanah bertugu salib yang kami pijak sore itu.

Kemudian hawa terik dan kering berangsur menghangat dan sejuk. Mbak Nur, dokter gigi lulusan Jogja yang rumahnya saya singgahi, benar-benar membuktikan bahwa rayuannya tidak sekadar bualan.

Continue reading “Sore yang Dijanjikan di Kajuwulu”

Jatuh, Lalu Bangkit Lagi (2)

Pada suatu dini hari di halaman sebuah rumah. Di bilangan Kalasan, timur laut kota Yogyakarta. Terparkir sebuah mobil milik koperasi bandara. Sesosok laki-laki terduduk di kursi sopir. Jendela mobil terbuka sedikit. Hanya bisa dimasuki seukuran telapak tangan.

Usai subuh, terang menjelang. Seorang perempuan membuka pintu rumah. Dia agak tergopoh menuju mobil itu. Mulanya mengetuk kaca pintu sopir. Memanggil nama laki-laki yang tampak tak terusik di depan kemudi.

“Pak? Bapak?” Pria itu bergeming.

Raut wajah si Ibu berubah. Panik, dia mencoba membuka pintu. Klek! Ternyata tidak dikunci. Ia mengguncang-guncang tubuh lelaki yang masih saja diam. “Pak? Bapak?” Panggilannya tak berbalas. Refleks tangannya menyentuh wajah dan lengan pria paruh baya itu.

“Ya, Allah!” Teriak sang Ibu. Makin panik. Begitu dipastikan tak adanya embusan napas dan berhentinya denyut nadi, dia pun lunglai dan seketika pingsan. Pria yang terduduk di kursi kemudi itu, suaminya sendiri, telah meninggal dunia.

Continue reading “Jatuh, Lalu Bangkit Lagi (2)”

OCD Beach Cafe & Hostel Kupang

Saya menempati kamar di lantai dua rumah berarsitektur sasando. Strukturnya dari tiga jenis bambu berbeda: Bambu betung untuk tiang, bambu hutan untuk atap, dan bambu biasa untuk hiasan.

Butuh biaya 30 juta untuk membangun utuh rumah sasando bertingkat. lebih mahal dari dua rumah bambu satu lantai di Sebelahnya. Uang segitu sama dengan modal memermak satu mobil angkutan kota di Kupang, yang penuh aksesori dan full music.

Continue reading “OCD Beach Cafe & Hostel Kupang”

Revan, penjaga toilet Pasar Grosir Solo

Di Depan Peturasan

“Saya juga asli Pacitan, Mas,” katanya. Ia menyebut kota kelahirannya. Desanya, Ketro, berjarak satu jam ke arah timur kota Pacitan. Berlika-liku jalannya.

Obrolan kami bermula darinya usai saya kencing. Basa-basi biasa. Menanyakan asal dan urusan saya di Solo. “Kami baru saja dari Pacitan. Ngantar nenek, lalu liburan ke sini,” kata saya.

Lalu saya jongkok di samping lelaki ceking itu. Kami bertukar cerita di depan kamar mandi yang dijaganya. Nylempit di pojok lantai empat Pusat Grosir Solo.

Continue reading “Di Depan Peturasan”

Suguhan Pagi di Poto Tano

Saya terbangun. Memicingkan mata, mengintip di celah-celah dinding kayu rumah. Kampung ini sudah bergeliat. Suara ayam berkokok, kambing mengembik, dan sayup-sayup suara orang bersahutan. Sudah pagi.

Embusan angin yang memasuki rumah membuat saya merapatkan selimut. Namun, keinginan melanjutkan tidur urung karena terdengar derap kaki menapaki tangga.

Pintu rumah panggung ini rupanya tidak dikunci. Sesosok perempuan membukanya dan masuk. Ternyata Suhar, istrinya Irfan. “Maaf, Mas. Bapak mendadak antar tamu dari Jakarta ke Kenawa. Baru saja,” katanya tersenyum.

Continue reading “Suguhan Pagi di Poto Tano”