Suguhan Pagi di Poto Tano

Saya terbangun. Memicingkan mata, mengintip di celah-celah dinding kayu rumah. Kampung ini sudah bergeliat. Suara ayam berkokok, kambing mengembik, dan sayup-sayup suara orang bersahutan. Sudah pagi.

Embusan angin yang memasuki rumah membuat saya merapatkan selimut. Namun, keinginan melanjutkan tidur urung karena terdengar derap kaki menapaki tangga.

Pintu rumah panggung ini rupanya tidak dikunci. Sesosok perempuan membukanya dan masuk. Ternyata Suhar, istrinya Irfan. “Maaf, Mas. Bapak mendadak antar tamu dari Jakarta ke Kenawa. Baru saja,” katanya tersenyum.

Continue reading “Suguhan Pagi di Poto Tano”

Orang-orang Gurabunga

Tarian Kapita khas Tidore

Seorang anak seusia Sekolah Dasar (SD) sedang duduk di atas rumput. Mengamati teman-temannya yang lain sedang main bola sore itu. ‘Tiang-tiang’ gawangnya hanya sandal lusuh yang ditumpuk-tumpuk. Panjang ‘arena’ permainannya tak sampai 20 meter.

Saya yang awalnya hanya memotret mereka, mendadak berubah pikiran. “Adik, saya boleh ikut?” Tanya saya ke mereka.

Sesaat mereka saling memandang, lalu salah satu di antaranya berseru, “Kakak gabung di tim sana!” Bocah berambut cepak itu menunjuk ke arah gawang sandal yang dekat dengan pagar SD Negeri Gurabunga. Saya menjadi lawannya, sedangkan seorang anak SD yang dari tadi hanya duduk mengamati, ikut bergabung di tim bocah berambut cepak itu.

Bagi saya, diterima bermain bola di antara mereka adalah satu dari banyak kebaikan yang saya terima di Gurabunga.

Continue reading “Orang-orang Gurabunga”

Pulau Menjangan

Berfoto di ujung perahu berlatar pasir putih Pulau Menjangan

Definisi kebahagiaan dapat dijumpai pada laut. Ketika Miranda Hart, aktris dan komedian Inggris, berkata bahwa, “Aku hanya benar-benar, sungguh-sungguh dan sepenuhnya bersantai sendiri. Beri aku kursi berjemur, kolam renang dan pemandangan laut, dan aku bahagia.”, kiranya saya merasa lebih dari itu.

Bersama sejumlah teman, kami merasa tak cukup hanya dengan duduk dan memandang laut.

Continue reading “Pulau Menjangan”

Frans Maumere

Maumere

Di suatu malam, saya hendak balik ke Malang. Naik bus patas dari terminal Purabaya, Sidoarjo. Tempat duduk sudah hampir penuh. Saya dapat kursi paling belakang.

Sesaat setelah duduk, tiba-tiba pundak saya ditepuk oleh seseorang di samping kanan. Raut wajahnya khas Indonesia timur. Perempuan berpakaian serba hitam tertidur di sebelahnya. Agak lirih dia bertanya, “Mas, ke Malang biasanya berapa lama?”

Saya menjawab, “Dua jam, Pak, kalau lancar.” Dia mengangguk. Kemudian kami tak saling ngobrol saat bus berangkat. Mereka berdua lebih banyak memejamkan mata.

Continue reading “Frans Maumere”

Kereta Api

Stasiun Malang

Sudah lama saya tidak naik kereta api (KA) dari stasiun yang dibangun pada 1941 ini. Stasiun Malang. Sebagian warga setempat menyebut stasiun di ketinggian 444 meter dari permukaan laut (mdpl) ini sebagai “Malang Kotabaru”. Penyebutan tersebut dipakai untuk membedakan dengan Stasiun Malang Kotalama yang berusia 62 tahun lebih tua.

Terakhir kali, waktu ke Jakarta. Dua tahun lalu. Tunggangan saya saat itu adalah kuda besi sejuta umat: Matarmaja, trayek Malang-Pasar Senen pulang-pergi (PP). Kereta api kelas ekonomi yang laris bak gorengan hangat di pengujung petang. Pula, pujaan pendaki dari Jakarta dan sekitarnya yang akan mendaki Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Continue reading “Kereta Api”