Tenda kami di Telaga Dringo

Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari

Maaf. Pantat saya terasa menipis. Bahasa gaulnya “tepos”. Perjalanan dari Yogyakarta hingga benar-benar berhenti di tempat ini sungguh tak singkat. Dan kebetulan lebih sering berposisi sebagai yang dibonceng. Memanggul carrier 75+10 liter yang menarik-narik tubuh, ketika motor menapak tanjakan itu rasanya melelahkan.

Akhirnya. Tak menyangka sebenarnya kami berdua sampai di tempat ini. Saya dan Uki merasa beruntung menginjakkan kaki di sini, sebelum hujan turun terlampau deras. Walau memang, saat mendirikan tenda kami agak tergesa karena rintik gerimis semakin deras. Tetapi, setelah tenda berdiri kokoh, gerimis mulai perlahan mereda.

 

Di dalam tenda, kami berdua mengungkit kembali perjuangan perjalanan dari Yogya. Dan masuk di kabupaten yang menaungi tempat cantik ini, kami beruntung bertemu orang-orang yang ramah. Mereka yang dengan murah senyum menunjukkan arah tempat yang akan kami tuju.

“Dringo? Dringo?” tanya seorang petani yang baru pulang dari ladang.

Petani itu mengucapkan kata Dringo dengan lafal “o” yang berbunyi seperti pada kata “ijo”. Entah, saya kadung akrab melafalkan dengan bunyi “o” seperti pada “buto”. Dan akhirnya, saya malah nyaman dengan pelafalan Bapak petani tadi. Sudahlah.

Inggih, Pak, Telogo Dringo, pripun arahipun?” (1)

Continue reading “Telaga Dringo: Sunyi, Jawaban Yang Dicari”

Istana Pakualaman Yogyakarta

Sugeng Enjing, Pakualaman

Suara riuh di dalam warnet kembali membangunkan tidur saya. Rupanya sudah Subuh. Sebelum hari beranjak semakin terang, saya segera membangunkan Uki. Rekan perjalanan kelahiran Kudus itu benar-benar terlelap. Matanya masih sayu tanda enggan meninggalkan mimpi.

Diikuti Uki, saya menyeret kaki menuju Masjid Besar Pakualaman. Bukan, bukan untuk pindah tempat tidur. Tetapi untuk menunaikan salat Subuh. Air wudunya menyegarkan. Salat pun terasa teduh. Terpenting, saya bisa salat tepat waktu.

Continue reading “Sugeng Enjing, Pakualaman”