OCD Beach Cafe & Hostel Kupang

Saya menempati kamar di lantai dua rumah berarsitektur sasando. Strukturnya dari tiga jenis bambu berbeda: Bambu betung untuk tiang, bambu hutan untuk atap, dan bambu biasa untuk hiasan.

Butuh biaya 30 juta untuk membangun utuh rumah sasando bertingkat. lebih mahal dari dua rumah bambu satu lantai di Sebelahnya. Uang segitu sama dengan modal memermak satu mobil angkutan kota di Kupang, yang penuh aksesori dan full music.

Continue reading “OCD Beach Cafe & Hostel Kupang”

Di Depan Peturasan

Revan, penjaga toilet Pasar Grosir Solo

“Saya juga asli Pacitan, Mas,” katanya. Ia menyebut kota kelahirannya. Desanya, Ketro, berjarak satu jam ke arah timur kota Pacitan. Berlika-liku jalannya.

Obrolan kami bermula darinya usai saya kencing. Basa-basi biasa. Menanyakan asal dan urusan saya di Solo. “Kami baru saja dari Pacitan. Ngantar nenek, lalu liburan ke sini,” kata saya.

Lalu saya jongkok di samping lelaki ceking itu. Kami bertukar cerita di depan kamar mandi yang dijaganya. Nylempit di pojok lantai empat Pusat Grosir Solo.

Continue reading “Di Depan Peturasan”

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi

Danau Segara Anak, Gunung Rinjani

Saya berdiri di bawah atap Pos III, menghadap dan menatap nanar Bukit Penyesalan. Begitu pun keempat rekan setim.

Kami sudah melahap separuh perjalanan dari Desa Bawak Nao, titik awal pendakian.

Continue reading “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi April 2018: Gunung Rinjani, Bersujud di Singgasana Sang Dewi”