Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute

Klinik Menulis Feature bersama Tempo Institute

Pada 26-29 Oktober 2017 kemarin, saya berkesempatan mengikuti Klinik Menulis Feature (ficer) yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Lokasi pelatihan di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat. Selama empat hari, dimulai pukul 09.00 hingga 17.00, saya bersama tujuh peserta lainnya belajar menulis ficer. Dari teori hingga praktik.

Setelah teori di dua hari pertama, kami diajak praktik fotografi jurnalistik dan menyusun bahan tulisan di Kebun Raya Bogor, Sabtu (28/10). Sepulang dari Kebun Raya Bogor (KRB), kami diberi tugas menulis untuk dibedah keesokan harinya, hari terakhir pelatihan.

Saya mendapat ide tulisan seusai kencing di toilet dekat Taman Meksiko, KRB. Jamban tersebut dijaga oleh satu orang. Maka, ide dan angle tulisan adalah:

Ide: Toilet di Kebun Raya Bogor
Angle: Apa suka dan duka menjadi penjaga toilet di Kebun Raya Bogor?

Continue reading “Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute”

Menjadi Jogja, dan Menjaganya Tetap Istimewa

Desa Wisata Malangan

Jogja, Jogja, tetap istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya…

Jogja, Jogja, tetap istimewa, Jogja istimewa, untuk Indonesia…

Di atas adalah potongan lirik lagu Jogja Tetap Istimewa karya Jogja Hip Hop Foundation. Lagu perpaduan rap dan gamelan yang wajib ada di daftar putar lagu saya, baik di gawai maupun komputer. Satu dari sekian banyak lagu tentang Jogja, yang entah mengapa selalu menggugah benak.

Barangkali romansa pada saya awalnya ditularkan oleh kedua orang tua saya. Meskipun tidak lahir di Jogja, keduanya pernah kuliah di salah satu universitas negeri di sana. Bagi mereka, Jogja menjadi tempat bertemu yang istimewa dan menjadi awal merajut hidup. Karena itulah saya tak ragu menyebut Jogja sebagai rumah kedua, setelah kampung kelahiran saya di Pacitan.

Continue reading “Menjadi Jogja, dan Menjaganya Tetap Istimewa”

Beranjangsana ke Desa Wisata Malangan

Desa Wisata Malangan

Pagi itu di sekretariat Desa Ekowisata Pancoh, sosok pria berbadan tegap sedang duduk bersila. Pakaiannya necis. Kemudian ia berdiri dan sigap menyalami kami, tim #EksplorDeswitaJogja yang menghampirinya. Kami baru saja selesai berkegiatan di Pancoh dan akan melanjutkan ke Malangan, Sleman. Ia menanyakan nama kami satu per satu. “Saya Wiji,” ia memperkenalkan diri

Nama lengkapnya Wiji Raharjo. Dapat dikatakan, ia adalah pemandu senior di Desa Wisata Malangan, Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Keramahannya seakan menjadi jaminan, bahwa Malangan akan selalu lekat dalam benak kami

Hannif, rekan bloger dari Klaten, dalam artikelnya menyebut Malangan sebagai tempatnya para seniman. Satu-satunya empu tempa pamor keris Yogyakarta ada di sini. Batik dan budidaya perikanan juga sedang berkembang. Perajin bambu khas Malangan yang terkenal juga ada di sini.

Dengan bersepeda, Wiji dan kawan-kawan mengajak kami berkeliling desa. Menyusuri jalan kampung. Blusukan di gang-gang. Menyisir sawah. Ada sejumlah titik pemberhentian pokok yang kami singgahi. Mulai dari sanggar batik, tempat pembuatan keris, kolam budidaya ikan tawar hingga pusat kerajinan bambu.

Continue reading “Beranjangsana ke Desa Wisata Malangan”

Menyatu dengan Alam di Desa Ekowisata Pancoh

Desa Ekowisata Pancoh

 Tuk…

Suara itu mengalami jeda beberapa saat. Ketika air dari satu bambu kembali memenuhi bambu lain di bawahnya, suara itu terdengar lagi.

Tuk…

Surthong, adalah sebutan dari rangkaian alat tersebut. Suaranya terdengar nyaring dan khas. Irama dalam jeda yang menghiasi keseharian masyarakat Dusun Pancoh. Selain kokok ayam, dan hawa sejuk di antara pohon-pohon salak yang seperti perisai kampung itu sendiri. Menyatu dengan alam.

Ya, salak, komoditas hortikultura yang menghidupi Pancoh, Kelurahan Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Salah satu sentra Salak Sleman yang telah mendunia.

Continue reading “Menyatu dengan Alam di Desa Ekowisata Pancoh”

Desa Wisata Kebonagung

Desa Wisata Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Sore yang cukup gerah di Kebonagung. Kami, tim #EksplorDeswitaJogja, duduk melingkari meja di dalam sekretariat desa wisata. Mencermati informasi-informasi seputar desa wisata ini dari seorang Dalbiya.

Pria kelahiran Bantul 54 tahun silam itu sangat bersemangat ketika bicara. Gaya bicaranya cepat. Sekali berhenti cerita, kami memancingnya dengan pertanyaan. Lelaki berkacamata itu akan kembali menjawab dengan cerita-cerita. Suka dan dukanya terlibat dalam desa wisata. “Saya kalau cerita bakal panjang. Kayak curhat,” katanya. Kami tertawa.

Setelah kurang lebih setengah jam berbincang sejak kami datang, Dalbiya memberi isyarat berhenti curhat. “Sekarang silakan melihat gejog lesung dulu.” Saya melongok ke luar jendela sekretariat.

Continue reading “Desa Wisata Kebonagung”