“SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan”, Sebuah Upaya Menjemput Angan

SELESA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan

Kamis pagi, 11 Maret 2021, bertepatan hari libur nasional Isra Mikraj, saya meluncurkan buku solo pertama saya: SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan. Saya membuka prapesan (Periode I) buku terbitan Sulur Pustaka tersebut selama dua pekan hingga 25 Maret 2021.

Secara keseluruhan, SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan merupakan buku kedua saya setelah To Ado Re: A Memorable Adventure to the Land of Exotic Beauty, sebuah proyek antologi yang dikerjakan bersama sejumlah travel blogger lainnya pada 2018 lalu.

Lanjutkan membaca ““SELÉSA: Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan”, Sebuah Upaya Menjemput Angan”

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali

Ditahbiskan sebagai yang terbaik di bidang teknologi dalam ajang Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2020 seperti menjadi puncak pencapaian I Gede Merta Yoga Pratama. Namun ketika dijumpai di kantornya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Badung (24/12/2020), mimik wajah dan nada bicara pria kelahiran Gobleg, Buleleng, 23 September 1996 itu memberi kesan tentang rasa tak ingin berpuas diri.

“Kami harus terus berimprovisasi. Itu tantangan kami,” tegasnya.

Dari balik masker, mata Yoga–sapaan akrabnya–nyalang memandang saya. Ia kembali membuka labirin memori. Mundur lima tahun ke belakang. Menguak lika-liku perjuangan demi niat mulia: membuat nelayan tradisional lebih sejahtera.

Lanjutkan membaca “Menjaring Berkah Bahari dari Para Nelayan Berdasi Bali”

Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)

Pasukan Paji Nyili-Nyili di Sonine Salaka, Kadato Kie, dalam upacara puncak Festival Hari Jadi Tidore ke-909 tahun 2017

Malam itu (11/4/2017) pukul 21.30 WIT, kami berkesempatan menyaksikan persiapan pelepasan Paji Nyili-Nyili tak jauh dari Pelabuhan Rum. Kami baru saja bersilaturahmi ke kediaman nenek Aminah Sabtu. Seorang nenek pejuang. Penjahit bendera merah putih yang pertama kali berkibar di Tidore pada 1946 silam.

Di lokasi pelepasan, telah bersiap para pasukan Paji Nyili-Nyili. Pakaiannya serba hitam. Orang-orang itu dari wilayah Mareku. Saya menumpang perahunya saat Parade Juanga. Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk Wali Kota Tidore Kepulauan, Capt. H. Ali Ibrahim.

Lampu-lampu permukiman yang akan dilintasi Paji Nyili-Nyili hampir seluruhnya dipadamkan. Digantikan sementara oleh obor kecil sederhana yang dipasang di muka rumah-rumah warga. Membuat suasana temaram. Kontras dengan kota tetangga, Ternate, yang gemerlap di kaki Gunung Gamalama.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Paji Nyili-Nyili dan Upacara Puncak (7-habis)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Parade Juanga (6)

Sepagi ini kami sudah bersiap. Sesuai instruksi, kami mengenakan atasan putih dan bawahan bebas rapi. Baju koko putih yang semalam saya gunakan saat Rora Ake Dango, saya pakai lagi. Begitu pun celana kain hitam. Untuk perempuan, rata-rata menggunakan bawahan batik.

Sebelum berangkat ke Kadato Kie (istana Kesultanan Tidore), kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Sarapan khas nasi kuning telah tersaji di meja ruang makan Penginapan Seroja. Acara inti hari ini (10/4/2017), Parade Juanga, merupakan perjalanan laut menapaktilasi perjuangan Sultan Nuku. Dari dermaga kesultanan di Soasio, Tidore, menuju Ternate.

Saya mulai membayangkan adegan seperti di film-film. Berada di kapal-kapal berpasukan siap tempur, mendampingi raja berperang melawan penjajah. Menerjang gelombang, menembus badai.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Parade Juanga (6)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Rora Ake Dango (5)

Setelah hari sebelumnya dimeriahkan bazar, petang ini (9/4/2017) kami kembali naik ke Sonine Gurua (Gurabunga).

Kondisinya sedikit berbeda dibandingkan acara semalam. Ada beberapa perubahan dekorasi, menyesuaikan tema acara malam ini.

Kursi-kursi tamu undangan di bawah tenda menghadap ke arah masjid. Ke arah Gunung Marijang. Filosofinya adalah memohon berkah Yang Maha Kuasa, sebagai rasa syukur akan gunung yang menghidupi Gurabunga.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Rora Ake Dango (5)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Meriung di Kaki Gunung (4)

Desa Gurabunga Tidore

Acara malam di Gurabunga (8/4/2017) itu termasuk rangkaian awal Festival Hari Jadi Tidore ke-909. Jadi, sebuah gelaran seni dan budaya. Namun, bukan hanya itu saja yang merebut daya pikat kami.

Ada dua tenda utama di tengah lapangan. Satu tenda menghadap timur. Ke arah panggung. Di bawahnya berderet rapi kursi-kursi plastik serta sofa untuk tamu kehormatan.

Satu tenda lainnya ada di sisi utara, dekat dengan pagar SD Negeri Gurabunga. Di sanalah bazar kuliner berada.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Meriung di Kaki Gunung (4)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Kelana Rasa Antara Rum-Safira (3)

Kuliner Tidore

Keberangkatan dari Bandara Juanda, Sidoarjo, adalah sepak mula hal-hal yang mengejutkan bagi saya. Mencecap pengalaman-pengalaman baru dan seru. Karena, semuanya serba pertama. Termasuk urusan makan. Menu apa yang dimakan, dengan siapa dan di mana kami makan.

Seperti saat itu, Sabtu pagi yang cerah di Pelabuhan Rum, Kota Tidore Kepulauan.

Setelah puas memotret pemandangan sepanjang Ternate-Rum, ada aba-aba untuk berkumpul. Muhammad Gathmir membawa kresek hitam berisi belasan nasi bungkus. Menu sarapan telah datang.

Tanpa komando berlebihan, kami tergerak sendirinya untuk duduk melingkar. Di atas lantai kayu dermaga. Di tengah lalu-lalang pengguna jasa pelabuhan. Di tengah kesibukan awak kapal mengangkut motor penumpang. Di tengah hiruk-pikuk, kami dengan santainya membuka bungkusan dan melahap isinya: nasi uduk, ikan goreng, mi goreng, telur balado, dan sambal. Sesekali bergeser memberi jalan penumpang dan motor yang akan naik kapal.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Kelana Rasa Antara Rum-Safira (3)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)

Pulau Maitara (kanan) dan Tidore dengan Gunung Marijang yang tertutup awan

Roda pesawat menyentuh aspal landasan pacu. Meskipun bersabuk pengaman, saya tetap tersentak. Tubuh yang duduk tegak sempat terangkat satu-dua kali. Lalu condong ke depan beberapa saat. Kedua telapak tangan mencengkeram pegangan kursi.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara spoiler dan sirip menderu dari kedua sayap pesawat. Seperti berada dalam bus yang direm mendadak ketika kendaraan di depannya melambat.

Tepat beberapa meter sebelum ujung landasan, pesawat melambat dan langsung putar balik. Menuju apron Bandara Sultan Babullah, Ternate.

Untuk pertama kalinya, saya bersama Zulfa dan Eko menginjakkan kaki di wilayah Provinsi Maluku Utara. Dua jam lebih cepat dari Jawa.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)

Gapura Kadato Kie, Istana Kesultanan Tidore

Mengunjungi Tidore pada pertengahan April 2017 lalu, ibarat beralih jenjang pendidikan. Mencecap pengalaman yang serba pertama, baru, dan seru. Menikmati dan mempelajari banyak hal, seperti orang-orangnya, tradisinya, dan alamnya.

Semua bermula dari partisipasi dalam lomba menulis blog bertema “Tidore Untuk Indonesia”. Lomba yang digelar sejak tanggal peluncurannya (12/2/2017) sampai tenggat akhir 18 Maret 2017.

Lanjutkan membaca “Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)”

Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute

Klinik Menulis Feature bersama Tempo Institute

Pada 26-29 Oktober 2017 kemarin, saya berkesempatan mengikuti Klinik Menulis Feature (ficer) yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Lokasi pelatihan di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat. Selama empat hari, dimulai pukul 09.00 hingga 17.00, saya bersama tujuh peserta lainnya belajar menulis ficer. Dari teori hingga praktik.

Setelah teori di dua hari pertama, kami diajak praktik fotografi jurnalistik dan menyusun bahan tulisan di Kebun Raya Bogor, Sabtu (28/10). Sepulang dari Kebun Raya Bogor (KRB), kami diberi tugas menulis untuk dibedah keesokan harinya, hari terakhir pelatihan.

Saya mendapat ide tulisan seusai kencing di toilet dekat Taman Meksiko, KRB. Jamban tersebut dijaga oleh satu orang. Maka, ide dan angle tulisan adalah:

Ide: Toilet di Kebun Raya Bogor
Angle: Apa suka dan duka menjadi penjaga toilet di Kebun Raya Bogor?

Lanjutkan membaca “Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute”