Dari Tidore untuk Indonesia: Kelana Rasa Antara Rum-Safira (3)

Kuliner Tidore

Keberangkatan dari Bandara Juanda, Sidoarjo, adalah sepak mula hal-hal yang mengejutkan bagi saya. Mencecap pengalaman-pengalaman baru dan seru. Karena, semuanya serba pertama. Termasuk urusan makan. Menu apa yang dimakan, dengan siapa dan di mana kami makan.

Seperti saat itu, Sabtu pagi yang cerah di Pelabuhan Rum, Kota Tidore Kepulauan.

Setelah puas memotret pemandangan sepanjang Ternate-Rum, ada aba-aba untuk berkumpul. Muhammad Gathmir membawa kresek hitam berisi belasan nasi bungkus. Menu sarapan telah datang.

Tanpa komando berlebihan, kami tergerak sendirinya untuk duduk melingkar. Di atas lantai kayu dermaga. Di tengah lalu-lalang pengguna jasa pelabuhan. Di tengah kesibukan awak kapal mengangkut motor penumpang. Di tengah hiruk-pikuk, kami dengan santainya membuka bungkusan dan melahap isinya: nasi uduk, ikan goreng, mi goreng, telur balado, dan sambal. Sesekali bergeser memberi jalan penumpang dan motor yang akan naik kapal.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Kelana Rasa Antara Rum-Safira (3)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)

Pulau Maitara (kanan) dan Tidore dengan Gunung Marijang yang tertutup awan

Roda pesawat menyentuh aspal landasan pacu. Meskipun bersabuk pengaman, saya tetap tersentak. Tubuh yang duduk tegak sempat terangkat satu-dua kali. Lalu condong ke depan beberapa saat. Kedua telapak tangan mencengkeram pegangan kursi.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara spoiler dan sirip menderu dari kedua sayap pesawat. Seperti berada dalam bus yang direm mendadak ketika kendaraan di depannya melambat.

Tepat beberapa meter sebelum ujung landasan, pesawat melambat dan langsung putar balik. Menuju apron Bandara Sultan Babullah, Ternate.

Untuk pertama kalinya, saya bersama Zulfa dan Eko menginjakkan kaki di wilayah Provinsi Maluku Utara. Dua jam lebih cepat dari Jawa.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)

Gapura Kadato Kie, Istana Kesultanan Tidore

Mengunjungi Tidore pada pertengahan April 2017 lalu, ibarat beralih jenjang pendidikan. Mencecap pengalaman yang serba pertama, baru, dan seru. Menikmati dan mempelajari banyak hal, seperti orang-orangnya, tradisinya, dan alamnya.

Semua bermula dari partisipasi dalam lomba menulis blog bertema “Tidore Untuk Indonesia”. Lomba yang digelar sejak tanggal peluncurannya (12/2/2017) sampai tenggat akhir 18 Maret 2017.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)”

Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute

Klinik Menulis Feature bersama Tempo Institute

Pada 26-29 Oktober 2017 kemarin, saya berkesempatan mengikuti Klinik Menulis Feature (ficer) yang diselenggarakan oleh Tempo Institute. Lokasi pelatihan di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat. Selama empat hari, dimulai pukul 09.00 hingga 17.00, saya bersama tujuh peserta lainnya belajar menulis ficer. Dari teori hingga praktik.

Setelah teori di dua hari pertama, kami diajak praktik fotografi jurnalistik dan menyusun bahan tulisan di Kebun Raya Bogor, Sabtu (28/10). Sepulang dari Kebun Raya Bogor (KRB), kami diberi tugas menulis untuk dibedah keesokan harinya, hari terakhir pelatihan.

Saya mendapat ide tulisan seusai kencing di toilet dekat Taman Meksiko, KRB. Jamban tersebut dijaga oleh satu orang. Maka, ide dan angle tulisan adalah:

Ide: Toilet di Kebun Raya Bogor
Angle: Apa suka dan duka menjadi penjaga toilet di Kebun Raya Bogor?

Continue reading “Latihan Menulis Feature Bersama Tempo Institute”

Menjadi Jogja, dan Menjaganya Tetap Istimewa

Desa Wisata Malangan

Jogja, Jogja, tetap istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya…

Jogja, Jogja, tetap istimewa, Jogja istimewa, untuk Indonesia…

Di atas adalah potongan lirik lagu Jogja Tetap Istimewa karya Jogja Hip Hop Foundation. Lagu perpaduan rap dan gamelan yang wajib ada di daftar putar lagu saya, baik di gawai maupun komputer. Satu dari sekian banyak lagu tentang Jogja, yang entah mengapa selalu menggugah benak.

Barangkali romansa pada saya awalnya ditularkan oleh kedua orang tua saya. Meskipun tidak lahir di Jogja, keduanya pernah kuliah di salah satu universitas negeri di sana. Bagi mereka, Jogja menjadi tempat bertemu yang istimewa dan menjadi awal merajut hidup. Karena itulah saya tak ragu menyebut Jogja sebagai rumah kedua, setelah kampung kelahiran saya di Pacitan.

Continue reading “Menjadi Jogja, dan Menjaganya Tetap Istimewa”