Jatuh, Lalu Bangkit Lagi (2)

Pada suatu dini hari di halaman sebuah rumah. Di bilangan Kalasan, timur laut kota Yogyakarta. Terparkir sebuah mobil milik koperasi bandara. Sesosok laki-laki terduduk di kursi sopir. Jendela mobil terbuka sedikit. Hanya bisa dimasuki seukuran telapak tangan.

Usai subuh, terang menjelang. Seorang perempuan membuka pintu rumah. Dia agak tergopoh menuju mobil itu. Mulanya mengetuk kaca pintu sopir. Memanggil nama laki-laki yang tampak tak terusik di depan kemudi.

“Pak? Bapak?” Pria itu bergeming.

Raut wajah si Ibu berubah. Panik, dia mencoba membuka pintu. Klek! Ternyata tidak dikunci. Ia mengguncang-guncang tubuh lelaki yang masih saja diam. “Pak? Bapak?” Panggilannya tak berbalas. Refleks tangannya menyentuh wajah dan lengan pria paruh baya itu.

“Ya, Allah!” Teriak sang Ibu. Makin panik. Begitu dipastikan tak adanya embusan napas dan berhentinya denyut nadi, dia pun lunglai dan seketika pingsan. Pria yang terduduk di kursi kemudi itu, suaminya sendiri, telah meninggal dunia.

Continue reading “Jatuh, Lalu Bangkit Lagi (2)”

Jatuh, Lalu Bangkit Lagi

Panggil saja namanya Bay. Laki-laki berusia sepertiga abad itu menjawab pesanan saya dalam aplikasi ojek daring.

Saya memilih mobil untuk mengantar saya dari kos ke Stasiun Malang. Tanggapannya cukup cepat. Padahal selepas petang adalah waktu-waktu padat dan sibuk di kota Malang. Dan kadang posisi sopir sangat jauh dari tempat saya tinggal.

Persis setelah saya salat Magrib, Bay menelepon saya. “Mas, saya sudah di ruko kosong sebelah kos.”

Saya bergegas menuju tempat Bay menunggu. Saya memintanya membuka bagasi mobil 1.200 cc itu. Menaruh dua tas ransel, masing-masing berkapasitas 65 dan 30 liter yang terisi penuh.

Continue reading “Jatuh, Lalu Bangkit Lagi”

Di Depan Peturasan

Revan, penjaga toilet Pasar Grosir Solo

“Saya juga asli Pacitan, Mas,” katanya. Ia menyebut kota kelahirannya. Desanya, Ketro, berjarak satu jam ke arah timur kota Pacitan. Berlika-liku jalannya.

Obrolan kami bermula darinya usai saya kencing. Basa-basi biasa. Menanyakan asal dan urusan saya di Solo. “Kami baru saja dari Pacitan. Ngantar nenek, lalu liburan ke sini,” kata saya.

Lalu saya jongkok di samping lelaki ceking itu. Kami bertukar cerita di depan kamar mandi yang dijaganya. Nylempit di pojok lantai empat Pusat Grosir Solo.

Continue reading “Di Depan Peturasan”

Orang-orang Gurabunga

Tarian Kapita khas Tidore

Seorang anak seusia Sekolah Dasar (SD) sedang duduk di atas rumput. Mengamati teman-temannya yang lain sedang main bola sore itu. ‘Tiang-tiang’ gawangnya hanya sandal lusuh yang ditumpuk-tumpuk. Panjang ‘arena’ permainannya tak sampai 20 meter.

Saya yang awalnya hanya memotret mereka, mendadak berubah pikiran. “Adik, saya boleh ikut?” Tanya saya ke mereka.

Sesaat mereka saling memandang, lalu salah satu di antaranya berseru, “Kakak gabung di tim sana!” Bocah berambut cepak itu menunjuk ke arah gawang sandal yang dekat dengan pagar SD Negeri Gurabunga. Saya menjadi lawannya, sedangkan seorang anak SD yang dari tadi hanya duduk mengamati, ikut bergabung di tim bocah berambut cepak itu.

Bagi saya, diterima bermain bola di antara mereka adalah satu dari banyak kebaikan yang saya terima di Gurabunga.

Continue reading “Orang-orang Gurabunga”

Pulau Menjangan

Berfoto di ujung perahu berlatar pasir putih Pulau Menjangan

Definisi kebahagiaan dapat dijumpai pada laut. Ketika Miranda Hart, aktris dan komedian Inggris, berkata bahwa, “Aku hanya benar-benar, sungguh-sungguh dan sepenuhnya bersantai sendiri. Beri aku kursi berjemur, kolam renang dan pemandangan laut, dan aku bahagia.”, kiranya saya merasa lebih dari itu.

Bersama sejumlah teman, kami merasa tak cukup hanya dengan duduk dan memandang laut.

Continue reading “Pulau Menjangan”