#BloggerWalking: Banten Lama Yang (lama-lama) Semakin Merana (Bagian 8)

Langit biru pelipur lara di Banten Lama

Sungguh bisa dibilang saya sama sekali nyaris tidak terkesima. Apalagi terkesan. Mungkin lebih patut dibilang terpana dan terperangah. Namun, terpana dan terperangah yang malah berujung empati. Saya terkejut. Saya tak akan panjang lebar bertutur, demikianlah ini apa yang terlihat.

Hanya langit biru yang menghibur.

“Langitnya lagi bagus, Om,” kata saya kepada Om Tio. Bersama Abyan, kami bertiga menyusuri Banten Lama dengan perasan keringat. Cerah, namun terik.

Continue reading “#BloggerWalking: Banten Lama Yang (lama-lama) Semakin Merana (Bagian 8)”