Desa Wisata Malangan

Beranjangsana ke Desa Wisata Malangan

Pagi itu di sekretariat Desa Ekowisata Pancoh, sosok pria berbadan tegap sedang duduk bersila. Pakaiannya necis. Kemudian ia berdiri dan sigap menyalami kami, tim #EksplorDeswitaJogja yang menghampirinya. Kami baru saja selesai berkegiatan di Pancoh dan akan melanjutkan ke Malangan, Sleman. Ia menanyakan nama kami satu per satu. “Saya Wiji,” ia memperkenalkan diri

Nama lengkapnya Wiji Raharjo. Dapat dikatakan, ia adalah pemandu senior di Desa Wisata Malangan, Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Keramahannya seakan menjadi jaminan, bahwa Malangan akan selalu lekat dalam benak kami

Hannif, rekan bloger dari Klaten, dalam artikelnya menyebut Malangan sebagai tempatnya para seniman. Satu-satunya empu tempa pamor keris Yogyakarta ada di sini. Batik dan budidaya perikanan juga sedang berkembang. Perajin bambu khas Malangan yang terkenal juga ada di sini.

Dengan bersepeda, Wiji dan kawan-kawan mengajak kami berkeliling desa. Menyusuri jalan kampung. Blusukan di gang-gang. Menyisir sawah. Ada sejumlah titik pemberhentian pokok yang kami singgahi. Mulai dari sanggar batik, tempat pembuatan keris, kolam budidaya ikan tawar hingga pusat kerajinan bambu.

Read More

Desa Ekowisata Pancoh

Menyatu dengan Alam di Desa Ekowisata Pancoh

 Tuk…

Suara itu mengalami jeda beberapa saat. Ketika air dari satu bambu kembali memenuhi bambu lain di bawahnya, suara itu terdengar lagi.

Tuk…

Surthong, adalah sebutan dari rangkaian alat tersebut. Suaranya terdengar nyaring dan khas. Irama dalam jeda yang menghiasi keseharian masyarakat Dusun Pancoh. Selain kokok ayam, dan hawa sejuk di antara pohon-pohon salak yang seperti perisai kampung itu sendiri. Menyatu dengan alam.

Ya, salak, komoditas hortikultura yang menghidupi Pancoh, Kelurahan Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Salah satu sentra Salak Sleman yang telah mendunia.

Read More

Desa Wisata Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta

Desa Wisata Kebonagung

Sore yang cukup gerah di Kebonagung. Kami, tim #EksplorDeswitaJogja, duduk melingkari meja di dalam sekretariat desa wisata. Mencermati informasi-informasi seputar desa wisata ini dari seorang Dalbiya.

Pria kelahiran Bantul 54 tahun silam itu sangat bersemangat ketika bicara. Gaya bicaranya cepat. Sekali berhenti cerita, kami memancingnya dengan pertanyaan. Lelaki berkacamata itu akan kembali menjawab dengan cerita-cerita. Suka dan dukanya terlibat dalam desa wisata. “Saya kalau cerita bakal panjang. Kayak curhat,” katanya. Kami tertawa.

Setelah kurang lebih setengah jam berbincang sejak kami datang, Dalbiya memberi isyarat berhenti curhat. “Sekarang silakan melihat gejog lesung dulu.” Saya melongok ke luar jendela sekretariat.

Read More

Sunrise Puncak Gunung Bantal, Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta

Membumi di Kampung Pitu Nglanggeran

Tak ada satu pun bukti tertulis yang mengisahkan terbentuknya kampung ini. Cerita-cerita yang membentuknya adalah hasil kekuatan lisan. Mulut ke mulut. Dari generasi ke generasi. Turun temurun.

Kabarnya, semua bermula dari seonggok pohon kinah gadung wulung. Ia hanya pohon biasa yang tumbuh di sebuah padukuhan bernama dusun Tlogo. Tapi di dalamnya, tersimpan benda pusaka. Benda yang dikabarkan memiliki kekuatan supranatural besar itu terpantau radar Keraton Kesultanan Mataram.

Keraton pun menyebar sayembara. Barangsiapa yang kuat menjaga dan merawatnya, akan diberi tanah secukupnya untuk anak dan keturunan. Seorang abdi dalem keraton yang berasal dari Banyumas, Eyang Iro Dikromo menyanggupinya. Benda pusaka kemudian diamankan dan disimpan dalam keraton.

Jejak Eyang Iro Dikromo mendapatkan benda pusaka di Dusun Tlogo, diikuti keenam orang sakti lainnya, termasuk Kyai Tir. Namun, hanya mereka berdua yang dapat melanjutkan keturunan di dusun tersebut.

Read More

Nur Janah, seorang pengrajin, sedang mencanting di atas kain batik bermotif klasik

Jejak Batik Tulis Giriloyo

Di sebuah saung kayu beralas keramik kuning gading, tiga perempuan berjilbab sedang membatik. Masing-masing duduk di atas dingklik plastik yang hampir tidak terlihat. Tertutup baju. Seakan-akan mereka membatik dengan berjongkok.

Jemari mereka begitu lihai mencanting di atas kain katun putih yang sudah tak polos. Sudah memiliki pola yang memikat. Dua motif klasik dikerjakan oleh Khiftiyah dan Nur Janah,  sedangkan Imaroh membatik motif buah naga. Motif tersebut merupakan motif pengembangan (modern).

Lekuk motif yang rumit itu, tak sekadar bicara mengenai proses membuat pola, mencanting, mewarnai, nglorot (menghilangkan lilin), hingga mencuci. Kerumitan motif tersebut menggambarkan ketelatenan dan kesabaran srikandi pembatik itu. Sesabar saat mereka dan pengrajin batik lainnya melalui ujian berat yang terjadi 11 tahun silam.

Read More

Gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk Gunungkidul

Wisata Alam di Desa Bleberan

Butuh 36 tahun bagi pemerintah Kabupaten Gunungkidul menetapkan Bleberan, Kecamatan Playen, sebagai desa wisata. Objek wisata gua Rancang Kencono dan air terjun Sri Gethuk dirintis masyarakat setempat sejak tahun 1974, lalu diresmikan dan dikelola secara maksimal pada 3 Juli 2010. Tahun-tahun yang terentang di antaranya adalah masa kevakuman dan terbatasnya sumber daya manusia, yang berdampak pada kekurangseriusan pengelolaan.

Kini, gapura kokoh menyambut di dua ikon desa wisata Bleberan itu. Hari itu, Saifuddin, juga turut menyambut kami yang tergabung dalam tim #EksplorDeswitaJogja. Pemandu sekaligus pemaket wisata itu mendampingi kami selama di lokasi. Ia menjelaskan berbagai seluk-beluk di balik keberadaan kedua objek wisata yang dipisahkan jarak sejauh 700 meter.

“Mari kita ke gua Rancang Kencono dulu,” ajak Saifuddin.

Read More

Sentra Blangkon Desa Wisata Bejiharjo

Erna, Blangkon Yogyakarta, dan Filosofinya

Wawancara terhenti sesaat. Sejenak, Erna menghentikan kegiatan menjahit sebuah blangkon. “Sebentar ya, Mas.” Ia bilang begitu ketika terdengar seperti suara air yang meluber. Bergemericik. Kemudian ia setengah berteriak, “Mas, tolong matikan pompa airku!”

Yang ia mintai tolong adalah Arif dan kawan-kawan pemandu offroad yang menunggu kami di luar rumah. Saya yang duduk persis di depan Erna bergegas bangkit dan berjalan keluar.

Tapi Arif lebih sigap. Ia berjalan cepat ke arah saklar pompa air yang dimaksud Erna. Letaknya ada di dinding bangunan sederhana di luar rumah. Seketika, suara raungan mesin pompa air berhenti. Gemericik air di tendon juga perlahan berhenti mengalir. Arif kembali bergabung dengan Fian dan Taufiq, ngobrol-ngobrol di atas jip.

Saya kembali duduk di posisi semula. Teman bloger #EksplorDeswitaJogja yang lain kembali antusias mendengarkan cerita Erna, yang melanjutkan kegiatan menjahit blangkon. Dengan duduk bersandar tembok putih rumahnya, dia bertutur mengenai suka dukanya membuat blangkon.

Read More

Wisata Offroad Gunungkidul

Wisata Offroad Gunungkidul Bersama Dewa Bejo

Stop! Stop! Stop!

Raungan mesin ketiga jip berjenis 4 wheel drive atau berpenggerak empat roda itu berhenti. Itu seiring ketika Arif dan Taufiq, yang masing-masing mengemudikan jip putih dan merah, saling bersahutan memberi aba-aba berhenti. Ketika, ban kanan depan jip hijau yang berada di antara keduanya tersangkut di antara batu-batu penyangga di tepi Kali Oyo.

Fian, pengemudi jip hijau yang saya dan Rizka tumpangi, dengan sigap memindahkan kedua tuas persneling ke gigi satu dan mematikan mesin. Kami pun turun. Hujan semalam sedikit membuat batu-batu penyangga jalur jip yang akan turun ke sungai sedikit renggang.

Tanpa banyak menunggu, dengan gesit mereka bertiga menerapkan langkah darurat.

Read More