Senyawa Alas Lali Jiwo Bagian Pertama

Senyawa Alas Lali Jiwo: Sebuah Pengantar (1)

Perkiraanku meleset. Jarak dari Pos 3 Pondokan menuju Lembah Kidang, tempat kami akan berkemah, menjadi dua kali lipat dari semestinya.

Jalan setapak yang tipis dan dirungkup semak-semak setinggi perut mendadak seperti kurang bersahabat. Tanah yang seharusnya enak dipijak, tiba-tiba terasa mengeras dan menyakitkan sendi-sendi lutut seperti makadam abadi sepanjang Pos 1 Perizinan Tretes hingga Pondokan. Belum lagi batu-batu atau akar pohon yang (kuanggap) seenaknya mencuat di atas permukaan jalur. Tak terhitung kaki terantuk cukup keras. Untung saja tidak sampai njlungup.

“Sial!” desisku sambil berjalan gontai. Astagfirullah…

Sosok yang khatam jalur Tretes seperti Totok dan Gipong saja, menggeleng heran. “Perasaanku dari Pondokan ke Lembah Kidang itu dekat dan datar. Kok, semalam rasanya malah banyak nanjak-nya,” katanya mengikik saat keesokan pagi di depan tenda.

Aku juga berpikir seperti itu. Sampai-sampai Satya, srikandi serba bisa dari Sibolga, kesal kepadaku. Walau sebetulnya aku berniat bilang bahwa waktu tempuh 15 menit itu kalau pas hari terang. Bila jalan kaki ketika sudah malam tentu akan lebih lama. Tapi kuurungkan niat memberi penjelasan. Kutakut malah membuatnya kesal.

Padahal jalur Tretes memang sudah menyebalkan dari awal. Kalau saja aku baru pertama kali mendaki lewat situ, ingin kulempar tas ransel ke tanah. Tangan kanan mengusap muka, tangan kiri berkacak pinggang lalu mengumpat, “Duh! Jalur macem opo iki!”

Astagfirullah…

Read More
Sunrise puncak mahameru gunung semeru

Roman Pagi dari Puncak-Puncak Tertinggi

Pada saatnya, saya termasuk sekelompok orang yang rela menahan kantuk, dingin, dan bersusah payah demi matahari terbit dari puncak gunung. Meninggalkan kehangatan tidur untuk sebuah pengalaman, yang saya harus jujur, tidak akan terlupakan seumur hidup.

Bahkan rela jauh dari kenyamanan rumah. Memasuki zona bahaya yang tak terprediksi.

Sementara situasi terkini yang telah mengglobal, memaksa kita untuk menahan diri dari hasrat bertualang. Menjelajah alam. Mencumbu rimba. Saya ingin berbagi sedikit visual, tentang apa yang saya lihat kala pagi dari puncak-puncak gunung tertinggi.

Ini bukan hanya untuk yang rindu mendaki, tapi juga teman-teman yang ingin merasakan pengalaman pertamanya.

Read More
Kurniawan dan Rizky menikmati ketenangan Lembah Kijang

Kidung Lembah Kijang

Subuh berlalu. Kersak dahan cemara gunung tak sekencang semalam. Langit gelap berangsur terang. Suhu udara khas fajar beringsut menghangat. Menghangatkan kawasan camp Lembah Kijang yang cukup ramai.

Saya bergegas bangkit dari tidur. Menyusul Kurniawan yang sudah duluan berwudu di sumber air persis di barat perkemahan.

Sesungguhnya pagi di bulan April tak sedingin kala puncak musim kemarau, biasanya Agustus-September. Sayang, pada kedua bulan tersebut, sumber air biasanya mengering. Pendaki harus mengambil air bersih ke shelter III Pondokan yang masih mengucur pelan.

Jika pada pendakian-pendakian ke Gunung Arjuno sebelumnya, saya biasanya salat subuh di tengah perjalanan ke puncak, kali ini cukup di Lembah Kijang. Pendakian kali ini saya ‘tertahan’ untuk ke puncak. Bersama beberapa teman dalam satu tim, kami menghemat tenaga untuk ke Welirang besok.

Pagi ini, memang saatnya untuk lebih menikmati sisi tenang Lembah Kijang.

Read More

Lutfi (kiri) dan Dani sedang beristirahat dalam perjalanan ke puncak di seonggok pohon cemara gunung yang tumbang, di kawasan Alas Lali Jiwo.

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)

Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.

Read More

Dani berjalan di antara batu-batu besar yang tercoreng vandalisme di Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)

Waktu menunjukkan pukul 16.40 WIB. Puncak Candi Sepilar, tempat mistis dengan sembilan arca yang mengawal arca para Pandawa moksa pun sudah jauh terlewati. Sudah hampir empat jam kami berjalan dari Mangkutoromo. Tapi tak jua menemukan Jawa Dwipa -yang seharusnya hanya berjarak 1,5 jam menurut rencana perjalanan-, apalagi tempat camp yang kami inginkan sesuai rencana awal. Tempat datar yang terletak sedikit di atas pertigaan jalur Purwosari-Lawang. Tapi bahkan kami pun belum sampai pada pertigaan jalur tersebut.

Sepertinya kami salah mengambil jalur. Kami sempat ragu dengan percabangan setelah Candi Sepilar. Kami memilih jalur ke kanan yang langsung menanjak daripada ke kiri yang agak menurun lalu menanjak kembali.

Read More