2020: Angkat Sauh Lalu Bertumbuh

Lautan Pasir Gunung Bromo

“Kamu ingin tahu apa resolusiku tahun ini?” saya meminta seorang teman di kantor menebak.

Dia menggeleng. Balik bertanya, “Apa?”

“Resolusiku tahun ini adalah meneruskan apa yang menjadi resolusi tahun 2019 yang dibuat di pengujung tahun 2018, dan belum terealisasi di tahun 2019.”

Panjang jawaban saya.

Tentu saja itu hanya bercanda.

Lanjutkan membaca “2020: Angkat Sauh Lalu Bertumbuh”

Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang

Stasiun Pasar Senen Jakarta

“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim,
sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab,
maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan);

“Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan.
Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya,
karena lezatnya kehidupan baru terasa,
setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha;

Lanjutkan membaca “Singa-Singa yang Meninggalkan Sarang”

Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga

Izinkan saya bernyanyi,

Ingatkanku semua, wahai sahabat; kita untuk selamanya, kita percaya;  kita tebarkan arah dan tak pernah lelah; ingatkanku semua, wahai sahabat…

Bersama Muchlis saat Bersih-bersih Kali Brantas bersama Radar Malang (9 Maret 2013)
Bersama Muchlis saat Bersih-bersih Kali Brantas bersama Radar Malang dan Gamananta (9 Maret 2013)

Penggalan lagu Sahabat milik Peterpan tiba-tiba terngiang saat memeluk erat tubuhnya yang kurus. Rasanya tangan ini begitu ingin mencengkeram lebih dalam jaket hitam yang menyelimuti tubuhnya. Rasa haru yang tertahan sejak berangkat dari rumahnya di Gresik nyata-nyata hendak membuncah, beriring air mata yang nyaris keluar. Kami saja yang “hanya” teman dan sahabat sangat terharu melepas keberangkatannya ke Jakarta, apalagi orangtuanya, terutama sang ibundanya yang lugu. Bapak dan pakdenya nan bersahaja nampak tegar, serupa dengan adik perempuannya, Rara. Riuh lobi stasiun Pasar Turi sore itu seperti jadi saksi pertemuan ini. Berulang kali saya menepuk pundak sang ibu, menghiburnya sedikit demi menguatkan hatinya. Saya bicara dalam bahasa Jawa krama yang intinya “Yang penting doa dan restu bapak ibu buat kesuksesan Muchlis. Insya Allah barokah”.

Sudah pukul 16.30, Fitrah dan saya membantu mengangkat tas carrier 60 liternya untuk dibawa Muchlis. Sebuah “kulkas” kehidupan yang akan menemaninya selama di Jakarta nanti, selain bodypack dan daypack-nya. Melihat carrier kesayangannya itu, saya jadi teringat masa-masa silam penuh perjuangan saat awal membangun sebuah “keluarga” baru: Gamananta.

Lanjutkan membaca “Tenanglah Sahabat, Kita Masih Tetap Satu Keluarga”