#BloggerWalking: Bertemu Bapaknya Jalan Pendaki (Bagian 1)

Suara pintu kamar kos terbuka. Saya terbangun dari tidur siang yang cukup nyenyak. Seperti mendapatkan jam tidur pengganti, setelah perjalanan panjang dari Malang ke Jakarta dengan kereta api Matarmaja. Muchlis, sang penghuni yang asli membuka pintu kamarnya sendiri, yang sedari siang saya “jaga” dengan tidur.

“Tidur bro?” tanyanya.

“Iya Mu, ketiduran, hehehe.”

Dia baru pulang kerja dari Pusdiklat BRI Ragunan sore itu. Gedung kantor yang hanya berjarak 45 detik jalan kaki dari pintu utama kos, katanya.

 

“Jam berapa berangkat ke Margo City?” tanyanya lagi.

“Habis salat Magrib lah, biar enak.”

Read More

Tampilan Blog Jalan Pendaki

Teruntuk Jalan Pendaki, Sebuah Apresiasi

Apa yang ada di pikiran Anda tentang makna definitif seorang pendaki gunung?

Keren? Kekar? Kebal badai? Rupawan? Berambut gondrong? Sabar? Perhatian? Dewasa? Atau apa?

Maka ketika dulu (saya lupa kapan persisnya) pertama kali tiba di halaman blog Jalan Pendaki, definisi-definisi yang tersebut di atas luruh. Terlebih, ketika seorang Acen Trisusanto (sang pendaki), memproklamirkan diri sebagai seorang pendaki yang:

“Gue ini pendaki gunung tapi takut segala jenis reptil mulai dari ular, kadal, kadal yang kayak ular, ular yang mirip kadal, dan kura-kura. Bukan takut sih, geli aja. Bhay!”

Read More