#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)

Bentuk kepedulian Atria Hotel & Conference Magelang terhadap batik

Ini hari keempat saya di Jawa Tengah. Setelah sebelumnya berkelana ke Ungaran, Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Temanggung; kini saya masih melanjutkan perjalanan. Magelang, kota yang akan saya tuju.

“Jadi pulang kapan?”

Continue reading “#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)”

#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)

Situs Liyangan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah

Sebuah majalah National Geographic edisi bahasa Indonesia tergeletak di atas meja kayu. Majalah bersampul garis tepi kuning tersebut terlihat lecek. Buku tamu tebal yang bersandingan di sebelahnya tak kalah kucel pula. Keempat sudutnya juga sudah tak ‘siku’ lagi. Salah satu halaman melipat tegas di tengah-tengahnya. Halaman tersebut mengulas laporan khusus dan cukup lengkap tentang sebuah situs: Liyangan.

“Mbak, pinjam sebentar ya. Mau saya foto tulisannya,” pinta saya kepada seorang perempuan berjilbab penjaga pos informasi. “Iya silakan, Mas.”

Continue reading “#VisitJateng: Situs Liyangan Menuntut Perhatian (7)”

#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)

Kabut masih melayang di atas Kali Serayu

Sementara Pak Pranoto dan Mas Ari berbalut selimut, saya malah meringkuk dalam sarung. Kehangatan yang beradu dengan dinginnya udara Subuh di tepi Kali Serayu. Pondok penginapan yang berdinding kayu tampak malah mempersilakan angin masuk di antara celahnya.

Saya bergegas menuju kamar mandi yang bersisian dengan tempat tidur. Berwudu antara agak tergesa dan menikmati. Air dari balik kerannya dingin sekaligus menyegarkan.

Continue reading “#VisitJateng: Para Juara di Kali Serayu Banjarnegara (6)”

#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)

Purbasari Pancuran Mas, Purbalingga

Setelah makan siang di Alas Daun, Purwokerto, Pak Pranoto bergegas menggeber gas menuju Purbalingga. Kesejukan khas Baturraden di lereng Gunung Slamet, mulai perlahan menguap. Mendung tak juga enyah. Tapi masih menyisakan ruang kosong bagi matahari, yang meneruskan sinarnya ke bumi. Terpencar-pencar, layaknya air yang mengucur dari lubang-lubang shower. 

Karena hari sudah beranjak sore, kami hanya menyempatkan singgah cukup lama di dua tempat: Purbasari Pancuran Mas dan Desa Wisata Karangbanjar.

Dari pandangan saya, keduanya sepertinya tipikal: Sama-sama merupakan contoh kreativitas, inovasi dan buah kesuksesan. Yang menghidupkan perekonomian daerah.

Continue reading “#VisitJateng: Agak Tak Rela Meninggalkan Purbalingga (5)”

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)

Pancuran Pitu, Baturraden

Setelah menapaki ratusan anak tangga -yang saya tak sempat menghitung angka pastinya-, sejumlah lelaki berusia paruh baya menyambut dengan tawaran jasa lulur belerang. Di antara kami, hanya Pak Pranoto yang menyambut tawaran itu. Wajar saja, mungkin beliau perlu melemaskan otot kaki yang sedari kemarin dibuat tegang. Menginjak pedal gas, rem, dan kopling sepanjang Semarang-Temanggung-Wonosobo-Banyumas. Ditambah, berjalan menapaki ratusan undakan anak tangga tadi.

Pak Pranoto pun langsung duduk di dingklik kecil, dengan celana digulung hingga selutut. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan cekatan mengoleskan serbuk lulur belerang ke kedua betisnya. “Enak lho, ayo sini kalau mau coba,” ajak Pak Pranoto.

Continue reading “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)”