Mega, Langit Biru, dan Sang Saka

Pantai Batu Payung

Langit pagi ini tidaklah menggembirakan. Selat Lombok seperti bernuansa mistis. Kabut putih cukup tebal, sampai-sampai Gunung Agung hanya menampakkan bagian puncaknya. Namun, hal itu tidak mengurangi lahapnya sarapan terakhir di Hotel Jayakarta, di tepi laut Senggigi. Saya, bersama teman-teman blogger dan fotografer larut dalam percakapan yang sempat terselip.

“Mending kulineran taliwang lagi saja,” celetuk Barry Kusuma. Agak masuk akal idenya, melihat cuaca terkini.

“Belum tentu juga, Om. Siapa tahu di pantai nanti bisa cerah,” ujar saya mencoba menghibur diri.

 

Alam tak mudah ditebak. Terkadang menggembirakan, terkadang suram. Sepertinya kami semua satu pikiran, berharap agar cuaca bersahabat di Batu Payung nanti. Hanya saja, sementara saya masih berandai-andai seperti apa rupa Batu Payung itu. Saya berusaha mengerem ekspektasi.

Continue reading “Mega, Langit Biru, dan Sang Saka”