Kurniawan dan Rizky menikmati ketenangan Lembah Kijang

Kidung Lembah Kijang

Subuh berlalu. Kersak dahan cemara gunung tak sekencang semalam. Langit gelap berangsur terang. Suhu udara khas fajar beringsut menghangat. Menghangatkan kawasan camp Lembah Kijang yang cukup ramai.

Saya bergegas bangkit dari tidur. Menyusul Kurniawan yang sudah duluan berwudu di sumber air persis di barat perkemahan.

Sesungguhnya pagi di bulan April tak sedingin kala puncak musim kemarau, biasanya Agustus-September. Sayang, pada kedua bulan tersebut, sumber air biasanya mengering. Pendaki harus mengambil air bersih ke shelter III Pondokan yang masih mengucur pelan.

Jika pada pendakian-pendakian ke Gunung Arjuno sebelumnya, saya biasanya salat subuh di tengah perjalanan ke puncak, kali ini cukup di Lembah Kijang. Pendakian kali ini saya ‘tertahan’ untuk ke puncak. Bersama beberapa teman dalam satu tim, kami menghemat tenaga untuk ke Welirang besok.

Pagi ini, memang saatnya untuk lebih menikmati sisi tenang Lembah Kijang.

Continue reading “Kidung Lembah Kijang”

Lutfi di kejauhan tampak berjalan meninggalkan kawasan puncak Welirang

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)

Alarm ponsel berdering pukul 2.00 dinihari. Hari ketiga pendakian kami, 5 April 2013, sudah terlewat dua jam. Harusnya kami terbangun saat alarm pertama berdering, pukul 00.30 dinihari. Harusnya pukul 2.00 ini kami sudah berjalan ke puncak Welirang. Harusnya rencana perjalanannya seperti itu.

Continue reading “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 3-habis)”

Lutfi (kiri) dan Dani sedang beristirahat dalam perjalanan ke puncak di seonggok pohon cemara gunung yang tumbang, di kawasan Alas Lali Jiwo.

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)

Rombongan pendaki gabungan asal Jakarta, Bandung, Manado itu sedang asyik bercanda di tengah istirahatnya. Sebagian berdiri, sebagian duduk di atas tanah berundak dengan kemiringan sedang. Di dalam rimba rapat Alas Lali Jiwo nan teduh. Tak jauh di bawah patok perbatasan Kabupaten Malang dan Pasuruan. Kami bersua dan saling menyapa rombongan pendaki yang seluruhnya laki-laki itu. Baru saja 10 menit berjalan dari Pasar Dieng. Setelah turun dari puncak Ogal-Agil.

Continue reading “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 2)”

Dani berjalan di antara batu-batu besar yang tercoreng vandalisme di Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno

Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)

Waktu menunjukkan pukul 16.40 WIB. Puncak Candi Sepilar, tempat mistis dengan sembilan arca yang mengawal arca para Pandawa moksa pun sudah jauh terlewati. Sudah hampir empat jam kami berjalan dari Mangkutoromo. Tapi tak jua menemukan Jawa Dwipa -yang seharusnya hanya berjarak 1,5 jam menurut rencana perjalanan-, apalagi tempat camp yang kami inginkan sesuai rencana awal. Tempat datar yang terletak sedikit di atas pertigaan jalur Purwosari-Lawang. Tapi bahkan kami pun belum sampai pada pertigaan jalur tersebut.

Sepertinya kami salah mengambil jalur. Kami sempat ragu dengan percabangan setelah Candi Sepilar. Kami memilih jalur ke kanan yang langsung menanjak daripada ke kiri yang agak menurun lalu menanjak kembali.

Continue reading “Jurnal Pendakian Gunung Arjuno-Welirang Jalur Purwosari-Tretes (Bagian 1)”

Puncak Ogal-Agil, singgasana doa untuk Ibunda

Ini Kisahku di Hari Ibu

Saya belum pernah riset serius sebelumnya. Tentang, berapa persen orang yang pernah bernostalgia tentang perjalanan yang pernah dilaluinya. Sekecil apapun kadar nostalgia tersebut. Tapi, rasanya setiap orang pasti pernah bernostalgia bukan? Walau hanya sekejap, merangkai puing memori yang diingat atau untuk diceritakan kembali.

Termasuk saya.

Continue reading “Ini Kisahku di Hari Ibu”