Kalimati

Shelter Kalimati di ketinggian 2.700 mdpl. Areal kemah terakhir dan teraman sebelum puncak Mahameru

Kalimati kembali bergeliat. Saya terbangun. Kedua mata terasa bagaikan habis menangis. Kurang tidur. Tapi karena suhu di dalam tenda mulai gerah –arloji menunjukkan pukul 8 pagi- saya memilih keluar tenda.

Membawa kamera, saya berjalan menjauhi area perkemahan. Ke utara, ke arah Jambangan. Tak jauh dari gerombolan edelweiss dan cantigi. Subhan yang baru menunaikan hajat di ‘peturasan’ alami, dan Anggrek (yang juga baru bangun)  menyusul.

Di atas rerumputan, kami berjemur. Memandang tubuh raksasa berlumur bebatuan dan pasir bergurat itu.

Untuk yang kesekian kalinya, asap beracun itu keluar dari kawah Jonggring Saloka. Dari gelembung-gelembung pekat pucat, menebarkan buih-buih debu, melekat di baju. Pakaian saya yang serba hitam bak berlumur ketombe.

Saya menelisik, memicingkan mata ke arah pendakian ke puncak Mahameru. Tampak debu-debu yang beterbangan, tanda dilewati orang yang turun. Dan lenyap selepas melintasi Kelik, perbatasan vegetasi. Pasti di wajah mereka terlukis rona gembira, lelah, dan lapar yang menjadi satu.

Kalimati menjadi tempat kembali.

Continue reading “Kalimati”

Teman Saya di Belakang

Segaris fajar dari Puncak Mahameru, Gunung Semeru

Tomi membuka tas ransel yang ia bawa. Mengeluarkan sejumlah biskuit, roti tawar, dan sebotol air mineral 1,5 liter. Saya, bersama Mustofa dan Figur yang sedang asyik memotret, segera menghampirinya. Ikut merapat, sudah waktunya sarapan. Di atas tanah berbatu dan berdebu, di tengah embusan angin puncak yang cukup kencang dan dingin, kami menikmati sarapan ringan ini dengan nikmat.

Di tengah sarapan, dari arah jalur pendakian, tiba-tiba mendekat sekelompok pendaki. Empat orang laki-laki, seorang perempuan. Hanya tas selempang dan kamera yang melekat di antara tubuh mereka. Langkah mereka agak gontai. Seorang di antaranya mendekati kami.

“Permisi, Mas,” Sapa perempuan bermata sipit dengan pakaian serba hitam dan bersepatu gunung warna cokelat.

“Ya, Mbak?” Jawab kami berempat serempak.

Continue reading “Teman Saya di Belakang”

Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!

Lautan awan puncak Mahameru

Tak bisa dipungkiri, Gunung Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru merupakan gunung  idaman bagi mayoritas pendaki Indonesia. Statusnya sebagai tanah tertinggi di Pulau Jawa menjadikannya ramai dikunjungi para pendaki demi kebanggaan individu maupun golongan. Dalam pendakian untuk yang keempat kalinya ini, saya membawa misi lebih dari sekadar gengsi. Menyaksikan matahari terbit dari Mahameru untuk yang pertama kalinya adalah hadiah terindah yang tak akan pernah saya lupakan.

Continue reading “Sriwijaya Inflight Magazine Edisi Juni 2015: Selamat Pagi, Mahameru!”