Sabda Malam Langit Kumbolo

Oro-oro Ombo Gunung Semeru

Saya membuka pintu tenda yang menghadap danau. Sekian detik menengadah, melihat langit malam itu. Ketika membalikkan badan dan berseru, “Ayo, rek, metu ngopi karo ndelok bintang!” Ade, Oki, dan Rizky sudah terlelap di balik kehangatan sleeping bag.

Ajakan saya untuk ngopi di luar dan melihat bintang berbalas dengkuran. Setelah membantu menyiapkan makan malam, keduanya jelas kelelahan setelah turun dari puncak Mahameru siang tadi. Bersama dua belas teman yang juga sudah terlelap di dua tenda sebelah.

Tenda kami malam itu agak berantakan, karena jadi dapur umum. Kami kebagian tugas memasak. Saya bergegas merapikan bahan dan peralatannya. Sebagian dimasukkan ke tenda, sebagian dirapikan di teras tenda.

Setelah memakai jaket, saya ke luar tenda. Perlahan melangkah dengan memanggul tas pinggang berisi kamera dan menenteng sebuah tripod. Setelah menutup pintu tenda, saya kembali menengadah sesaat.

Continue reading “Sabda Malam Langit Kumbolo”

Ketika Gunung Dirindukan

Refleksi Pegunungan Putri Tidur berlatar senja di suatu pedesaan di pinggiran kota Malang

Saya pikir, tak perlu menunggu menjadi sepasang kekasih untuk merasakan rindu. Karenanya rindu itu bersifat universal. Dapat berlaku untuk apa saja. Termasuk rindu pada ketinggian (gunung).

Menuntaskan rindu pada gunung, berarti membicarakan kenangan-kenangan pendakian sebelumnya. Suka atau duka, tetap berujung rindu.

Continue reading “Ketika Gunung Dirindukan”

Tamu Tak Diundang

Ranu Pani, titik awal pendakian ke Ranu Kumbolo-Semeru

Manusia hanyalah tamu di hutan dan gunung. Alam bebas yang segala gerak-geriknya di luar kuasa kita. Apalah kita, yang hanya pendatang, kadang mengusik kehidupan penghuni-penghuni terdahulu. Fauna, flora, gejala-gejala alam, bahkan hingga sesuatu yang tak kasat mata.

Seperti saat itu.

Continue reading “Tamu Tak Diundang”

Wajah-Wajah Pagi di Ranu Kumbolo

Matahari terbit di langit Ranu Kumbolo yang keemasan

Saya tak mengindahkan apapun yang dilakukan tubuh dalam lelap, setelah semalam mengabadikan gemerlapnya gemintang di langit Ranu Kumbolo. Telanjur dimanjakan hangatnya balutan sleeping bag berbahan dracon dan polar. Belum lagi kupluk dan jaket gunung yang ikut menghangatkan. Bergitulah nikmatnya melalui malam bersama dunia mimpi. Oh tunggu, bahkan saya yakin tidak bermimpi apa-apa.

Tahu-tahu sudah Subuh. Saya tahu saat itu sudah Subuh, karena langit gelap mulai pudar dan teman setim tuntas menunaikan salat dua rakaat.

Continue reading “Wajah-Wajah Pagi di Ranu Kumbolo”