Memeluk Kala di Ranu Kumbolo

Alasan mencintai perjalanan ke Ranu Kumbolo adalah kala bisa berjalan teramat lambat di sana, karena ia seakan didekap untuk dinikmati.  

Sabda Malam Langit Kumbolo

Saya membuka pintu tenda yang menghadap danau. Sekian detik menengadah, melihat langit malam itu. Ketika membalikkan badan dan berseru, “Ayo, rek, metu ngopi karo ndelok bintang!” Ade, Oki, dan Rizky sudah terlelap di balik kehangatan sleeping bag. Ajakan saya untuk ngopi di luar dan melihat bintang berbalas dengkuran. Setelah membantu menyiapkan makan malam, keduanya jelas…

Ketika Gunung Dirindukan

Saya pikir, tak perlu menunggu menjadi sepasang kekasih untuk merasakan rindu. Karenanya rindu itu bersifat universal. Dapat berlaku untuk apa saja. Termasuk rindu pada ketinggian (gunung). Menuntaskan rindu pada gunung, berarti membicarakan kenangan-kenangan pendakian sebelumnya. Suka atau duka, tetap berujung rindu.

Tamu Tak Diundang

Manusia hanyalah tamu di hutan dan gunung. Alam bebas yang segala gerak-geriknya di luar kuasa kita. Apalah kita, yang hanya pendatang, kadang mengusik kehidupan penghuni-penghuni terdahulu. Fauna, flora, gejala-gejala alam, bahkan hingga sesuatu yang tak kasat mata. Seperti saat itu.

Wajah-Wajah Pagi di Ranu Kumbolo

Saya tak mengindahkan apapun yang dilakukan tubuh dalam lelap, setelah semalam mengabadikan gemerlapnya gemintang di langit Ranu Kumbolo. Telanjur dimanjakan hangatnya balutan sleeping bag berbahan dracon dan polar. Belum lagi kupluk dan jaket gunung yang ikut menghangatkan. Bergitulah nikmatnya melalui malam bersama dunia mimpi. Oh tunggu, bahkan saya yakin tidak bermimpi apa-apa. Tahu-tahu sudah Subuh. Saya tahu saat itu sudah Subuh, karena…