Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)

Pulau Maitara (kanan) dan Tidore dengan Gunung Marijang yang tertutup awan

Roda pesawat menyentuh aspal landasan pacu. Meskipun bersabuk pengaman, saya tetap tersentak. Tubuh yang duduk tegak sempat terangkat satu-dua kali. Lalu condong ke depan beberapa saat. Kedua telapak tangan mencengkeram pegangan kursi.

Bersamaan dengan itu, terdengar suara spoiler dan sirip menderu dari kedua sayap pesawat. Seperti berada dalam bus yang direm mendadak ketika kendaraan di depannya melambat.

Tepat beberapa meter sebelum ujung landasan, pesawat melambat dan langsung putar balik. Menuju apron Bandara Sultan Babullah, Ternate.

Untuk pertama kalinya, saya bersama Zulfa dan Eko menginjakkan kaki di wilayah Provinsi Maluku Utara. Dua jam lebih cepat dari Jawa.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Disambut Halimun Gunung Gamalama (2)”

Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)

Gapura Kadato Kie, Istana Kesultanan Tidore

Mengunjungi Tidore pada pertengahan April 2017 lalu, ibarat beralih jenjang pendidikan. Mencecap pengalaman yang serba pertama, baru, dan seru. Menikmati dan mempelajari banyak hal, seperti orang-orangnya, tradisinya, dan alamnya.

Semua bermula dari partisipasi dalam lomba menulis blog bertema “Tidore Untuk Indonesia”. Lomba yang digelar sejak tanggal peluncurannya (12/2/2017) sampai tenggat akhir 18 Maret 2017.

Continue reading “Dari Tidore untuk Indonesia: Sebuah Sepak Mula (1)”

Visit Tidore Island – To Ado Re, Sultan…

Saya terkesan saat membaca lembar demi lembar disertasi berbahasa Inggris –yang juga dibukukan– karya almarhum Muridan Satriyo Widjojo. Tesis doktoral peneliti LIPI yang diuji pada 2007 di hadapan para promotor Universitas Leiden, Belanda itu, begitu sangat-sangat (saya sengaja menekankan) membuka relung wawasan baru –selain tebal, tentu saja (lebih dari 300 halaman). Karya ilmiah setebal itu berisi riset yang menampilkan satu sosok utama, Sultan Nuku, yang mana terlibat dalam kebangkitan Kesultanan Tidore.

Ada atribusi khusus yang membuat Sultan Nuku begitu dikenal dan dikenang, yaitu jejak Revolusi Tidore. Ada di bagian keempat dalam disertasi tersebut.

Sultan Nuku bukanlah yang pertama dalam tahta Kesultanan Tidore. Tapi lewat Revolusi Tidore-lah, namanya melambung. Ia seakan ditakdirkan Tuhan untuk membuka mata dunia, bahwa Tidore tak bisa dipandang sebelah mata.

Tidore, olehnya dibuat seakan mengabarkan adagium. Boleh kita terbuai dengan kekayaan alam dan budayanya, tapi harus diiringi penghormatan sejarah pada para pendahulu. Pada jasa-jasa atas kemerdekaan Tidore dari Belanda, hingga kemudian secara administratif bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Continue reading “Visit Tidore Island – To Ado Re, Sultan…”