papanpelangi.me

Resolusi!

Malam itu di warung lalapan depan kos. Saya baru saja kelar yudisium sarjana saat itu.

Saya dan kedua orang tua tengah sibuk melahap makanan lalapannya masing-masing. Sesekali diselingi obrolan tentang masa depan saya, memilih karir atau melanjutkan studi magister terlebih dahulu. Prinsip Bapak adalah mana yang lebih dulu berpeluang, ambil saja.

Sempat jeda sejenak, tiba-tiba Bapak nyeletuk, “Sudah ada yang nungguin, kah?” Saya kaget. Mulut menganga. Melongo. “Nungguin gimana maksudnya?” saya balik bertanya.

Read More

Pembukaan acara buka puasa bersama oleh HRD Coordinator dan GM Secretary Hotel Horison Ultima Malang

Buka Puasa Bersama di Hotel Horison Ultima Malang

Sore itu, Selasa, 30 Juni 2015. Sekitar 45 menit sebelum kumandang azan Magrib mengudara. Saya sudah meluncur dengan sepeda motor kesayangan menuju Hotel Horison Ultima Malang. Langit sedang mendung namun tak turun hujan. Angin sore sudah cukup dingin berembus di Kota Malang.

Saya tiba sekitar 15 menit sebelum acara dimulai. Sore itu saya hadir memenuhi undangan buka puasa bersama. Sekaligus mencicipi menu kuliner Ramadan khas Hotel Horison Ultima Malang. Di Malabar Restaurant, sudah menunggu beberapa tamu undangan serupa. Kebanyakan dari media cetak dan radio.

Read More

#BloggerWalking: Pertemuan Senin Antara Serpong-Jakarta (Bagian 9)

Mas Ari, saya sudah di depan BSD Plaza. Begitu isi SMS-nya. Yang saya ketik dan kirimkan seturun dari angkutan kota berwarna biru langit. Kemudian, saya melipir ke sayap kanan plaza. Duduk manis menunggu Mas Ari menjemput di depan pagar menjulang kantor GraPARI Telkomsel BSD (Bumi Seprong Damai) City. Ya, ini adalah yang disebut kota di dalam kota. Di mana belasan mal berdiri menutupi resapan air. Ini memang masih di provinsi Banten, namun nuansa khas Jakarta begitu kentara. Sisi Banten Lama yang terik, kumuh dan berantakan; langsung berubah drastis dengan sisi Banten di tempat saya duduk menunggu.

Hampir 15 menit kemudian, datanglah Mas Ari dengan motor matiknya. Kami putar balik, lalu melaju dengan kecepatan sedang ke Pondok Aren. Kediaman Mas Ari dan keluarga kecilnya.

Read More

Langit biru pelipur lara di Banten Lama

#BloggerWalking: Banten Lama Yang (lama-lama) Semakin Merana (Bagian 8)

Sungguh bisa dibilang saya sama sekali nyaris tidak terkesima. Apalagi terkesan. Mungkin lebih patut dibilang terpana dan terperangah. Namun, terpana dan terperangah yang malah berujung empati. Saya terkejut. Saya tak akan panjang lebar bertutur, demikianlah ini apa yang terlihat.

Hanya langit biru yang menghibur.

“Langitnya lagi bagus, Om,” kata saya kepada Om Tio. Bersama Abyan, kami bertiga menyusuri Banten Lama dengan perasan keringat. Cerah, namun terik.

Read More

Senyum Abyan, putra kedua Mbak Noe, saat dipotret

#BloggerWalking: Di Pulau Merak Kecil, Kami Memandang Senja (Bagian 7)

Bis dengan warna kebesaran dominan kuning dan merah kami naiki agak tergesa. Bis berpendingin udara tersebut nyaris penuh. Beruntung, saya, Mbak Noe dan kedua anaknya (Daffa-Abyan) mendapatkan tempat duduk. Setidaknya, kami mendapatkan “angin” segar yang kontras dengan hawa di luar bis yang sangat terik. Menyengat.

Lalu di mana Om Tio dan Muchlis? Mereka berdua kembali ke rumah Mbak Noe, mengambil bekal piknik. Jadi, mereka akan menunggang motor bebek kesayangan Om Tio ke Merak. Setibanya di sebuah warung dekat Polsek Pulomerak, saya kaget ketika Mbak Noe menyampaikan pesan dari Om Tio.

“Di rumah hujan.”

Read More

Rumah Dunia Gol A Gong

#BloggerWalking: Tertampar Malu di Rumah Dunia dan Gong Library (Bagian 6)

“Mbak, kami sudah naik bus dari Kampung Rambutan.” Begitu isi pesan Whatsapp saya ke Mbak Noe. Setelah itu, saya dan Muchlis bergantian merem-melek karena ngantuk. Pendingin udara bus Primajasa ini sukses membawa kami melayang ke alam mimpi. Walau hanya sesaat.

Saya sendiri, terbangun dari lelap sejenak hanya karena dua hal. Pertama, karena harus membalas pesan masuk ke gawai yang mendesak, membutuhkan jawaban. Kedua, karena terheran-heran dengan kondisi di mana bus berhenti di tepi lajur kiri (bahu) jalan tol, menurunkan penumpang di sana. Lalu penumpang tersebut terus berjalan menjauhi tol dan menaiki “tangga darurat” melewati pagar berduri untuk sampai di kampung. Para tukang ojek bersiap menawarkan jasa untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan yang sebenarnya.

Read More

Salah satu ruas jalan yang bersebelahan dengan Kebun Raya Bogor

#BloggerWalking: Pertemuan Petang dan Depok yang Basah (Bagian 4)

Saya melihatnya sekilas memasuki lobi sebuah mal. Dia bersama dengan seorang teman yang saya juga tahu siapa. Saya membuntutinya, diikuti oleh Mbak Donna dan Mas Gio.

Dia mengangkat gawainya, mencoba menelpon ke gawai saya. Saya biarkan, sembari tertawa kecil. Sampai di depan sebuah kios, dia menutup teleponnya lalu menghentikan langkah. Saya mendekat.

 

“Halo, Deb! Apa kabar? Hehehe,” celetuk saya. Mereka berdua menoleh ke belakang dan agak terkejut. Sore itu Deby ditemani Happy. Kami dulu adalah teman seangkatan di kampus namun beda kelas. Mereka berdua sudah lulus sarjana dan kini mengenyam studi magister di Institut Pertanian Bogor. Saya? Masih meretas jalan.

Read More

#BloggerWalking: Cerita Kecil Menuju Kebun Raya Bogor (Bagian 2)

Jumat pagi di Stasiun KRL Tanjung Barat.

“Se..la…mat… Pa…gi…”

Saya tersentak. Sapaan lembut dari suara laki-laki ternyata muncul di belakang saya. Seorang petugas keamanan bagaikan guru TK yang menyapa murid-muridnya sebelum masuk kelas.

“Da…ri… Ma…na…?” tanyanya lagi dengan senyum mengembang. Tetapi, ia tidak melihat wajah saya. Matanya tertuju pada kamera hitam yang tergantung di leher.

Malang, Pak, hehehe,” jawab saya dengan senyum menyeringai, mata menyipit.

Rupanya dia mengira saya wartawan. Mungkin karena saya terlihat paling mencolok di antara calon penumpang KRL yang lain. Memanggul tas carrier 48L dan tas kamera di depan perut, ditambah pakaian yang serba hitam, saya memang seperti seorang pejalan yang merangkap jurnalis. Beda tipis.

“Ka…lau… ma…u… li…pu…tan… ha…rus… a…da… i…zin… ter…tu…lis, Mas,” ujarnya perlahan, masih dengan senyum mengembang. Kini seperti seorang guru TK yang semringah menangkap basah, yang memergoki siswanya berbuat ulah.

Read More

#BloggerWalking: Bertemu Bapaknya Jalan Pendaki (Bagian 1)

Suara pintu kamar kos terbuka. Saya terbangun dari tidur siang yang cukup nyenyak. Seperti mendapatkan jam tidur pengganti, setelah perjalanan panjang dari Malang ke Jakarta dengan kereta api Matarmaja. Muchlis, sang penghuni yang asli membuka pintu kamarnya sendiri, yang sedari siang saya “jaga” dengan tidur.

“Tidur bro?” tanyanya.

“Iya Mu, ketiduran, hehehe.”

Dia baru pulang kerja dari Pusdiklat BRI Ragunan sore itu. Gedung kantor yang hanya berjarak 45 detik jalan kaki dari pintu utama kos, katanya.

 

“Jam berapa berangkat ke Margo City?” tanyanya lagi.

“Habis salat Magrib lah, biar enak.”

Read More

Arief Yahya dan Abdullah Azwar Anas, dua putra kebanggaan Banyuwangi (Sumber: banyuwangikab.go.id)

Di Tangan Arief Yahya, Saya Memilih Percaya

Sebentar, saya memejamkan mata dan menarik napas dalam terlebih dahulu. Hmm…

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu ‘alaikum, sugeng siang,

Kelendhi, Byapak, riko wis madhyang? Nek Isun wis tuwuk madhyang, ambekno Isun karipan. (*)

Ndhiko, Bapak Menteri. Njenengan jangan tertawa, ya. Kosakata bahasa Osing saya masih dangkal. Sehingga kadang-kadang saya masih belajar menambah perbendaharaan bahasa Osing dengan teman-teman yang asli Banyuwangi. Juga mendengarkan tembang dangdut Banyuwangian.

Sebelumnya, terimalah permohonan maaf saya jika surat ini tanpa amplop. Ya, pikir saya supaya tidak berkesan salam tempel atau ngasih “titipan” yang bisa dicurigai pimpinan KPK. Jadi, mohon dimaklumi jika tulisannya agak lecek. Bahasa halusnya “kusut”. Mohon diterima dan dibaca dengan lapang dada.

Sebenarnya akan menghabiskan puluhan ribu karakter kata dan berlembar-lembar halaman jika mengupas tentang pariwisata Indonesia dan seisinya. Maka bolehlah jika nanti saya menyelipkan sedikit pengalaman saat bertualang. Karena, saya juga seorang pejalan dan mencintai negeri ini. Nah, makanya saya menulis surat ini.

Read More