#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)

Bentuk kepedulian Atria Hotel & Conference Magelang terhadap batik

Ini hari keempat saya di Jawa Tengah. Setelah sebelumnya berkelana ke Ungaran, Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Temanggung; kini saya masih melanjutkan perjalanan. Magelang, kota yang akan saya tuju.

“Jadi pulang kapan?”

Continue reading “#VisitJateng: Menginap Semalam di Atria Hotel & Conference Magelang (8-habis)”

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)

Pancuran Pitu, Baturraden

Setelah menapaki ratusan anak tangga -yang saya tak sempat menghitung angka pastinya-, sejumlah lelaki berusia paruh baya menyambut dengan tawaran jasa lulur belerang. Di antara kami, hanya Pak Pranoto yang menyambut tawaran itu. Wajar saja, mungkin beliau perlu melemaskan otot kaki yang sedari kemarin dibuat tegang. Menginjak pedal gas, rem, dan kopling sepanjang Semarang-Temanggung-Wonosobo-Banyumas. Ditambah, berjalan menapaki ratusan undakan anak tangga tadi.

Pak Pranoto pun langsung duduk di dingklik kecil, dengan celana digulung hingga selutut. Seorang lelaki berpakaian lusuh dengan cekatan mengoleskan serbuk lulur belerang ke kedua betisnya. “Enak lho, ayo sini kalau mau coba,” ajak Pak Pranoto.

Continue reading “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.3)”

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)

Baturraden Adventure Forest, Kabupaten Banyumas

Gerbang Kebun Raya Baturraden tampak di depan kami. Namun, Pak Pranoto membelokkan mobil ke kanan. “Kita ke BAF dulu ya, baru pulangnya ke Pancuran Pitu,” terangnya. Kebun Raya Baturraden adalah pintu masuk ke Pancuran Pitu.

Sesekali tubuh kami agak berguncang, ketika keempat ban mobil melintasi jalan aspal yang berlubang. Saya sebenarnya kasihan dengan Mbak Ratri dan Mbak Reaca yang duduk di jok belakang. Tentu lebih terguncang. Nama terakhir ini baru bergabung dengan kami sejak tengah malam. Urusan pekerjaan membuatnya terpaksa menyusul di pagi buta, hari kedua family trip ini.

Continue reading “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.2)”

#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)

Salah satu sudut di dalam kawasan wisata Baturraden

Tubuhnya begitu lebar, kakinya mencengkeram kokoh ke bumi. Berbalut hutan khas tropis yang rimbun, lalu menyisakan tanah kering, berbatu, dan padas di bagian kepalanya. Membelah lima kabupaten. Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang mendapat bagian yang meskipun tak sama rata. Jika cuaca bersahabat, jika kabut dan mendung tak menghalangi. Kita bisa melihatnya berdiri menjulang, seolah mencakar langit. Anggap saja tinggi badan kita sama rata, sekitar 1,6 meter. Jika dihitung mulai dari titik nol dari permukaan laut, maka perlu kurang lebih 2.143 orang untuk saling berdiri di atas kepala satu sama lain; menyamai ketinggiannya.

Continue reading “#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)”

#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)

Peserta parade dari Kabupaten Kudus

Saya pikir sedang ada pertemuan lintas agama. Ada ulama berpakaian serba putih, mewakili umat Islam. Ada pendeta, bhiksu, bhiksuni, resi, brahmana, lalu disusul di belakangnya orang desa berkebaya. Ternyata bukan. Konsep demikian mengusung semangat pluralisme. Mengingatkan saya tentang sejarah salah satu anggota dewan Wali Songo, Sunan Kudus. Bagaimana dulu ia memikat pribumi setempat terhadap agama Islam. Dakwahnya santun, halus, tanpa memberangus kebudayaan setempat yang saat itu mayoritas beragama Hindu.

Terjadi akulturasi budaya, yang bukti sejarahnya bisa kita lihat di arsitektur menara Masjid Kudus. Perpaduan budaya Hindu, Buddha, Cina, Persia dan Islam.

Continue reading “#VisitJateng: Memintas Demi Parade Seni Jawa Tengah 2015 (3)”