Saya dan mikrobus Gunung Mas trayek Maumere-Ruteng saat istirahat makan di sebuah rumah makan masakan Padang di kota Ende

Antara Maumere dan Ruteng

Siang itu, jelang waktu Asar, mikrobus biru berkapasitas 14 penumpang ini berhenti di seberang sebuah penginapan tak jauh dari Pelabuhan Aimere, Kabupaten Ngada. Mikrobus dan gerbang penginapan tersebut dipisahkan jalan nasional Trans Flores.

Sim, sopir travel Gunung Mas itu, turun dan bergegas membukakan pintu samping paling belakang mikrobus bercat biru ini. Saya yang duduk di deret kursi belakang sopir ikut menoleh ke belakang, melihat siapa yang turun.

Satu orang saja yang turun, seorang pria yang sudah sepuh. Dia ikut naik bersama rombongan keluarganya dari kota Ende. Dia turun di Aimere, yang lain akan turun di Ruteng.

Kakek itu turun dengan meninggalkan jejak. Jejak muntah yang mengering kecoklatan di dinding pintu. Jejak yang menjadi saksi ‘keganasan’ Trans Flores.

* * *

Berhenti sebentar setelah 15 menit perjalanan dari Maumere. Ada penumpang yang tertinggal.

Berhenti sebentar setelah 15 menit perjalanan dari Maumere. Ada penumpang yang tertinggal.

Nada dering ponsel model lawas (batang) terdengar nyaring di atas dasbor. Sim, sopir yang sudah 3 tahun bekerja di Gunung Mas itu mengangkat teleponnya. Yang meneleponnya seorang karyawan dari kantor agen Gunung Mas di Maumere. Ada satu lagi penumpang yang tertinggal. “Lah, siapa suruh tadi jemput cepat-cepat, hah?” Sim tertawa, lalu menepikan mikrobus yang kami tumpangi.

Sim mematikan mesin. Kami semua memilih turun dan menghirup udara yang sejuk di tempat kami berhenti.

Kami memang berangkat 30 menit lebih cepat dari jadwal yang seharusnya pukul 07.00 dari kantor agen. Saya dan teman diminta sudah siap pukul 06.30 dan akan dijemput terakhir. Tapi pukul 06.00 kami sudah dijemput di rumah dr. Nur di dekat GOR Samador, host yang kami tumpangi selama dua malam di Maumere. Cuma ada tiga penumpang yang berangkat, kata sopir penjemput berkaus tanpa lengan itu.

Dan di sini, di tepi perkampungan yang sunyi di lepas kota Maumere ke arah Ende, kami menunggu. Sim baru mengemudi 15 menit dari kantor agen. Sim mengambil alih kemudi dari sopir penjemput, yang memang tugasnya hanya menjemput dan mengumpulkan penumpang di kantor agen tersebut.

“Mau ke Wae Rebo, ya?” tanya seorang bapak berkaus merah bertuliskan Flores, Pulau 1000 Gereja. Dia penumpang yang duduk di samping Sim. Kamilah ketiga penumpang yang akan berangkat ke Ruteng. Bapak itu tampaknya paham ke mana kami akan pergi, setelah melihat dua tas keril yang kami bawa. Kami hanya mengangguk dan tersenyum.

Sepuluh menit kemudian, penumpang yang terakhir dari Maumere akhirnya datang. Dia diantar dengan mobil oleh kerabatnya. Sejatinya dia tidak bisa dibilang ketinggalan, karena dia beli tiket langsung di kantor agen Maumere sebelum pukul 07.00. Kami saja yang berangkat terlalu awal.

Kini penumpang genap menjadi empat. Si bapak yang duduk di depan berkelakar, “Kita kayak darmawisata saja, sewa mobil gede ini isinya cuma empat orang.”

Gunung Mas seperti menjadi satu-satunya pilihan transportasi untuk trayek Maumere-Ruteng di hari Minggu, hari di mana agen jasa perjalanan lainnya malah libur. Sepertinya etos kerja khas Tiongkok, garis darah pemilik Gunung Mas ini, menular ke seluruh lini usahanya, seakan tak mengenal kata libur dan istirahat.

* * *

Jalan Trans Flores dengan banyak titik rawan longsor membuat kita harus berhati-hati dan banyak berdoa saat melewatinya

Jalan Trans Flores dengan banyak titik rawan longsor membuat kita harus berhati-hati dan banyak berdoa saat melewatinya

Maumere da gale kota Ende
Pepin gisong gasong
Le’le luk ele rebin ha 

Do do do do mi do mi do gemu fa mi re…

Lagu Gemu Fa Mi Re yang didendangkan Alfred Gare begitu rancak dan menghentak seisi mobil. Alunan nada lagu ciptaan Nyong Franco itu seakan berirama dengan liukan laju mikrobus yang sedang melintasi Trans Flores di wilayah perbatasan Kabupaten Sikka-Ende.

Lagu-lagu pilihan Sim disimpan dalam sebuah flahsdisk miliknya. Selera sopir yang juga bertugas saat gelaran Tour de Flores 2016 itu cukup bagus. Selain lagu khas Flores yang menggoda tubuh bergoyang, lagu-lagu modern macam tembang Tetap Dalam Jiwa-nya Isyana Sarasvati hingga Locked Away-nya Adam Levine dan R. City menghiasi pemutar lagunya. Bahkan lagu lawas macam 25 minutes dari Michael Learns To Rock juga ikut serta.

Tapi saya merasa bersyukur Sim memiliki koleksi lagu yang cukup lengkap, meskipun tentu diputar berulang-ulang sepanjang perjalanan Maumere-Ruteng. Setidaknya menghibur dan mencegah saya dari ancaman mabuk darat. Teman saya yang mulai mengeluh pusing bahkan memilih tidur. Saya pun juga menahan diri tidak mendengarkan lagu dari gawai saya, untuk menghemat daya.

Yang harus disyukuri lagi, saya tetap dalam keadaan sadar. Bahkan saya nyaris terjaga sepanjang perjalanan. Perjalanan Maumere-Ruteng ini adalah kesempatan terbaik untuk menikmati panorama dan keunikan-keunikan yang melekat di jalan Trans Flores yang legendaris ini.

Pemandangan berupa sawah adalah salah satu yang akan banyak ditemui saat melintas di Trans Flores. Melihat pemandangan seperti ini akan menghibur dan sedikit mengobati mabuk darat.

Pemandangan berupa sawah adalah salah satu yang akan banyak ditemui saat melintas di Trans Flores. Melihat pemandangan seperti ini akan menghibur dan sedikit mengobati mabuk darat.

“Jalannya kayak begini terus, ya, Mbak?” tanya saya pada penumpang perempuan yang duduk di sebelah saya. Dia baru saja memuntahkan isi perutnya ke dalam tiga kantung plastik hitam. Saya memberinya botol berisi air mineral yang saya bawa.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum meringis. Mungkin dalam hatinya, dia berharap agar saya tidak mengalami hal yang serupa dengannya. Mabuk darat adalah efek samping saat melintasi jalan nasional yang membentang sepanjang kurang lebih 660 km itu.

Trans Flores yang bermula dan berakhir di Labuan Bajo (Manggarai Barat) dan Larantuka (Flores Timur) itu seperti bersusah payah bertahan di tengah gempuran peristiwa alam. Tanah longsor adalah hal yang paling mengancam jalan nasional berusia 91 tahun bikinan kolonial Belanda itu.

Saya saja bergidik ketika kami melewati tanjakan dan tikungan tajam saat memasuki wilayah Kabupaten Ende menuju Moni, desa yang menjadi titik mula ke Taman Nasional Kelimutu. Sebagian besar badan jalan bersandar pada tebing yang tampak ringkih dan siap menggugurkan batuan berbagai macam ukuran kapan saja.

Tak heran sistem buka-tutup kerap diperlakukan ketika terjadi guguran batu dan tanah longsor memutus jalan. Saat musim penghujan, tentu harus lebih waspada lagi.

Pemandangan sepanjang perjalanan di lintas Trans Flores memang indah. Memanjakan mata. Tapi, keindahannya dan kemulusan aspalnya bisa melenakan; jika tak siap dengan tikungan tajam berkelok bak grafis elektrokardiograf pengukur denyut jantung itu

Jalan yang lurus dan datar adalah sebuah bonus dan kemewahan di Trans Flores. Selebihnya adalah tentang bergoyang tanpa henti. Belum selesai menstabilkan tubuh setelah tikungan ke kiri, datang langsung tikungan ke kanan. Seakan selaras dengan potongan lagu Gemu Fa Mi Re: Putar ke kiri e… Nona manis putarlah ke kiri… Sekarang kanan e… Nona manis putarlah ke kanan… Mungkin kata ‘nona’ bisa juga diganti dengan kata ‘penumpang’ dalam konteks ini.

Tapi, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada para kolonial yang telah membangun Trans Flores, walau tentu bercampur dengan cucuran keringat, darah, dan nestapa pribumi. Dengan jalan ini, nadi perekonomian dapat tersambung, walau belum sepenuhnya menyeluruh.

* * * 

Tak hanya mangga, buah jeruk juga sedang mahal. Harganya mencapai 20 ribu rupiah untuk 4-5 buah jeruk.

Tak hanya mangga, buah jeruk juga sedang mahal. Harganya mencapai 20 ribu rupiah untuk 4-5 buah jeruk.

“Permisi, Mama, saya izin mau ke kamar mandi,” pinta saya kepada seorang ibu yang sedang bersantai di depan rumahnya yang sederhana. Letaknya lebih rendah dari permukaan jalan Trans Flores sebelum memasuki Aimere. Yang jelas, Gunung Inerie yang lancip, yang memaku Desa Bena di kabupaten Ngada itu sudah hilang dari pandangan, tertutup bukit-bukit.

“Oh, silakan! Silakan!” Ia tampak bersemangat dan menyuruh anak perempuannya untuk menunjukkan saya kamar mandi di dalam rumahnya. Kamar mandinya sangat sederhana. Di pojokan belakang pintu, pakaian bertumpuk menunggu dicuci. Ember berukuran besar berjejer menampung air. Tak ada bak mandi di sini.

Keluar dari rumah, sang ibu sempat menanyakan tujuan saya. “Ke Ruteng, Ma,” jawab saya. “Dari Maumere, kah?” Tanyanya lagi. Saya mengangguk dan tersenyum lebar.

Sambil menunjuk ke tumpukan mangga yang dijual di depan warung di tepi jalan itu, saya balik bertanya padanya, “Lagi musim manggakah?” Dia menggeleng. Katanya, saat musim mangga biasanya harganya berkisar 10 ribu rupiah per lima buah. “Sekarang 20 ribu cuma dapat lima buah. Mahal,” katanya sambil menggeleng.

Saya kembali naik ke tepi jalan. Kami memang sedang istirahat sejenak di sini. Karena, sebagian besar penumpang minta berhenti untuk beli buah mangga. Saya hanya membeli satu botol air mineral 1,5 liter bertuliskan ‘Ruteng’.

Kemudian saya mendekati Sim, sang sopir yang sudah mengantar kami menempuh dua pertiga perjalanan. Dia sedang berjongkok di depan warung. Dia asyik melahap gorengan, sementara penumpang lain sibuk memilih buah mangga untuk dibawa pulang.

“Berapa?” tanyanya sambil melirik ke arah botol air mineral yang saya beli. Saya menunjukkan kedua telapak tangan saya kepadanya. Menampakkan kesepuluh jari saya. Sim hanya tersenyum sinis, “Mahal.”

Usai gorengannya tandas, Sim berkata kepada saya, “Eh, bro, boleh lihat hpmu lagi?” Saya mengangguk, dan menyerahkan gawai buatan Taiwan milik saya ke Sim. “Berapa ini dulu kau beli?” Saya sedikit mengingat, karena saya membelinya sudah dua tahun yang lalu. “Harga barunya dulu sekitar 1,5 juta. Kalau sekarang paling turun jadi 900 ribuan,” kata saya.

Sim membolak-balikkan gawai saya, memencet-mencet layar sentuhnya. “Ini sudah ada Google?” (Sim mengucapkan kata ‘Google’ dengan ejaan ‘gogel’; dengan huruf ‘o’ tunggal dan huruf ‘e’ dibaca seperti ‘e’ pada kata sate). “Sudah, Om, sistem operasinya kan Android, bikinan Google, hehehe,” jawab saya.

Sim mengangguk-angguk, lalu bertanya lagi, “Ini pesbuk juga sudah ada? sama wasap juga sudah ada?” Saya nyaris tertawa, lalu menjawab lagi, “Kalau itu harus download dulu, Om.”

Dari gerak-geriknya, tersirat kalau memang dia benar-benar membutuhkan ponsel baru. Gawai yang bisa membawanya berkelana di dunia maya. “Di toko konter di Maumere katanya ada tiga merek yang bagus, tapi saya bingung. Yaudah, berangkat lagi, yuk!” ajaknya.

Satu per satu penumpang sepertinya sudah puas dengan buah mangga yang dibeli dan kembali ke mobil. Sim mengecek ulang penumpangnya, lalu kembali ke balik kemudi. Untuk sementara Sim harus melupakan sejenak keinginannya membeli ponsel baru. Sim harus fokus ke jalan di hadapannya. Kelihaiannya mengemudi kembali melajukan mikrobus ini meliuk Trans Flores dengan mulus.

* * *

Meninggalkan Borong, dan 'melahap' sisa 56 km lagi menuju kota Ruteng, kabupaten Manggarai

Meninggalkan Borong, dan ‘melahap’ sisa 56 km lagi menuju kota Ruteng, kabupaten Manggarai

“Kiri!”

Mendengar suara dari belakang, Sim dengan sigap menginjak rem, menepi, dan menghentikan kendaraan di sebuah tempat semacam pasar di daerah Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur.

Seorang penumpang yang duduk di baris kursi paling belakang kemudian mengeluarkan bingkisan paket dari dalam tasnya. Ia tergesa menelepon seseorang dari dalam mobil. Obrolan yang terlintas diucapkan dalam bahasa Manggarai.

Tak lama, seorang pria paruh baya mendekati jendela mikrobus bagian kanan belakang. Mendekati penumpang yang menelepon tadi. Dari luar dia menerima paket itu. Setelah bercakap-cakap sebentar, kemudian si penerima paket dengan lantang berteriak ke Sim. Seakan tahu dari mana Sim berasal, si penerima paket itu menyampaikan semacam ungkapan serapan terima kasih dalam bahasa Nagekeo, “Modo, sama ke!”

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sekilas saya sempat melihat patok kilometer di tepi jalan tak jauh dari tempat kami berhenti tadi. Ruteng (berkode RTG) ‘tinggal’ berjarak 56 kilometer lagi dari Borong.

 * * *

Warung bakso milik orang Bandung di dekat pusat kota Ruteng, tak jauh dari hotel Rima tempat saya menginap

Warung bakso milik orang Bandung di dekat pusat kota Ruteng, tak jauh dari hotel Rima tempat saya menginap

Jalan raya relatif datar selepas tanjakan penuh tikungan di kawasan Taman Wisata Alam Ruteng, yang ‘menyembunyikan’ Danau Ranamese di balik pagar tembok.

Sekitar pukul 17.30, tepat azan Magrib berkumandang di langit kota Ruteng yang mulai gelap. Sim menghentikan mikrobusnya tepat di depan tangga masuk lobi hotel Rima, tempat saya dan teman seperjalanan akan menginap satu malam.

Saya pun langsung meregangkan tubuh seturunnya dari mobil. Rasanya bagaikan terbangun dari tidur yang salah posisi, dan (maaf) pantat yang hanya berisi tulang ini juga terasa menipis.

Sim membantu saya menurunkan tas keril kami yang beratnya hampir 25 kg untuk dua tas. Sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, kantor pusat Gunung Mas di kota Ruteng, Sim masih sempat bertanya kepada saya, “Jadi bagaimana, Bro? Enaknya beli hp yang merek apa ya?”

Saya tertawa, “Berapa nomor hpnya Om? Nanti saya SMS, saya bantu kasih info buat pilih-pilih.” Sim ikut tertawa dan menjabat erat tangan saya. Kami berpisah.

Secepat kilat, punggung mikrobus travel Gunung Mas semakin menjauh dan knalpotnya meninggalkan asap-asap tipis di udara yang suhunya kian merendah. Tiba-tiba perut saya kembali merengek. Seharian ini perut baru sekali diisi makanan, yaitu masakan Padang saat istirahat di Ende 7 jam yang lalu.

Saya tadi sepintas melihat spanduk penanda keberadaan sebuah warung bakso tak jauh sebelum hotel. Kami sepertinya harus makan bakso untuk menghangatkan tubuh. Sehangat pertemuan-pertemuan yang saya alami sepanjang perjalanan sejauh 420 km ini.  (*)


Foto sampul:
Saya dan mikrobus Gunung Mas trayek Maumere-Ruteng saat istirahat makan di sebuah rumah makan masakan Padang di kota Ende (dipotret oleh teman saya, Mory)

84 comments

  1. mysukmana · November 25, 2016

    pelangi indonesia bener, postingan blognya penuh warna..itu anak2 naik pickup ampe penuh gitu mas

    Disukai oleh 1 orang

  2. Nasirullah Sitam · November 25, 2016

    Yang baca ikut capek ketika membayangkan perjalanan seperti itu. Pantes teman-temanku yang orang Manggarai, Ende, Adonara selalu bercerita kalau perjalanan di sana memakan banyak waktu.

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Flores termasuk yang beruntung dibikinkan jalan untuk kali pertama oleh kolonial Belanda. Ketika hendak membangun jalan di Adonara, Lembata, Solor, tak selesai karena kekurangan biaya. Karenanya, jalan2 di sana masih banyak yang rusak dan belum tersentuh perbaikan seutuhnya.

      Suka

  3. Lulu Ws · November 25, 2016

    masalah pariwisata di timur ya mas… selalu itu2 saja “akses” -_-
    btw lagu2nya memang asyik di dengar..saya paling suka joget dgn lagu2 timur, flores.. enak di dengar..
    Maumere da gale kota Ende
    Pepin gisong gasong
    Le’le luk ele rebin ha

    Do do do do mi do mi do gemu fa mi re

    Disukai oleh 1 orang

  4. Lulu Ws · November 25, 2016

    masalah di timur selalu sama “akses”
    tetapi disitulah letak tantangannya mas, ketika kalau ke jawa dgn modal gps dan info google semua bisa jalan.. lha kalau kesana.. semua yang ada di gps dan info google bisa berubah… 😀
    selamat menikmati perjalanan ke timur mas 😀

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Iya Mbak, pakai GPS yang real, Gunakan Penduduk Sekitar hahaha. Sip, Sumbawa belum seutuhnya nih saya hehehehe #Kode

      Suka

  5. Johanes Anggoro · November 25, 2016

    saya jadi punya gambaran bagaimana kondisi jalur trans flores ini. oiya, btw, gunung mas ini konon satu-satunya yg melayani trayek trans flores kah, atau ada yang lain?

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Demikianlah, sebenarnya ada banyak detail lagi tentang Trans Flores, tapi saya potong karena kepanjangan nanti tulisannya haha. Tidak, ada lagi semacam Manggarai Indah, dan beberapa lagi. Tapi di hari Minggu, sepertinya cuma Gunung Mas yang tetap beroperasi, lainnya libur.

      Suka

      • Johanes Anggoro · November 26, 2016

        pantes ya gak ada bus besar di jalur trans flores ini. berbeda dengan sumbawa yang sepertinya masih dilewati bus besar

        Suka

        • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

          Bisa sih, truk-truk besar saja kayak Pertamina sama truk ekspedisi banyak yang lewat Mas, cuma mungkin mending naik bus kecil atau travel aja hahaha

          Suka

  6. Hendi Setiyanto · November 25, 2016

    nggak perlu jauh-jauh, di daerah sendiri jalan dan akses juga lumayan menyita waktu apalagi transportasi umumnya hehehe

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Iya Mas, tapi separah-parahnya jalan di Jawa, harus tetap disyukuri, kita beruntung…

      Disukai oleh 1 orang

      • Hendi Setiyanto · November 26, 2016

        Iya jg sih…tapi aku merasa kok Banjarnegara identik dgn jalan rusaknya 😅

        Disukai oleh 1 orang

        • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

          Hahaha, coba kalau ada waktu pergilah ke daerah-daerah timur. Saya yang sering pulang kampung ke Pacitan dan sering nemui jalan rusak saja harus lebih bersyukur lagi karena di timur bisa jauh lebih parah 🙂

          Disukai oleh 1 orang

  7. Hendi Setiyanto · November 25, 2016

    komen lagi…serasa sedang membaca buku-bukunya Agustinus Wibowo hehehe

    Disukai oleh 1 orang

  8. leniaini · November 25, 2016

    sukaa dengan alur berceritanya, jadi serasa ikutan perjalanannya juga. ehehe

    Disukai oleh 1 orang

  9. Danan Wahyu Sumirat · November 25, 2016

    kangen flores . Dulu berniat jelajah flores dengan kendaraan umum seperti ini tapi akhirnya memilih piknik cantik karena beberapa teman trip ibu-ibu.

    Semoga ada kesemapatan ke flores lagi

    Disukai oleh 1 orang

  10. Gara · November 25, 2016

    Wuih, NTT! Jalan-jalan di NTT ini adalah jalan yang sangat kaya ya Mas. Semua cerita perjalanan yang saya baca, ketika sudah masuk ke NTT, pasti menunjukkan kekayaan yang tanpa batas dari jalan-jalan itu. Di sini saya membaca belajar dari alam, dari masyarakat, tentang hidup di jalan namun penuh kekeluargaan, tidak terasing dan saling mengasingkan diri. Saya setuju dengan komentar Mas Hendi, dan harus saya tambahkan, sepertinya dirimu harus bikin buku untuk mendokumentasikan dan menyebarkan pelajaran hidup yang kamu dapat, Mas, hehe.

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Hehe, iya Mas. NTT adalah kekayaan tanpa batas yang dibatasi keterbatasan #apasih hehe. Maksud saya, memang kaya, tapi karena keterbatasan, masih belum tampak total kekayaan itu 🙂

      Ah, perjalanan masih panjang, sama-sama mendoakan saja ya supaya bisa sama-sama menghasilkan karya terbaik masing-masing 🙂

      Suka

      • Gara · November 28, 2016

        Setuju, Mas. Mudah-mudahan suatu hari nanti saya juga bisa jelajah NTT, hehe. Mupeng nih baca tulisanmu, hoho.

        Suka

  11. iyoskusuma · November 26, 2016

    10 jari itu maksudnya seboyol air 10.000 ya? Sama kaya harga 5 mangga kalo lagi musim? Haha. Itu mangganya murah banget ya 😃

    Asik ceritanya, Mas! Sangat humanis. Cerita perjalanan yang meletihkan nampak menenangkan.

    Disukai oleh 1 orang

  12. jejakjelata · November 26, 2016

    entah kenapa aku suka buka blog ini, krna bacanya ikut hanyut kadang sampai baper #eh.

    Suka

  13. Gio | Disgiovery · November 26, 2016

    Qy, kusuka penuturannya! Foto-fotonya juga bercerita 🙂

    Btw volume musik selama perjalanan gimana, menggelegar gak? Aku belum pernah overland Flores, faktor resiko mabok darat besar banget soalnya, hahaha!

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Terima kasih Mas 🙂

      Menggelegar! Tapi menyesuaikan, kalau sopirnya tahu ada penumpang yang lagi telpon, atau lagi banyak yang istirahat dia kecilin volumenya hahaha. Latihan dulu aja mas di jalan lintas Pacitan-Jogja, atau Dieng, biar gak mabuk darat di Flores 😀

      Suka

  14. atrasina adlina · November 26, 2016

    saya tau Dr.Nur. hahaha. sehat2 selalu yaa bro..

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · November 26, 2016

      Hehehe, dulu awal pertama kenal dari mana Mbak? Siap Mbak, Anda juga hehehe 🙂

      Suka

  15. omnduut · November 26, 2016

    Senang orang di sana ramah-ramah ya. Numpang ke toilet itu hal sederhana, tapi percayalah nggak semua orang mau kasih izin loh 🙂

    Qy bikin buku Qy. Lama-lama Indonesia khatam dan bisa bikin buku kayak Meraba Indonesia itu.

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · November 28, 2016

      Iya memang, tapi prinsip dasarnya sederhana: Sopanlah, maka akan berbalas 🙂

      Doakan saja Om supaya terealisasikan 🙂

      Suka

  16. Rudi Chandra · November 26, 2016

    keren postingannya.
    rasanya jadi ikut terhanyut gitu.

    Suka

  17. sarah · November 26, 2016

    Agennya kocak juga ya, udah berangkat baru nanggep lagi penumpang baru. Kok nggak dimasukan ke trip berikutnya ya? Berarti kalo gitu harus siap2 nggak jelas ya. Oya, itu kontur tanah yang bikin mabuk ya? Atau gaya sopirnya yang bawa mobil bikin mabuk nih? Tapi aku jadi penasaran pengen jelajah juga Ruteng, Flores. Salam kenal ya mas, dari Pekanbaru

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · November 28, 2016

      Hahaha, sopir penjemputnya terlalu terburu-buru menjemput. Untuk rute Maumere-Ruteng dan sebaliknya, hanya ada satu kali dalam sehari, berangkatnya pukul 07.00 🙂

      Memang topografi Flores cenderung dominan berbukit-bukit, jadi jelas pembuatan jalannya mengikuti lekukan alam haha. Kalau sopirnya sangat lihat, halus nyetirnya. Lancar, cepat, tapi tidak ngawur.

      Salam kenal Mbak 🙂

      Suka

  18. dewinielsen.com · November 27, 2016

    Penumpang yang muntah-muntah itu kayak pengalamanku dulu mas, jalan ke Sibolga, yang berliku-liku di Sumatera sana. Nggak kuat banget, ampe 3 kali.
    Aku suka banget dengar aksen orang Timur, karena hampir mirip kayak aksen orang Batak…bisa aku bayangkan si mas ya nanya “ini udah ada google?”

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · November 28, 2016

      Nah, sepertinya saya harus menguji diri ke liku-liku jalanan Sumatra hehehe. Justru saya suka banget jalanan yang berkelak-kelok gitu, hahaha, aneh ya 😀

      Iya, saya juga suka, menghibur banget buat saya 🙂

      Suka

  19. Jasa Penulis konten · November 27, 2016

    Rifqy ngelayap terus nih, kapan nih ajakin kita? mau dong…

    Suka

  20. Andika Hermawan · November 27, 2016

    ceritanya asyik, serasa ikut merasakan perjalanan yang kamu lakukan Qy, aku ga bisa ngebayangin kalau harus jalan darat berjam-jam dengan rute jalan seperti itu. Dulu naik travel dari Sub ke Bwi pas long weekend & kejebak macet aja sudah kesiksa banget rasanya

    Suka

    • Rifqy Faiza Rahman · November 28, 2016

      Terima kasih Mas, ya begitulah kondisinya hahaha. Wong Surabaya-Malang pas liburan aja sudah bikin stres 😀

      Suka

  21. Dzulfikar · November 28, 2016

    Kalau dapet warung bakso di daerah Timur itu kek dapat berlian, saya waktu ke Waisai aja ketemu warung pecel lele udah girang banget hahaha

    Suka

  22. Muhammad Catur Nugraha · November 28, 2016

    Kalau saya waktu jelajah Flores, lagu – lagu dari Mitha Talahatu yang menemani sepanjang perjalanan.

    Seng bisa, jujur beta seng bisa,
    hidup jauh, harus dekat deng ale

    Suka

  23. Mesra Berkelana · November 29, 2016

    Aku penasaran sama lagu flores yang diputar 😀 . Kayaknya meski bukan tipe mabuk darat, kalau nyobain naik bis rute ini bakalan mabuk ya Haha *lidia

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Desember 2, 2016

      Hahaha, browsing via youtube saja dulu 😀

      Sering-sering ngobrol, konsumsi buah segar, dan menikmati pemandangan bisa jadi senjata ampuh kok. Haha

      Suka

  24. Endah Kurnia Wirawati · November 29, 2016

    Wahhh sepertinya seru sekali perjalanan darat disana..
    kapan2 harus dijabanin nih kesananya..

    Disukai oleh 1 orang

  25. @eviindrawanto · November 30, 2016

    Perjalanan melintasi dataran Flores yang penuh gizi Mas Rifqy. Selain mendapat pemandangan indah juga cerita manusia di perjalanan. Bisa membayangkan penderitaan si bapak dan ibu yang mabuk darat itu. Pasti menyiksa banget untuk mereka ya 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Desember 2, 2016

      Iya Bu Evi, tapi begitulah risiko pilihan perjalanan yang cukup ekonomis. Tapi setidaknya, jauh lebih nyaman daripada naik bus, hehe.

      Suka

  26. ghozaliq · November 30, 2016

    Gemu Fa Mi Re , jadi inget lagu wajib buat senam minggu pagi di asrama dulu, 😀

    Perjalanannya seru mas, yang jelas walau jalannya berkelok, tetap anti minum antimo ya mas 😀
    Tahun depan sepertinya bisa kesampaian keinginan saya untuk menjejakkan langkah di NTT.

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Desember 2, 2016

      Antimo saya cuma air mineral dan menikmati perjalanan hahaha. Iya lagunya buat senam poco-poco juga cocok 😀

      Waaaaah, ditunggu ceritanya, Mas! 🙂

      Suka

  27. muti mimut · Desember 1, 2016

    Medan perjalanannya berat yaa, banyak titik rawan longsor sehingga harus ekstra waspada saat membawa kendaraan

    Disukai oleh 1 orang

  28. cumilebay.com · Desember 4, 2016

    Kalo gw ngak sanggup di sebelah orang muntah, pasti kejadian ikutan muntah

    Disukai oleh 1 orang

  29. Elisabeth Murni · Desember 6, 2016

    Baca ceritanya aja udah capek dan ngos-ngosan, apalagi ngalamin sendiri. Sama kayak Maz Cum, saya juga sering nggak kuat kalau orang di sebelah muntah, mending langsung menyingkir daripada ketularan ahahahaha.

    Disukai oleh 1 orang

  30. bersapedahan · Desember 10, 2016

    wah perjalanan yang seru … kalau yang ga kuat naik kendaraan lama … bisa kacau .. hehehe .. bukan muntah lagi .. pingsan

    Disukai oleh 1 orang

  31. rivai hidayat · Desember 12, 2016

    jadi kebawa suasana setelah baca tulisan ini.
    semoga bisa nyusul ke flores juga…menikmati 420Km dg jalan apa adanya 😀

    Disukai oleh 1 orang

  32. adelinatampubolon · Desember 21, 2016

    Serasa ikutan numpang didalam bis. Merasakan perjalanan yang cukup jauh dan kondisi jalan yang tidak rata. Menikmati percakapan kalian didalam bis, lucu juga yach si om Sim nya.

    Suka

  33. Dee Rahma · Desember 25, 2016

    Belom pernah ke Flores. Ajak aku, Kak!!!!

    Suka

  34. purnomo · April 19, 2017

    mengingatkan saya perjalanan naik motor ruteng-kelimutu,dan sebaliknya.. memang flores lukisan tangan Tuhan. luar biasa.. bikin kangen

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · April 24, 2017

      Waaah saya juga impian banget touring motor lintas Flores. Memang betul, keindahan alamnya luar biasa 🙂

      Suka

  35. Tuteh · Maret 26, 2018

    Suka tulisan ini hahaha. Sayang ya tidak bertemu di Ende. Sudah rasakan ganasnya trans Flores, sudah keren hahahaha. Thats why saya selalu pakai Sepeda motor ke mana mana karena saya mabukan …
    Btw sopirnya keren ya koleksi lagunya. Kalau dapat sopir lain… Mariam Belina dan Pance Pondaag from naik to turun. Qiqiqiqiqi.

    Disukai oleh 1 orang

    • Rifqy Faiza Rahman · Maret 27, 2018

      Halo mbak Tuteh! Makasih ya sudah mampir di blog ini 😊

      Aha iyaa, saat itu waktunya terbatas sekali. Semoga kapan-kapan kita bisa bersilaturahim ya mbak. Aamiin.

      Ahaha, saya juga penasaran pengin motoran di Trans Flores yang ganas 😂

      Iya, jadi saya masih bisa ngikutin nyanyi wkwk. Kalau Mariam Belina dan Pance Pondaag entahlah wkwk

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.